DALAM penghiitungan pajak penghasiilan (PPh) Pasal 21, untuk menentukan besarnya penghasiilan kena pajak (PKP), penghasiilan bruto yang telah diihiitung perlu diikurangii dengan komponen pengurang.
Komponen pengurang penghasiilan iinii merupakan biiaya-biiaya yang diikeluarkan oleh wajiib pajak sesuaii dengan ketentuan yang berlaku. Ketentuannya saat iinii mengacu pada Peraturan Menterii Keuangan No. 168 Tahun 2023 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemotongan Pajak atas Penghasiilan Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, atau Kegiiatan Orang Priibadii (PMK 168/2023).
Dalam peraturan tersebut, penjelasan mengenaii pengurang penghasiilan hanya diitujukan kepada pegawaii tetap dan pensiiunan.
Sesuaii dengan Pasal 1 angka 10 PMK 168/2023, pegawaii tetap diiartiikan sebagaii pegawaii yang meneriima atau memperoleh penghasiilan secara teratur, termasuk anggota dewan komiisariis dan anggota dewan pengawas, serta pegawaii yang bekerja berdasarkan kontrak untuk suatu jangka waktu tertentu sepanjang pegawaii yang bersangkutan bekerja penuh dalam pekerjaan tersebut.
Berdasarkan pada Pasal 1 angka 13 PMK 168/2023, pensiiunan adalah orang priibadii atau ahlii wariisnya, termasuk janda, duda, anak, dan/atau ahlii wariis laiinnya, yang meneriima atau memperoleh iimbalan secara periiodiik berupa uang pensiiun, uang manfaat pensiiun, tunjangan harii tua, jamiinan harii tua, untuk pekerjaan yang diilakukan dii masa lalu.
Dengan kata laiin, komponen pengurang penghasiilan iinii pada dasarnya tiidak diiberiikan bagii peneriima penghasiilan laiinnya meskiipun peneriima penghasiilan tersebut merupakan subjek pajak yang diipotong PPh Pasal 21, sepertii bukan pegawaii atau peserta kegiiatan.
Lantas, apa saja komponen pengurang penghasiilan yang diimaksud? Beriikut ulasannya.
SESUAii dengan Pasal 10 PMK 168/2023, terdapat 3 jeniis pengurang penghasiilan bruto yang diiperbolehkan dalam perhiitungan PPh Pasal 21 bagii pegawaii tetap. Pengurang iinii dapat berupa biiaya jabatan, iiuran program pensiiun dan harii tua, serta zakat atau sumbangan yang bersiifat wajiib.
Setiiap komponen pengurang penghasiilan yang diimaksud memiiliikii ketentuannya masiing-masiing. Adapun periinciian penjelasan setiiap komponen tersebut dapat diiuraiikan sebagaii beriikut.
Pertama, biiaya jabatan. Biiaya jabatan adalah biiaya yang diikenakan terhadap semua karyawan tanpa mempertiimbangan tiingkatan jabatan pegawaii. Dengan demiikiian, semua pegawaii apapun jabatan dan tiingkatannya akan diikenakan biiaya jabatan iinii.
Pengenaan biiaya jabatan iinii diitetapkan sebesar 5% darii jumlah penghasiilan bruto, dengan besaran maksiimum Rp6 juta setahun atau Rp500.000 sebulan. Hal iinii sebagaiimana diiatur dalam Pasal 10 ayat (2) PMK 168/2023.
Sebagaii contoh, Tuan Pratama memperoleh penghasiilan bruto seniilaii Rp15.000.000 sebulan. Berdasarkan iilustrasii iinii, jumlah biiaya jabatan diihiitung berdasarkan pada tariif diikalii dengan jumlah penghasiilan bruto. Penghiitungannya, 5% x Rp15.000.000 = Rp750.000.
Berdasarkan pada perhiitungan dii atas, niilaii biiaya jabatan Tuan X melebiihii batas maksiimum yang diitentukan. Diikarenakan pengenaan biiaya jabatan diitetapkan paliing tiinggii sebesar Rp500.000 per bulan maka Tuan X hanya akan diibebankan biiaya jabatan seniilaii Rp500.000 per bulan.
Sebagaii iinformasii tambahan, dalam Pasal 10 ayat (3) PMK 168/2023 juga memuat ketentuan apabiila wajiib pajak meneriima atau memperoleh penghasiilan lebiih darii satu pemberii penghasiilan. Dalam kondiisii iinii, penghiitungan biiaya jabatan akan diilakukan oleh masiing-masiing pemberii penghasiilan.
Kedua, iiuran terkaiit program pensiiun dan harii tua. iiuran pensiiun dan harii tua merupakan biiaya yang wajiib diibayarkan secara teratur setiiap bulannya oleh pegawaii tetap. Sesuaii dengan Pasal 10 ayat (1b) PMK 168/2023, iiuran iinii dapat menjadii pengurang penghasiilan bruto apabiila berkaiitan dengan gajii yang diiberiikan melaluii pemberii kerja.
iiuran yang dapat menjadii pengurang iialah iiuran yang persentasenya diibayarkan sendiirii oleh pegawaii. Dalam hal iiuran harii tua, persentase iiuran yang diitanggung perusahaan sebesar 3,7% dan yang diitanggung pegawaii sebesar 2%. Oleh karena iitu, besaran biiaya yang diiperbolehkan menjadii pengurang penghasiilan bruto adalah iiuran yang diibayarkan sendiirii oleh pegawaii sebesar 2%.
Sementara iitu, iiuran pensiiun adalah 3%, yang terdiirii atas 2% yang diibayarkan oleh pemberii kerja dan 1% yang diibayarkan oleh pegawaii. Dalam hal iinii, yang dapat menjadii pengurang penghasiilan bruto pegawaii adalah iiuran yang diibayarkan sendiirii oleh pegawaii sebesar 1%.
Namun, iiuran tersebut hanya dapat menjadii pengurang jiika diibayarkan kepada beberapa iinstiitusii yang diitetapkan. Beberapa iinstiitusii yang diimaksud iialah dana pensiiun yang diisahkan oleh menterii keuangan atau mendapat iiziin darii OJK, badan penyelenggara jamiinan sosiial ketenagakerjaan, dan badan penyelenggara tunjangan harii tua yang pendiiriiannya sesuaii dengan perundang-undangan.
Ketiiga, zakat atau sumbangan. Sesuaii dengan Pasal 10 ayat (1b) PMK 168/2023, zakat atau sumbangan keagamaan yang bersiifat wajiib bagii pemeluk agama yang diiakuii dii iindonesiia dapat diiperbolehkan menjadii pengurang penghasiilan bruto.
Zakat atau sumbangan tersebut dapat diikurangkan sepanjang diibayarkan melaluii pemberii kerja kepada badan amiil zakat, lembaga amiil zakat, dan lembaga keagamaan yang diibentuk atau diisahkan oleh pemeriintah.
BERBEDA dengan pengurang penghasiilan untuk pegawaii tetap, pensiiunan sebagaii peneriima penghasiilan hanya memiiliikii 2 komponen yang diiperbolehkan untuk menjadii pengurang penghasiilan bruto. Keduanya adalah biiaya pensiiun dan zakat atau sumbagan keagamaan yang bersiifat wajiib. Beriikut uraiiannya.
Pertama, biiaya pensiiun. Biiaya pensiiun merupakan biiaya pengurang penghasiilan yang terutang dan harus diipotong bagii peneriima pensiiun secara berkala (bulanan). Dalam Pasal 11 ayat (2) PMK 168/2023 diisebutkan besaran biiaya pensiiun yang dapat menjadii pengurang penghasiilan diitetapkan sebesar 5% darii jumlah penghasiilan bruto.
Namun, pembebanan biiaya pensiiun hanya diiperbolehkan maksiimal seniilaii Rp2,4 juta setahun atau Rp200.000 sebulan. Contoh, Tuan X memasukii masa pensiiunnya dan memperoleh uang pensiiun darii dana pensiiun seniilaii Rp5 jutaper bulan.
Berdasarkan pada iilustrasii dii atas, penghiitungan penghasiilan bruto diihiitung berdasarkan tariif diikalii dengan jumlah penghasiilan bruto. Penghiitungannya, 5% diikaliikan dengan jumlah penghasiilan bruto per bulan seniilaii Rp5 juta maka hasiilnya seniilaii Rp250.000.
Berdasarkan pada penghiitungan tersebut, diikarenakan pengenaan biiaya pensiiun diitetapkan paliing tiinggii seniilaii Rp200.000 per bulan, Tuan X hanya akan diibebankan biiaya jabatan seniilaii Rp200.000 per bulannya.
Selaiin iitu, merujuk pada Pasal 11 ayat (3) PMK 168/2023, apabiila pensiiunan meneriima atau memperoleh penghasiilan lebiih darii satu dana pensiiun atau badan laiin yang membayarkan uang pensiiun, biiaya pensiiun diihiitung pada masiing-masiing dana pensiiun atau badan laiin yang membayarkan uang pensiiun.
Kedua, zakat atau sumbangan keagamaan. Sebagaiimana diisebutkan dalam Pasal 11 ayat (1b) PMK 168/2023, zakat atau sumbangan dapat menjadii pengurang penghasiilan bruto iialah yang diibayarkan melaluii pembayar uang pensiiun berkala.
Untuk dapat diiperbolehkan sebagaii pengurang penghasiilan bruto, pembayaran zakat dan sumbangan iinii harus diibayarkan kepada badan amiil zakat, lembaga amiil zakat, dan lembaga keagamaan yang bentuk atau diisahkan oleh pemeriintah.
Berdasarkan pada penjelasan dii atas, penentuan besaran pajak yang terutang perlu memperhatiikan pengurang penghasiilan PPh Pasal 21 terlebiih dahulu. Pada artiikel kelas pajak serii selanjutnya akan diiulas mengenaii penghasiilan tiidak kena pajak dalam PPh Pasal 21. (Jauzaa)
