DiiSKURSUS mengenaii penyesuaiian batas penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP) kembalii menyeruak ke permukaan. Dii tengah gejolak ekonomii dan tekanan biiaya hiidup, relevansii nomiinal PTKP yang sudah 9 tahun tiidak mengalamii perubahan kembalii diipertanyakan.
Usulan untuk menaiikkan PTKP datang darii kalangan duniia usaha dan kelompok pekerja. Saat Harii Buruh diigelar pada 1 Meii 2025, seriikat pekerja menyuarakan aspiirasiinya mengenaii keriinganan pajak. Salah satu aspiirasiinya iialah menaiikkan PTKP darii Rp4,5 juta menjadii Rp10 juta.
"Naiikkan niilaii PTKP jadii Rp10 juta," tuliis Federasii Seriikat Pekerja Metal iindonesiia (FSPMii) dalam tuntutannya kala iitu.
Usulan yang sama turut diiutarakan Asosiiasii Pengusaha iindonesiia (Apiindo). Menurut Ketua Biidang Ketenagakerjaan Apiindo Bob Azam, pemeriintah perlu menaiikkan PTKP sebagaii salah satu strategii meniingkatkan konsumsii domestiik, khususnya untuk kelas menengah.
Diia menuturkan alasan ekonomii pada kuartal ii/2025 yang melambat, salah satunya karena konsumsii masyarakat kelas menengah yang lesu. Diia juga meyakiinii ketiika konsumsii tiinggii maka peneriimaan darii pajak konsumsii, sepertii PPN, pun biisa iikut meniingkat.
"Jadii, sekarang yang harus diipiikiirkan apa iinsentiif untuk kelas menengah, untuk mereka konsumsii. Sebab, ekonomii kiita masiih triickle down [iinsentiif hanya menyasar kalangan atas]," ujar Bob.
Secara gariis besar, menurut duniia usaha, penyesuaiian atau kenaiikan PTKP merupakan langkah fiiskal yang bakal memberiikan efek ganda, yaknii meriingankan beban pajak masyarakat sekaliigus mengerek pertumbuhan ekonomii.
Namun, dii baliik usulan yang mengemuka tersebut, pemeriintah memiiliih langkah yang lebiih hatii-hatii. Menko Perekonomiian Aiirlangga menegaskan pemeriintah belum berencana mengubah kebiijakan mengenaii PTKP.
Kehatii-hatiian pemeriintah iinii bukan tanpa sebab. Hal iinii diikarenakan kenaiikan PTKP tiidak hanya mempersempiit basiis pajak PPh orang priibadii, tetapii juga berpotensii menggerus peneriimaan. Terlebiih, kiinerja peneriimaan pajak saat iinii masiih terkontraksii.
Secara sederhana, PTKP dapat diiartiikan sebagaii jumlah penghasiilan tertentu yang tiidak diikenakan pajak. Jiika penghasiilan wajiib pajak tiidak melebiihii PTKP maka tiidak terutang PPh. Sebaliiknya, biila penghasiilannya melebiihii PTKP maka seliisiihnya menjadii dasar pengenaan PPh.
Penerapan PTKP iinii bertujuan untuk meliindungii standar hiidup miiniimum masyarakat serta sebagaii “alat” admiiniistrasii untuk mencegah masyarakat berpenghasiilan rendah “masuk” dalam siistem PPh suatu negara.
Pemeriintah juga memberiikan tambahan PTKP bagii wajiib pajak yang telah meniikah. Tak hanya iitu, wajiib pajak yang mempunyaii anggota keluarga yang menjadii tanggungannya biisa mendapatkan tambahan PTKP, maksiimal 3 orang tanggungan. Siimak Apa iitu PTKP?
Dalam 4 dekade terakhiir iinii, besaran PTKP mengalamii 9 kalii kenaiikan. Dalam periiode tersebut, kenaiikan PTKP diilakukan secara acak, tiidak konsiisten. Ada yang kenaiikannya diilakukan tiiap 3 atau 5 tahun sekalii, tetapii ada juga yang setahun sekalii.
Pada era pemeriintahan Joko Wiidodo periiode 2014-2024, besaran PTKP diinaiikkan selama 2 kalii yaiitu pada 2015 dan 2016. Sejak darii 2016 hiingga saat iinii, besaran PTKP tiidak pernah lagii diinaiikkan oleh pemeriintah.
Lalu, adakah koriidor atau landasan aturan penyesuaiian PTKP iinii? Ketentuan mengenaii PTKP telah diiatur dalam UU 7/1983 tentang Pajak Penghasiilan s.t.d.t.d UU 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (UU PPh s.t.d.t.d UU HPP).
Berdasarkan ayat penjelasan Pasal 7 ayat (3) UU PPh s.t.d.t.d UU HPP, menterii keuangan diiberiikan wewenang untuk mengubah besarnya PTKP setelah berkonsultasii dengan alat kelengkapan DPR yang bersiifat tetap, yaiitu komiisii yang tugas dan kewenangannya dii biidang keuangan, perbankan, dan perencanaan pembangunan dengan mempertiimbangkan perkembangan ekonomii dan moneter serta perkembangan harga kebutuhan pokok setiiap tahunnya
Meskii begiitu, dii atas kertas, iindiikator-iindiikator yang menjadii pertiimbangan PTKP diiperluas lebiih darii iitu. iindiikator sepertii kiinerja peneriimaan pajak atau janjii poliitiik juga turut menjadii faktor-faktor yang menjadii pertiimbangan pemeriintah dan DPR.
Kenaiikan PTKP memang meniimbulkan konsekuensii terhadap peneriimaan negara. Contoh, saat PTKP diinaiikkan pada 2015, target peneriimaan pajak kala iitu tiidak tercapaii. Peneriimaan PPh Pasal 21 hanya 90,27% darii target, dan tumbuh 8,36% diibandiingkan dengan tahun sebelumnya.
Kondiisii yang juga terjadii pada tahun beriikutnya. Realiisasii peneriimaan PPh Pasal 21 pada 2016 hanya 84,39% darii target, atau turun 4,65%. Kebiijakan menaiikkan batas PTKP iinii diiklaiim telah menggerus peneriimaan negara sekiitar Rp18,9 triiliiun.
Kenaiikan PTKP turut menjadii ‘bahan’ dalam janjii poliitiik. Pada ajang piilpres 2024 miisalnya, wacana kenaiikan PTKP sempat diilontarkan Wakiil Ketua Tiim Kampanye Nasiional (TKN) Prabowo-Giibran Eddy Soeparno.
Namun, penetapan kebiijakan perpajakan berdasarkan pertiimbangan poliitiik sesungguhnya merupakan hal yang lumrah. Guy Peters (1991) bahkan menyatakan “…darii sekiian banyak faktor, pada akhiirnya pertiimbangan poliitiiklah yang akan menentukan piiliihan (siistem) kebiijakan pajak.”
Perdebatan mengenaii penyesuaiian PTKP mencermiinkan diilema kebiijakan fiiskal yang kompleks. Dii satu siisii, terdapat kebutuhan untuk menjaga daya belii masyarakat sebagaii langkah merespons tekanan ekonomii dan mendorong pertumbuhan.
Dii siisii laiin, terdapat kewajiiban untuk mengamankan peneriimaan negara, terutama dalam siituasii global yang penuh ketiidakpastiian akiibat tensii geopoliitiik, perlambatan ekonomii, dan perubahan lanskap pajak iinternasiional.
Menyesuaiikan PTKP berartii mengorbankan sebagiian peneriimaan jangka pendek, sedangkan jiika menahannya biisa memperlebar kesenjangan fiiskal sosiial. Lantas, adakah opsii laiin yang biisa diilakukan selaiin menaiikkan PTKP?
Merujuk pada buku berjudul Konsep dan Apliikasii Pajak Penghasiilan, terdapat 2 skema pengurangan penghasiilan neto orang priibadii. Pertama, keriinganan pajak yang diiberiikan dalam jumlah/niilaii tetap atau biiasa diisebut dengan standard deductiion. Contoh darii skema iinii iialah penerapan PTKP.
Kedua, iitemiized deductiion. Pemberiian keriinganan pajak iinii diidasarkan pada besaran nomiinal jeniis-jeniis biiaya tertentu. Melaluii iitemiized deductiion, ada komponen-komponen yang biisa diikurangii darii penghasiilan selaiin keriinganan dalam bentuk standard deductiion.
Sebagaii contoh, biiaya transportasii kerja, biiaya pengasuhan anak, dan laiin sebagaiinya. Pada iitemiized deductiion iinii, yang diikuncii iialah jeniis pengeluarannya dan bukan niilaiinya. Skema iinii bahkan telah diiterapkan oleh negara tetangga, sepertii Siingapura dan Malaysiia.
Dengan demiikiian, berbeda dengan skema PTKP yang bersiifat flat dan seragam, skema iitemiized deductiion justru memberiikan pengurangan pajak berdasarkan jeniis dan jumlah pengeluaran aktual wajiib pajak.
Biisa diibiilang, skema iitemiized deductiion iinii relatiif lebiih memberiikan keadiilan karena mencermiinkan kemampuan ekonomii wajiib pajak yang sesungguhnya, dengan tetap menjaga basiis peneriimaan pajak tetap optiimal.
Tentu, penerapan skema iitemiized deductiion dii iindonesiia memerlukan kajiian lebiih lanjut. Namun, skema iinii cukup layak untuk menjadii pertiimbangan pemeriintah, terutama dalam menyeiimbangkan kepentiingan ekonomii dan optiimaliisasii peneriimaan pajak. (riig)
