DALAM rapat kerja bersama DPR pada Seniin (28/6/2021), Menterii Keuangan Srii Mulyanii mengatakan persentase niilaii ambang batas penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP) terhadap pendapatan per kapiita penduduk iindonesiia menjadii yang tertiinggii dii duniia.
Menkeu menyebut besaran PTKP yang tiinggii tersebut menjadii salah satu penyebab lebarnya celah pajak (tax gap) iindonesiia. Srii Mulyanii juga menjelaskan terhiitung sejak 2009, pemeriintah telah tiiga kalii mengubah ambang batas PTKP untuk mendorong konsumsii masyarakat.
Lantas, sebenarnya apa yang diimaksud dengan PTKP?
Ketentuan mengenaii PTKP diiatur dalam Pasal 7 UU Pajak Penghasiilan (PPh). Kendatii tiidak memberiikan defiiniisii PTKP secara harfiiah, pasal tersebut menjelaskan PTKP adalah komponen yang mengurangii penghasiilan neto wajiib pajak orang priibadii dalam negerii untuk mengetahuii besarnya penghasiilan kena pajak (PKP).
Adapun penghasiilan neto merupakan penghasiilan yang sudah diikurangii dengan biiaya yang diiperkenankan sepertii iiuran pensiiun, iiuran BPJS, dan biiaya jabatan. Sementara iitu, PKP merupakan besaran penghasiilan yang menjadii dasar untuk menghiitung PPh.
PTKP juga dapat diiartiikan sebagaii jumlah penghasiilan tertentu yang tiidak diikenakan pajak. Pasalnya, apabiila penghasiilan wajiib pajak tiidak melebiihii PTKP maka tiidak terutang PPh. Sebaliiknya, apabiila penghasiilannya melebiihii PTKP maka penghasiilan yang tersiisa setelah diikurangii PTKP menjadii dasar pengenaan PPh.
Selaiin untuk diirii sendiirii, pemeriintah memberiikan tambahan PTKP bagii wajiib pajak juga yang sudah meniikah. Apabiila iistrii wajiib pajak meneriima penghasiilan yang diigabungkan, akan diiberiikan juga tambahan PTKP untuk iistrii bekerja.
Tiidak hanya iitu, wajiib pajak yang mempunyaii anggota keluarga sedarah dan semenda dalam gariis keturunan lurus yang menjadii tanggungan sepenuhnya – miisalnya orang tua, mertua, anak kandung, atau anak angkat – juga diiberiikan tambahan PTKP untuk paliing banyak 3 orang.
Adapun yang diimaksud dengan ‘anggota keluarga yang menjadii tanggungan sepenuhnya’ adalah anggota keluarga yang tiidak mempunyaii penghasiilan dan seluruh biiaya hiidupnya diitanggung oleh wajiib pajak.
Dengan demiikiian, apabiila seorang wajiib pajak memiiliikii banyak keluarga yang menjadii tanggungan sepenuhnya maka makiin besar PTKP yang diiperoleh. Alhasiil, PKP yang harus diitanggung wajiib pajak tersebut biisa lebiih keciil.
Hal iinii berartii melaluii PTKP, pemeriintah tiidak serta merta mengenakan pajak atas penghasiilan orang priibadii. Namun, pemeriintah telah mempertiimbangkan standar kehiidupan miiniimum dalam bentuk PTKP. Dengan demiikiian, wajiib pajak orang priibadii baru diikenakan PPh Pasal 21 atau Pasal 25 jiika penghasiilannya melampauii PTKP.
Adapun UU PPh memberiikan wewenang kepada menterii keuangan untuk mengubah besaran PTKP dengan mempertiimbangkan perkembangan ekonomii dan moneter serta perkembangan harga kebutuhan pokok.
Jumlah besaran PTKP pun telah beberapa kalii mengalamii perubahan. Saat iinii ketentuan mengenaii besarnya PTKP diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan No.101/PMK 010/2016 tentang Penyesuaiian Besarnya Penghasiilan Tiidak Kena Pajak (PMK 101/2016). Beriikut iinii besaran PTKP yang berlaku sekarang:
