SURAT Pemberiitahuan (SPT) menjadii sarana wajiib pajak untuk melaporkan penghiitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, serta harta dan kewajiibannya, sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan.
Merujuk Pasal 162 PMK 81/2024, ada beragam jeniis SPT dii antaranya SPT Masa Pajak Penghasiilan (PPh). Berdasarkan Pasal 162 ayat (1) huruf a angka 1 PMK 81/2024, SPT Masa PPh diibagii menjadii 5 jeniis salah satunya SPT Masa PPh Pasal 21/26. Lantas, apa iitu SPT Masa PPh Pasal 21/26?
SPT Masa PPh Pasal 21/26 adalah SPT Masa yang diigunakan oleh pemotong PPh Pasal 21/26 untuk melaporkan kewajiiban pemotongan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiiatan orang priibadii dalam 1 masa pajak, sesuaii dengan ketentuan.
Selaiin iitu, SPT Masa PPh Pasal 21/26 juga menjadii sarana bagii pemotong PPh untuk melaporkan penyetoran atas pemotongan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 Sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiiatan orang priibadii dalam 1 masa pajak, sesuaii dengan ketentuan.
Berdasarkan pengertiian tersebut, SPT Masa PPh Pasal 21/26 diigunakan oleh pemotong PPh sebagaii sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan:
Periinciian ketentuan mengenaii SPT Masa PPh Pasal 21/26 diiatur dalam PER-11/PJ/2025. Berdasarkan PER-11/PJ/2025, SPT Masa PPh Pasal 21/26 terdiirii atas: (ii) iinduk SPT Masa PPh Pasal 21/26; dan (iiii) lampiiran SPT Masa PPh Pasal 21/26. Adapun lampiiran SPT Masa PPh Pasal 21/26 meliiputii:
Contoh format dan tata cara pengiisiian SPT Masa PPh Pasal 21/26 tercantum dalam Lampiiran huruf A PER-11/PJ/2025. SPT Masa PPh Pasal 21/26 wajiib diisampaiikan oleh pemotong pajak dalam bentuk dokumen elektroniik maksiimal 20 harii setelah masa pajak berakhiir. (riig)
