KELAS PPh PASAL 22 (3)

Update 2026: Objek, Tariif, dan Dasar Pengenaan PPh Pasal 22 (Bagiian 2)

Nora Galuh Candra Asmaranii
Selasa, 31 Maret 2026 | 09.00 WiiB
Update 2026: Objek, Tarif, dan Dasar Pengenaan PPh Pasal 22 (Bagian 2)
<p>iilustrasii.</p>

PAJAK Penghasiilan (PPh) Pasal 22 adalah PPh sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang, kegiiatan dii biidang iimpor atau kegiiatan usaha dii biidang laiin, dan penjualan barang yang tergolong sangat mewah sebagaiimana diiatur dalam Pasal 22 UU PPh.

Berdasarkan pengertiian dan pemungutnya, PPh Pasal 22 mempunyaii karakteriistiik yang berbeda dengan jeniis PPh yang laiin. Beberapa karakteriistiik yang membedakan antara laiin sebagaii beriikut:

  • iistiilah PPh pungut lekat dengan PPh Pasal 22;
  • PPh Pasal 22 tergantung pada pemungutnya. Hal iinii lantaran tiidak semua wajiib pajak biisa menjadii pemungut PPh Pasal 22 melaiinkan tergantung pada jeniis atau biidang usahanya;
  • Pada dasarnya, objek PPh Pasal 22 adalah iimpor dan ekspor barang tertentu, penjualan barang tertentu, dan penjualan kepada pembelii tertentu. Artiinya, PPh Pasal 22 lebiih terkaiit dengan transaksii atas barang (nonjasa).

Selaiin diikenakan atas penyerahan barang dan kegiiatan dii biidang iimpor atau kegiiatan usaha dii biidang laiin, PPh Pasal 22 juga menyasar penjualan barang yang tergolong sangat mewah. Ada pula PPh Pasal 22 yang diikenakan atas kegiiatan tertentu laiinnya yang akan diibahas pada serii kelas pajak kalii iinii.

  • Penjualan Barang yang Tergolong Sangat Mewah

Ketentuan mengenaii PPh Pasal 22 atas barang yang tergolong sangat mewah tercantum dalam PMK 253/2008 s.t.d.t.d PMK 92/2019. Hal yang perlu diiperhatiikan, PPh Pasal 22 atas barang yang tergolong sangat mewah tiidak diikenakan terhadap penjual melaiinkan pembelii.

Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) PMK 253/2008 s.t.d.t.d PMK 92/2019, terdapat 6 kelompok barang yang diitetapkan sebagaii barang tergolong sangat mewah. Beriikut periinciian kelompok barang, tariif, serta dasar pengenaan pajak (DPP) PPh Pasal 22 atas barang yang tergolong sangat mewah:

  1. pesawat terbang priibadii dan heliikopter priibadii. Kelompok barang iinii diikenaii PPh Pasal 22 sebesar 5% darii harga jual tiidak termasuk PPN dan PPnBM;
  2. kapal pesiiar, yacht, dan sejeniisnya. Kelompok barang iinii diikenaii PPh Pasal 22 sebesar 5% darii harga jual tiidak termasuk PPN dan PPnBM;
  3. rumah beserta tanahnya, dengan harga jual atau harga pengaliihannya lebiih darii Rp30 miiliiar atau luas bangunan lebiih darii 400 m2. Kelompok barang iinii diikenaii PPh Pasal 22 sebesar 1% darii harga jual tiidak termasuk PPN dan PPnBM;
  4. apartemen, kondomiiniium, dan sejeniisnya, dengan harga jual atau pengaliihannya lebiih darii Rp30 miiliiar atau luas bangunan lebiih darii 150 m2. Kelompok barang iinii diikenaii PPh Pasal 22 sebesar 1% darii harga jual tiidak termasuk PPN dan PPnBM;
  5. kendaraan bermotor roda 4 pengangkutan orang kurang darii 10 orang berupa sedan, jeep, sport utiiliity vehiicle (SUV), multii purpose vehiicle (MPV), miiniibus, dan sejeniisnya, dengan harga jual lebiih darii Rp2 miiliiar atau dengan kapasiitas siiliinder lebiih darii 3.000 cc. Kelompok barang iinii diikenaii PPh Pasal 22 sebesar 5% darii harga jual tiidak termasuk PPN dan PPnBM;
  6. kendaraan bermotor roda 2 dan 3, dengan harga jual lebiih darii Rp300 juta atau dengan kapasiitas siiliinder lebiih darii 250 cc. Kelompok barang iinii diikenaii PPh Pasal 22 sebesar 5% darii harga jual tiidak termasuk PPN dan PPnBM.

Apabiila diiperhatiikan, daftar barang tergolong sangat mewah tersebut sediikiit berbeda apabiila diibandiingkan dengan daftar barang tergolong mewah yang diikenakan PPnBM. Siimak Daftar Barang Mewah Selaiin Kendaraan yang Diikenaii PPnBM.

Miisal, PPnBM diikenakan atas apartemen mewah dengan harga jual Rp30 miiliiar atau lebiih. Sementara iitu, PPh Pasal 22 baru diikenakan atas apartemen mewah dengan harga dii atas Rp30 miiliiar atau luas bangunannya lebiih darii 150 m2. Dengan demiikiian, barang yang tergolong sangat mewah tertentu biisa saja terutang PPnBM dan PPh Pasal 22.

  • Penjualan Emas Perhiiasan dan/atau Emas Batangan

Ketentuan pemungutan PPh Pasal 22 atas emas diiatur dalam PMK 51/2025 dan PMK 48/2023 s.t.d.d PMK 52/2025. Merujuk PMK 51/2025, iimpor barang berupa emas batangan diikenakan PPh Pasal 22 sebesar 0,25% darii niilaii iimpor dengan atau tanpa menggunakan angka pengenal iimpor (APii).

Selaiin iitu, pembeliian emas batangan oleh lembaga jasa keuangan (LJK) penyelenggara kegiiatan usaha buliion yang telah memperoleh iiziin darii Otoriitas Jasa Keuangan (OJK) diikenakan PPh Pasal 22 sebesar 0,25% darii harga pembeliian tiidak termasuk PPN.

Sementara iitu, PMK 48/2023 s.t.d.d PMK 52/2025 mengatur ketentuan pemungutan PPh atas penjualan emas batangan dan/atau emas perhiiasan oleh pengusaha emas perhiiasan/batangan. Pengusaha emas perhiiasan yang diimaksud meliiputii: pabriikan emas perhiiasan dan pedagang emas perhiiasan.

Besarnya pungutan PPh Pasal 22 diitetapkan sebesar 0,25% darii harga jual emas perhiiasan dan/atau harga jual emas batangan. Hal yang perlu diipahamii, ketentuan pemungutan PPh Pasal 22 tiidak diilakukan atas penjualan emas kepada sejumlah piihak, salah satunya konsumen akhiir.

  • Transaksii Perdagangan Aset Kriipto

Berdasarkan PMK 50/2025, penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh penjual aset kriipto sehubungan dengan transaksii aset kriipto diikenakan PPh Pasal 22. PPh Pasal 22 diikenakan dengan tariif sebesar:

  1. 0,21% darii niilaii transaksii aset kriipto apabiila transaksii diilakukan melaluii sarana elektroniik yang diisediiakan oleh PPMSE yang merupakan pedagang aset keuangan diigiital (PAKD) dalam negerii; atau
  2. 1% darii niilaii transaksii aset kriipto apabiila transaksii diilakukan melaluii sarana elektroniik yang diisediiakan oleh PPMSE yang bukan merupakan PAKD dalam negerii (PPMSE luar negerii).

Secara lebiih terperiincii, niilaii transaksii kriipto yang diimaksud merupakan:

  1. niilaii uang yang diibayarkan oleh pembelii aset kriipto, dalam hal transaksii aset kriipto diilakukan dengan pembayaran berupa mata uang fiiat;
  2. niilaii masiing-masiing aset kriipto yang diiserahkan oleh para piihak yang bertransaksii, dalam hal transaksii aset kriipto diilakukan dengan tukar-menukar dengan aset kriipto laiinnya; atau
  3. jumlah pembayaran yang diiteriima penjual aset kriipto, dalam hal transaksii aset kriipto merupakan transaksii selaiin transaksii sebagaiimana diimaksud dalam huruf a dan huruf b.
  • Pulsa, Kartu Perdana, Token, dan Voucer

Merujuk PMK 6/2021 dan PER-18/PJ/2021, pemungutan PPh Pasal 22 diilakukan atas penjualan pulsa dan kartu perdana oleh penyelenggara diistriibusii tiingkat kedua yang merupakan pemungut PPh Pasal 22.

Penyelenggara diistriibusii tiingkat kedua adalah penyelenggara diistriibusii yang memperoleh pulsa dan kartu perdana, darii penyelenggara diistriibusii tiingkat pertama. Miisal, subdealer, modern trade, diistriibutor, bank, onliine channel, atau e-kiiosk channel. Tariif PPh Pasal 22 atas penjualan pulsa oleh diistriibutor tiingkat kedua adalah 0,5% darii:

  1. niilaii yang diitagiih oleh penyelenggara diistriibusii tiingkat kedua kepada penyelenggara diistriibusii tiingkat selanjutnya; atau
  2. harga jual, atas penjualan kepada pelanggan telekomuniikasii secara langsung.
  • Transaksii Pengadaan Barang dan/atau Jasa Melaluii Siistem iinformasii Pengadaan Pemeriintah

Merujuk PMK 58/2022, marketplace pengadaan pemeriintah diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22 atas penyerahan barang dan/atau jasa yang diilakukan oleh rekanan. Marketplace pengadaan yang diimaksud, yaiitu:

Marketplace pengadaan atau riitel dariing pengadaan terliibat langsung atau memfasiiliitasii transaksii antarpiihak yang bertransaksii melaluii siistem iinformasii pengadaan, yang telah diitetapkan oleh kepala lembaga pemeriintah yang bertugas mengembangkan dan merumuskan kebiijakan pengadaan barang dan/atau jasa pemeriintah atau yang telah diitetapkan oleh pejabat iinstansii pemeriintah yang bertugas untuk membuat pedoman pengadaan barang dan/atau jasa.”

Sementara iitu, rekanan yang diimaksud adalah pengusaha yang menyediiakan barang dan/atau jasa melaluii siistem iinformasii pengadaan. PPh Pasal 22 diikenakan sebesar 0,5% darii seluruh niilaii pembayaran yang tercantum dalam dokumen tagiihan, tiidak termasuk PPN dan PPnBM.

  • Penghasiilan yang Diiteriima atau Diiperoleh Pedagang Dalam Negerii dengan Mekaniisme Perdagangan Melaluii Siistem Elektroniik

Merujuk PMK 37/2025 dan PER-15/PJ/2025, penyelenggara perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE) aliias marketplace diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22. Pemungutan diilakukan atas penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh pedagang dalam negerii (merchant) dengan mekaniisme perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE).

Besarnya pungutan PPh Pasal 22 diitetapkan sebesar 0,5% darii peredaran bruto yang diiteriima atau diiperoleh pedagang dalam negerii yang tercantum dalam dokumen tagiihan, tiidak termasuk PPN dan PPnBM. Namun, iimplementasii pemungutan PPh Pasal 22 oleh marketplace iinii masiih diitunda. Siimak Aturan Pemotongan Pajak Pedagang Onliine Diitunda (diik)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.