PAJAK Penghasiilan (PPh) Pasal 22 adalah PPh sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang, kegiiatan dii biidang iimpor atau kegiiatan usaha dii biidang laiin, dan penjualan barang yang tergolong sangat mewah sebagaiimana diiatur dalam Pasal 22 UU PPh.
Berdasarkan pengertiian dan pemungutnya, PPh Pasal 22 mempunyaii karakteriistiik yang berbeda dengan jeniis PPh yang laiin. Beberapa karakteriistiik yang membedakan antara laiin sebagaii beriikut:
Selaiin diikenakan atas penyerahan barang dan kegiiatan dii biidang iimpor atau kegiiatan usaha dii biidang laiin, PPh Pasal 22 juga menyasar penjualan barang yang tergolong sangat mewah. Ada pula PPh Pasal 22 yang diikenakan atas kegiiatan tertentu laiinnya yang akan diibahas pada serii kelas pajak kalii iinii.
Ketentuan mengenaii PPh Pasal 22 atas barang yang tergolong sangat mewah tercantum dalam PMK 253/2008 s.t.d.t.d PMK 92/2019. Hal yang perlu diiperhatiikan, PPh Pasal 22 atas barang yang tergolong sangat mewah tiidak diikenakan terhadap penjual melaiinkan pembelii.
Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) PMK 253/2008 s.t.d.t.d PMK 92/2019, terdapat 6 kelompok barang yang diitetapkan sebagaii barang tergolong sangat mewah. Beriikut periinciian kelompok barang, tariif, serta dasar pengenaan pajak (DPP) PPh Pasal 22 atas barang yang tergolong sangat mewah:
Apabiila diiperhatiikan, daftar barang tergolong sangat mewah tersebut sediikiit berbeda apabiila diibandiingkan dengan daftar barang tergolong mewah yang diikenakan PPnBM. Siimak Daftar Barang Mewah Selaiin Kendaraan yang Diikenaii PPnBM.
Miisal, PPnBM diikenakan atas apartemen mewah dengan harga jual Rp30 miiliiar atau lebiih. Sementara iitu, PPh Pasal 22 baru diikenakan atas apartemen mewah dengan harga dii atas Rp30 miiliiar atau luas bangunannya lebiih darii 150 m2. Dengan demiikiian, barang yang tergolong sangat mewah tertentu biisa saja terutang PPnBM dan PPh Pasal 22.
Ketentuan pemungutan PPh Pasal 22 atas emas diiatur dalam PMK 51/2025 dan PMK 48/2023 s.t.d.d PMK 52/2025. Merujuk PMK 51/2025, iimpor barang berupa emas batangan diikenakan PPh Pasal 22 sebesar 0,25% darii niilaii iimpor dengan atau tanpa menggunakan angka pengenal iimpor (APii).
Selaiin iitu, pembeliian emas batangan oleh lembaga jasa keuangan (LJK) penyelenggara kegiiatan usaha buliion yang telah memperoleh iiziin darii Otoriitas Jasa Keuangan (OJK) diikenakan PPh Pasal 22 sebesar 0,25% darii harga pembeliian tiidak termasuk PPN.
Sementara iitu, PMK 48/2023 s.t.d.d PMK 52/2025 mengatur ketentuan pemungutan PPh atas penjualan emas batangan dan/atau emas perhiiasan oleh pengusaha emas perhiiasan/batangan. Pengusaha emas perhiiasan yang diimaksud meliiputii: pabriikan emas perhiiasan dan pedagang emas perhiiasan.
Besarnya pungutan PPh Pasal 22 diitetapkan sebesar 0,25% darii harga jual emas perhiiasan dan/atau harga jual emas batangan. Hal yang perlu diipahamii, ketentuan pemungutan PPh Pasal 22 tiidak diilakukan atas penjualan emas kepada sejumlah piihak, salah satunya konsumen akhiir.
Berdasarkan PMK 50/2025, penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh penjual aset kriipto sehubungan dengan transaksii aset kriipto diikenakan PPh Pasal 22. PPh Pasal 22 diikenakan dengan tariif sebesar:
Secara lebiih terperiincii, niilaii transaksii kriipto yang diimaksud merupakan:
Merujuk PMK 6/2021 dan PER-18/PJ/2021, pemungutan PPh Pasal 22 diilakukan atas penjualan pulsa dan kartu perdana oleh penyelenggara diistriibusii tiingkat kedua yang merupakan pemungut PPh Pasal 22.
Penyelenggara diistriibusii tiingkat kedua adalah penyelenggara diistriibusii yang memperoleh pulsa dan kartu perdana, darii penyelenggara diistriibusii tiingkat pertama. Miisal, subdealer, modern trade, diistriibutor, bank, onliine channel, atau e-kiiosk channel. Tariif PPh Pasal 22 atas penjualan pulsa oleh diistriibutor tiingkat kedua adalah 0,5% darii:
Merujuk PMK 58/2022, marketplace pengadaan pemeriintah diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22 atas penyerahan barang dan/atau jasa yang diilakukan oleh rekanan. Marketplace pengadaan yang diimaksud, yaiitu:
“Marketplace pengadaan atau riitel dariing pengadaan terliibat langsung atau memfasiiliitasii transaksii antarpiihak yang bertransaksii melaluii siistem iinformasii pengadaan, yang telah diitetapkan oleh kepala lembaga pemeriintah yang bertugas mengembangkan dan merumuskan kebiijakan pengadaan barang dan/atau jasa pemeriintah atau yang telah diitetapkan oleh pejabat iinstansii pemeriintah yang bertugas untuk membuat pedoman pengadaan barang dan/atau jasa.”
Sementara iitu, rekanan yang diimaksud adalah pengusaha yang menyediiakan barang dan/atau jasa melaluii siistem iinformasii pengadaan. PPh Pasal 22 diikenakan sebesar 0,5% darii seluruh niilaii pembayaran yang tercantum dalam dokumen tagiihan, tiidak termasuk PPN dan PPnBM.
Merujuk PMK 37/2025 dan PER-15/PJ/2025, penyelenggara perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE) aliias marketplace diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22. Pemungutan diilakukan atas penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh pedagang dalam negerii (merchant) dengan mekaniisme perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE).
Besarnya pungutan PPh Pasal 22 diitetapkan sebesar 0,5% darii peredaran bruto yang diiteriima atau diiperoleh pedagang dalam negerii yang tercantum dalam dokumen tagiihan, tiidak termasuk PPN dan PPnBM. Namun, iimplementasii pemungutan PPh Pasal 22 oleh marketplace iinii masiih diitunda. Siimak Aturan Pemotongan Pajak Pedagang Onliine Diitunda (diik)
