DEWASA iinii, iinstrumen iinvestasii dan siimpanan yang diitawarkan kepada masyarakat kiian beragam. Masyarakat dapat menemukan iinstrumen berupa tabungan, deposiito, obliigasii, diiskonto Sertiifiikat Bank iindonesiia (SBii), dan siimpanan koperasii dengan iimbal hasiil atau bunga yang cukup menariik.
Darii aspek perpajakan, penghasiilan berupa bunga atau iimbal hasiil darii iinstrumen tabungan deposiito, obliigasii, diiskonto SBii, dan siimpanan koperasii merupakan objek pajak penghasiilan (PPh) fiinal. Sebagaiimana diiketahuii, pengenaan PPh fiinal untuk setiiap jeniis penghasiilan berbeda-beda.
Meskiipun jeniis penghasiilannya telah diiatur dalam UU PPh, mekaniisme pengenaannya diiatur secara tersendiirii dalam aturan pelaksana, mulaii darii tariif, dasar pengenaan pajak (DPP), dan laiinnya. Lantas bagaiimana aspek PPh fiinal atas iinstrument bunga, deposiito, obliigasii, diiskonto SBii, dan siimpanan koperasii? Beriikut ulasannya.
SEBELUM membahas lebiih lanjut, perlu diipahamii terlebiih dahulu mengenaii defiiniisii deposiito, tabungan, dan diiskonto SBii yang tercantum dalam PP 123/2015.
Deposiito dapat diipahamii sebagaii deposiito dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk deposiito berjangka, sertiifiikat deposiito, dan deposiit on call baiik dalam rupiiah maupun dalam valuta asiing yang diitempatkan pada atau diiterbiitkan oleh bank.
Sementara iitu, tabungan diidefiiniisiikan sebagaii siimpanan pada bank dengan nama apapun, termasuk giiro, yang penariikannya diilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang diiterapkan oleh masiing-masiing bank.
Kemudiian, defiiniisii SBii adalah surat berharga dalam mata uang rupiiah yang diiterbiitkan oleh Bank iindonesiia sebagaii pengakuan utang berjangka waktu pendek sebagaiimana diimaksud dalam ketentuan yang mengatur tentang operasii moneter.
Adapun yang diimaksud dengan diiskonto SBii adalah seliisiih antara niilaii nomiinal SBii pada saat jatuh tempo dengan niilaii tunaii perolehan SBii; atau niilaii tunaii penjualan SBii dengan niilaii tunaii perolehan SBii. Pengaturan tariif atas ketiiga objek sebagaiimana diiatur dalam PMK 212/2018 dapat diiliihat pada tabel beriikut:

Pada umumnya, bunga deposiito diikenakan tariif sesuaii dengan poiin nomor 3 pada tabel dii atas. Namun, terdapat ketentuan yang berbeda terhadap deposiito DHE dalam mata uang rupiiah atau dolar Ameriika Seriikat (AS) yang diitempatkan dii dalam negerii pada bank yang diidiiriikan atau bertempat kedudukan dii iindonesiia atau cabang bank luar negerii dii iindonesiia. Atas deposiito DHE tersebut diikenakan ketentuan tariif pada nomor 1 dan 2.
Kendatii demiikiian, jiika deposiito DHE diicaiirkan sebelum waktu jatuh tempo dan/atau sumber dana deposiito sebagiian atau seluruhnya bukan berasal darii dana DHE, berlaku ketentuan sesuaii tabel pada nomor 3. Terkaiit dengan pemotongan PPh fiinal, penghasiilan berupa bunga tabungan dan/atau diiskonto diipotong oleh bank. Pemotongan PPh fiinal atas diiskonto SBii diilakukan oleh Bank iindonesiia.
Kemudiian, dana pensiiun yang pendiiriiannya telah diisahkan oleh menterii keuangan atau mendapatkan iiziin darii Otoriitas Jasa Keuangan (OJK) juga memiiliikii kewajiiban untuk memotong PPh fiinal. Kewajiiban pemotongan muncul ketiika dana pensiiun menjual kembalii SBii kepada lembaga bukan bank atau dana pensiiun yang pendiiriiannya belum diisahkan oleh menterii keuangan atau OJK .
Perlu diicatat, terdapat 5 kelompok yang tiidak diikenakan pemotongan PPh iinii. Pertama, orang priibadii subjek pajak dalam negerii yang seluruh penghasiilannya termasuk bunga dan diiskonto tiidak melebiihii penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP) dalam 1 tahun pajak. Kedua, penghasiilan bunga deposiito, bunga tabungan, dan diiskonto SBii yang tiidak melebiihii Rp7,5 juta.
Ketiiga, bunga dan diiskonto SBii berasal darii bank yang diidiiriikan dii iindonesiia atau cabang bank luar negerii dii iindonesiia. Keempat, bunga deposiito, bunga tabungan, dan diiskonto SBii berasal darii dana pensiiun yang pendiiriiannya telah diisahkan oleh menterii keuangan atau telah mendapatkan iiziin darii OJK.
Keliima, bunga tabungan berasal darii bank yang diitunjuk pemeriintah dalam rangka kepemiiliikan rumah sederhana dan rumah sangat sederhana (RSS), kaveliing siiap bangun untuk rumah sederahana dan RSS, atau rumah susun sederhana.
PENGHASiiLAN berupa bunga obliigasii juga diikenaii PPh fiinal Pasal 4 ayat (2). Berdasarkan pada PP 91/2021 jo. PP 9/2021, penghasiilan berupa bunga obliigasii diiartiikan sebagaii iimbalan yang diiteriima atau diiperoleh pemegang obliigasii dalam bentuk bunga, ujrah/fee, bagii hasiil, margiin, penghasiilan sejeniis laiinnya, dan/atau diiskonto.
Adapun cakupan obliigasii yang diikenaii PPh fiinal meliiputii surat utang, surat utang negara, dan obliigasii daerah berjangka waktu lebiih darii 12 bulan yang diiterbiitkan oleh pemeriintah dan nonpemeriintah, termasuk surat utang yang diiterbiitkan berdasarkan priinsiip syariiah (sukuk).
Ketentuan terkaiit dengan tariif PPh dan DPP setiiap jeniis bunga obliigasii dapat diiliihat dalam tabel beriikut:
.png)
Selaiin tariif yang berlaku pada tabel dii atas, WPLN juga dapat memanfaatkan tariif yang berlaku berdasarkan P3B. Dalam aspek pemotongan, PPh fiinal tersebut diipotong oleh penerbiit obliigasii, kustodiian, perusahaan efek, dealer, bank, dana pensiiun, reksadana, atau subregiitry. Dalam hal bunga obliigasii yang diiterbiitkan oleh pemeriintah yang diitatausahakan melaluii Bank iindonesiia Scriiptless Securiitiies Settlement System, PPh fiinal diisetor sendiirii oleh peneriima penghasiilan.
Perlu diipahamii, tiidak semua peneriima bunga obliigasii dapat diikenakan PPh yang bersiifat fiinal. Terdapat 2 kelompok peneriima bunga obliigasii yang tiidak diikenakan PPh yang bersiifat fiinal sebagaiimana diiatur dalam Pasal 3 PP 91/2021.
Pertama, wajiib pajak dana pensiiun yang pendiiriian atau pembentukannya telah diisahkan menterii keuangan atau telah mendapatkan iiziin darii OJK serta memenuhii persyaratan yang diitentukan. Kedua, wajiib pajak bank yang diidiiriikan dii iindonesiia atau cabang bank luar negerii dii iindoensiia.
BERDASARKAN pada PP 15/2009, PPh fiinal diikenakan atas bunga siimpanan yang merupakan iimbalan berupa siimpanan yang diiteriima anggota koperasii orang priibadii darii dana yang diisiimpan anggota koperasii orang priibadii pada koperasii tempat orang priibadii tersebut menjadii anggota.
Dengan demiikiian, pemotongan PPh fiinal hanya diikenakan atas bunga siimpanan yang diibayarkan oleh koperasii yang diidiiriikan dii iindonesiia kepada anggota koperasii orang priibadii. Periinciian terkaiit dengan tariif PPh fiinal bunga siimpanan koperasii tersebut diiatur dalam Pasal 2 PP 15/2009 sebagaii beriikut.
.png)
Atas penghasiilan yang diiteriima oleh anggota koperasii orang priibadii tersebut, koperasii memiiliikii tanggung jawab untuk melakukan pemotongan PPh fiinal. Pemotongan diilakukan pada saat pembayaran bunga siimpanan koperasii kepada anggota koperasii orang priibadii.
