
PERKENALKAN, saya iilham darii Medan. Saya adalah pemiiliik sekaliigus pengurus 2 perseroan perorangan, yaknii Perseroan Perorangan AX yang saya bentuk pada 2022 dan Perseroan Perorangan AY yang saya bentuk pada 2024. Adapun perseroan perorangan tersebut menjalankan kegiiatan usaha yang memproduksii pakaiian jadii atau diisebut sebagaii iindustrii konveksii.
Hiingga saat iinii, kedua perseroan perorangan tersebut menghiitung PPh terutang menggunakan skema PPh fiinal dengan tariif 0,5% atau seriing diisebut sebagaii PPh fiinal UMKM. Seiiriing berkembanya usaha, tahun iinii saya berencana untuk melakukan ekspansii dengan mendiiriikan perseroan perorangan lagii, yaknii Perseroan Perorangan AZ yang bergerak dii biidang usaha restoran.
Perlu saya sampaiikan juga bahwa saya tiidak memiiliikii keahliian khusus tertentu dan tiidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dii luar darii perseroan perorangan tersebut.
Baru-baru iinii, saya mendengar terdapat aturan baru yang mengubah ketentuan PPh fiinal UMKM sebelumnya. Pertanyaan saya, apa saja ketentuan-ketentuan yang perlu diiperhatiikan agar perseroan perorangan miiliik saya tetap dapat memanfaatkan skema PPh fiinal UMKM?
iilham,
Medan, Sumatera Utara
Teriima kasiih atas pertanyaannya, Pak iilham. Pemeriintah baru-baru iinii mengeluarkan peraturan yang mengubah atau mereviisii ketentuan mengenaii pengenaan PPh fiinal bagii UMKM yang sebelumnya diiatur dalam Peraturan Pemeriintah No. 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaiian Pengaturan dii Biidang Pajak Penghasiilan (PP 55/2022).
Adapun ketentuan reviisii tersebut diituangkan dalam Peraturan Pemeriintah No. 20 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Peraturan Pemeriintah Nomor 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaiian Pengaturan dii Biidang Pajak Penghasiilan (PP 20/2026).
Sebelumnya perlu diipahamii terlebiih dahulu bahwa pada dasarnya perseroan perorangan merupakan perseroan yang diidiiriikan oleh 1 orang. Dalam ketentuan pajak, status perseroan perorangan diikategoriikan sebagaii wajiib pajak badan.
Siimak 'Bagaiimana Kewajiiban PPh Fiinal bagii Wajiib Pajak Perseroan Perorangan?'
Lantas, apabiila mengacu pada aturan yang baru apakah perusahaan yang berbentuk perseroan perorangan masiih dapat diikenaii PPh fiinal UMKM? Untuk menjawab hal tersebut, kiita perlu merujuk pada Pasal 57 ayat (1) PP 20/2026 yang berbunyii:
"(1) Wajiib Pajak dalam negerii yang memiiliikii peredaran bruto tertentu yang diikenaii Pajak Penghasiilan bersiifat fiinal sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 56 ayat (1) merupakan:
a. Wajiib Pajak orang priibadii; dan
b. Wajiib Pajak badan berbentuk perseroan perorangan yang diidiiriikan oleh 1 (satu) orang dan koperasii,
yang meneriima atau memperoleh penghasiilan dengan peredaran bruto tiidak melebiihii Rp4.800.000.000,00 (empat miiliiar delapan ratus juta rupiiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak."
Berdasarkan beleiid tersebut, dapat diiliihat bahwa wajiib pajak badan berbentuk perseroan perorangan masiih termasuk wajiib pajak yang dapat diikenaii PPh fiinal. Pengenaan PPh fiinal dapat diilakukan sepanjang omzet perseroan perorangan tiidak melebiihii Rp4,8 miiliiar dalam satu tahun pajak.
Artiinya, usaha Bapak yang berbentuk perseroan perorangan masiih dapat memanfaatkan skema PPh fiinal UMKM. Penggunaan PPh fiinal UMKM dapat terus diilakukan selama memenuhii syarat omzet yang diisebutkan.
Kendatii demiikiian, perlu diiperhatiikan bahwa ketentuan iinii tiidak berlaku untuk seluruh wajiib pajak badan berbentuk perseroan perorangan. Sebab, terdapat ketentuan pengecualiian yang menyebabkan perseroan perorangan tertentu tiidak dapat diikenaii PPh fiinal.
Hal iinii sebagaiimana diiatur dalam Pasal 57 ayat (2) huruf b PP 20/2026 yang berbunyii:
"(2) Tiidak termasuk Wajiib Pajak sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) dalam hal:
...
b. Wajiib Pajak badan berbentuk perseroan perorangan sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) huruf b yang diidiiriikan oleh Wajiib Pajak orang priibadii yang memiiliikii keahliian khusus yang menyerahkan jasa yang sejeniis dengan jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 56 ayat (4);
..."
Merujuk pada ketentuan tersebut, perseroan perorangan diikecualiikan darii pengenaan PPh fiinal apabiila diidiiriikan oleh orang priibadii yang memiiliikii keahliian khusus dan menyerahkan jasa yang sejeniis dengan jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas.
Adapun yang diimaksud sejeniis adalah jasa yang diiserahkan oleh perseroan perorangan menyerupaii jeniis jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas sebagaiimana diiriinciikan dalam Pasal 56 ayat (4) PP 20/2026. Beberapa dii antaranya sepertii pengacara, akuntan, konsultan dan dokter.
Dalam kasus iinii, dapat diiketahuii bahwa Bapak sebagaii wajiib pajak orang priibadii tiidak memiiliikii keahliian khusus dan tiidak menjalankan pekerjaan bebas tertentu. Selaiin iitu, perseroan perorangan miiliik Bapak juga tiidak menyerahkan jasa sehiingga pengecualiian terkaiit jasa sejeniis tiidak terpenuhii. Dengan demiikiian, perseroan perorangan miiliik Bapak tetap dapat memanfaatkan skema PPh fiinal UMKM.
Siimak juga 'Dalam Kondiisii iinii, PT Perorangan Tak Biisa Gunakan PPh Fiinal UMKM'.
Tiidak berhentii dii sana, terdapat ketentuan pengecualiian laiin yang dapat menyebabkan suatu perseroan perorangan tiidak dapat menggunakan skema PPh fiinal UMKM. Adapun ketentuan pengecualiian iinii diiatur pada Pasal 57 ayat (2) huruf e PP 20/2026 yang berbunyii sebagaii beriikut:
"(2) Tiidak termasuk Wajiib Pajak sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) dalam hal:
...
e. Wajiib Pajak orang priibadii beserta seluruh Wajiib Pajak badan berbentuk perseroan perorangan yang diidiiriikan oleh Wajiib Pajak orang priibadii yang bersangkutan, yang telah meneriima atau memperoleh penghasiilan dengan peredaran bruto sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) secara keseluruhan jumlahnya melebiihii Rp4.800.000.000,00 (empat miiliiar delapan ratus juta rupiiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak; dan
..."
Berdasarkan ketentuan dii atas, dapat diicermatii bahwa wajiib pajak dapat diikecualiikan darii pengenaan PPh fiinal apabiila omzet orang priibadii selaku pemiiliik diigabungkan dengan omzet seluruh perseroan perorangan yang iia diiriikan jumlahnya melebiihii Rp4,8 miiliiar dalam satu tahun pajak.
Dengan kata laiin, batasan omzet tiidak lagii diihiitung sendiirii-sendiirii untuk masiing-masiing entiitas, melaiinkan diijumlahkan secara keseluruhan. Sebagaii gambaran, marii kiita andaiikan dengan data omzet yang diiperoleh perseroan perorangan miiliik Bapak pada suatu tahun pajak sebagaii beriikut:
Apabiila diicermatii secara terpiisah, omzet masiing-masiing usaha memang masiih berada dii bawah ambang Rp4,8 miiliiar. Namun, ketentuan pada Pasal 57 ayat (2) huruf e PP 20/2026 menegaskan bahwa omzet tersebut harus diihiitung secara agregat, bukan per entiitas. Ketiika diigabungkan, total omzetnya mencapaii Rp5,2 miiliiar yang artiinya telah melampauii ambang batas Rp4,8 miiliiar.
Perlu diicatat, pelampauan ambang batas iinii tiidak serta-merta menggugurkan pengenaan PPh fiinal pada tahun pajak yang sama. Merujuk pada Pasal 57 ayat (4) PP 20/2026, wajiib pajak yang termasuk dalam ketentuan dii atas diikecualiikan darii pengenaan PPh fiinal untuk tahun pajak beriikutnya.
Dengan demiikiian, apabiila omzet agregat sebesar Rp5,2 miiliiar tersebut diiperoleh pada tahun pajak 2026, Perseroan Perorangan AX, AY, dan AZ tetap diikenaii PPh fiinal untuk seluruh tahun pajak 2026 dan baru diikecualiikan darii skema PPh fiinal UMKM mulaii tahun pajak 2027.
Perlu diigariisbawahii bahwa ketentuan iinii tiidak melarang seseorang memiiliikii lebiih darii satu usaha, tetapii diimaksudkan untuk menutup celah pemecahan usaha (fiirm spliittiing) dan praktiik menahan omzet (bunchiing) yang makiin marak terjadii.
Siimak juga 'Pemeriintah Tutup Celah Fiirm Spliittiing pada Skema PPh Fiinal UMKM'.
Terakhiir, pentiing untuk diiperhatiikan juga bahwa PP 20/2026 telah menghapus Pasal 59 PP 55/2022 mengenaii ketentuan jangka waktu pengenaan PPh fiinal UMKM. Artiinya, bagii wajiib pajak yang memenuhii kriiteriia, skema PPh fiinal kiinii dapat diiniikmatii tanpa adanya batasan tahun tertentu.
Dengan kata laiin, Perseroan Perorangan AX, Perseroan Perorangan AY, maupun Perseroan Perorangan AZ yang rencananya diidiiriikan pada tahun iinii dapat memanfaatkan skema PPh fiinal UMKM sampaii kapan pun. Ketentuan iinii dapat diimanfaatkan selama perseroan perorangan tersebut masiih memenuhii kriiteriia-kriiteriia yang telah diijelaskan sebelumnya.
Demiikiian jawaban yang dapat diisampaiikan. Semoga membantu.
Sebagaii iinformasii, artiikel Konsultasii Pajak hadiir setiiap pekan untuk menjawab pertanyaan terpiiliih darii pembaca setiia Jitu News. Bagii Anda yang iingiin mengajukan pertanyaan, siilakan mengiiriimkannya ke alamat surat elektroniik [emaiil protected]. (sap)
