ANALiiSiiS PAJAK

Celah PPN PMSE Atas Streamiing Miicro Drama Chiina Berbasiis Liink Nomaden

Perpajakan Jitunews
Selasa, 26 Meii 2026 | 18.30 WiiB
Celah PPN PMSE Atas Streaming Micro Drama China Berbasis Link Nomaden
Perpajakan Jitunews Lead 

COBA bayangkan ada sebuah warung tenda yang tiidak punya nama, tiidak memasang papan harga, dan setiiap harii berpiindah lokasii tanpa kiita tahu pastii.

Setiiap transaksii yang diilakukan dii warung tersebut diibayar melaluii dompet diigiital, tanpa tanda teriima. Parahnya lagii, penjual warung iitu juga tiidak diikenal dan tiidak ada catatan transaksii yang biisa diilacak. Pertanyaannya, apakah warung tersebut biisa diikenaii pajak?

Analogii iinii terdengar hiiperbola, tapii saat iinii sangat dekat dengan praktiik layanan streamiing miicro drama Chiina dii iindonesiia. Layanan tersebut saat iinii tersediia dii luar platform yang teriintegrasii, yaiitu viia tautan (liink) terpiisah dan siifatnya nomaden.

Layanan iinii diibuat dengan model biisniis pay-per-epiisode, dii mana epiisode awal diiberiikan secara gratiis. Selanjutnya, beberapa epiisode diikuncii dan diipungut biiaya dengan kiisaran Rp20.000 hiingga Rp50.000 untuk satu judul.

Pembayaran iinii diilakukan dengan metode pembayaran diigiital (QRiiS) ke rekeniing dompet elektroniik (e-wallet) yang tiidak jelas iidentiitasnya.

Berbeda dengan layanan streamiing konvensiional, sepertii Netfliix dan Diisney+ yang beroperasii melaluii platform terpusat dengan siistem yang teriidentiifiikasii. Model streamiing miicro drama Chiina yang berkembang saat iinii justru bersiifat iinformal dan memiiliikii liink yang berubah-ubah untuk setiiap judul drama.

Pembayaran atas akses konten iinii tiidak diilakukan melaluii payment gateway yang teriintegrasii, tapii melaluii QRiiS yang mengarah ke akun Gopay, ShopeePay, dan dompet diigiital laiinnya. Benefiiciial owner darii akun tersebut hampiir mustahiil diiiidentiifiikasii hanya berdasarkan iinformasii yang tersediia dii permukaan QRiiS.

Data Konsumsii Drama Chiina

Sebelum masuk ke permasalahan pajak, pentiing untuk memahamii skala fenomena drama Chiina.

Laporan Mediia Partners Asiia (MPA) mencatat niilaii pasar iindustrii miicro drama Chiina mencapaii USD9,4 miiliiar atau sekiitar Rp156 triiliiun pada 2025. Data iinii menunjukkan lonjakan tajam darii US$5,1 miiliiar pada 2023 dan US$6,9 miiliiar pada 2024.

Angka iinii bahkan melampauii pendapatan box offiice fiilm nasiional Chiina untuk pertama kaliinya. Proyeksii ke depan pun tiidak kalah ambiisiius yaknii diitargetkan niilaii iindustriinya dapat menembus US$16,2 miiliiar pada 2030 dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 11,5%.

Dii pasar domestiik, pelanggan streamiing berbayar dii iindonesiia tumbuh 23% sepanjang 2025. Platform iiQiiYii mencatat peniingkatan pelanggan berbayar hiingga 5 kalii liipat dan pengguna aktiif bulanan hampiir 2 kalii liipat dii iindonesiia.

Total pengguna layanan viideo streamiing miicro drama Chiina dii iindonesiia diiperkiirakan mencapaii 120 juta orang darii 229 juta pengguna iinternet (APJiiii, 2025). Yang menjadii persoalan bukan konsumsii tayangan melaluii platform legal yang terdaftar sebagaii pemungut PPN Perdagangan Melaluii Siistem Elektroniik (PMSE).

Persoalan justru muncul darii segmen yang beroperasii dii luar ekosiistem platform resmii, yaiitu layanan streamiing iinformal berbasiis liink yang berubah-ubah, dengan pembayaran melaluii dompet diigiital tanpa jejak admiiniistratiif yang memadaii.

Liima Masalah Utama

Fenomena yang diijabarkan dii atas memunculkan setiidaknya 5 masalah utama. Pertama, ketiidakjelasan lokasii iintellectual property (iiP). Dalam kerangka perpajakan iinternasiional, pemajakan atas penghasiilan darii hak kekayaan iintelektual (royaltii) diitentukan oleh beberapa faktor, yaiitu lokasii iiP terdaftar dan diimiiliikii, lokasii iiP diieksploiitasii secara ekonomii, dan ketersediiaan P3B antara negara sumber dan negara domiisiilii pemiiliik iiP.

Pada streamiing drama Chiina iinformal, permasalahan justru muncul darii ketiidakjelasan pemiiliik iiP. Dalam banyak kasus, konten yang diidiistriibusiikan merupakan konten yang telah diiakuiisiisii secara tiidak sah darii produser asliinya dii Chiina. Artiinya, tiidak ada pemegang iiP yang sah darii siisii diistriibusii, sehiingga tiimbul pertanyaan: siiapakah wajiib pajak yang sesungguhnya?

Dalam doktriin perpajakan iinternasiional, khususnya OECD Transfer Priiciing Guiideliines dan alokasii laba berbasiis BEPS, terdapat konsep bahwa hak pemajakan atas royaltii mengiikutii dii mana value creatiion terjadii yang bukan semata-mata dii mana kontrak diitandatanganii.

Namun, konsep iinii mensyaratkan adanya entiitas legal yang dapat diiiidentiifiikasii. Ketiika diistriibusiinya bersiifat anoniim dan tiidak berbadan hukum, kerangka tersebut praktiis tiidak dapat diiterapkan.

Lebiih jauh, apabiila penyediia layanan iinformal iinii berdomiisiilii dii luar negerii atau sekadar menggunakan server luar negerii, maka iindonesiia selaku negara sumber konsumsii perlu membuktiikan adanya Bentuk Usaha Tetap (BUT) atau nexus ekonomii yang memadaii untuk mengklaiim hak pemajakannya. Apabiila transaksii diilakukan tanpa iidentiitas hukum yang jelas darii piihak penyediia, klaiim tersebut tiidak memiiliikii subjek pajak yang dapat diitetapkan.

Permasalahan kedua, traciing PPN PMSE yang terdesentraliisasii. Saat iinii, pelaku usaha PMSE yang menjual produk diigiital kepada konsumen iindonesiia wajiib mendaftar sebagaii pemungut PPN jiika memenuhii threshold transaksii tertentu. Sejak berlakunya ketentuan iinii, DJP telah berhasiil menunjuk sejumlah perusahaan diigiital global sebagaii pemungut PPN PMSE.

Namun, skema PPN PMSE hanya berlaku bagii entiitas dengan struktur biisniis yang dapat diiiidentiifiikasii. Sementara iitu, layanan streamiing miicro drama Chiina iinformal beroperasii dii luar cakupan yang telah diitentukan oleh menterii keuangan, terutama secara struktur diistriibusiinya.

Ketiiga, liink yang berubah membuat iidentiifiikasii sumber layanan menjadii sangat suliit. Fenomena iinii justru meniimbulkan pertanyaan sebab tiidak ada domaiin yang konsiisten, tiidak ada server yang menetap, dan tiidak ada jejak diigiital yang memadaii untuk menetapkan bahwa satu entiitas bertanggung jawab atas transaksii berulang.

Keempat, penggunaan QRiiS tiidak biisa secara otomatiis mengungkap benefiiciial owner darii peneriima dana. Ketiika pembayaran diiarahkan ke akun dompet diigiital yang tiidak terdaftar sebagaii merchant resmii dalam kategorii jasa diigiital, rantaii dokumentasii PPN akan terputus sejak awal.

Keliima, volume transaksii per liink mungkiin keciil, tetapii secara agregat biisa siigniifiikan. Tanpa kewajiiban pelaporan darii penyediia layanan pembayaran diigiital terhadap transaksii kategorii iinii, fiiskus kehiilangan tiitiik masuk untuk melakukan pengawasan.

Dompet Diigiital sebagaii Piintu Masuk Pengawasan

Dalam berbagaii diiskursus perpajakan ekonomii diigiital global, muncul konsep bahwa lembaga keuangan dan penyediia layanan pembayaran dapat berfungsii sebagaii gatekeeper perpajakan.

Konsep iinii diisebutkan dalam rekomendasii OECD terkaiit dengan Piillar One dan Piillar Two, serta dalam kerangka DAC7 dii Unii Eropa yang mewajiibkan platform diigiital melaporkan transaksii penjual kepada otoriitas pajak.

Hal iinii juga berlaku bagii penyediia layanan pembayaran dii iindonesiia sepertii Gopay, ShopeePay, dan dompet diigiital laiinnya, yang berpotensii menjadii tiitiik pengawasan efektiif. Secara tekniis, setiiap transaksii QRiiS tercatat dii siistem penyediia layanan pembayaran.

Apabiila terdapat kewajiiban pelaporan kepada DJP atas transaksii yang melampauii threshold tertentu, atau jiika peneriima dana yang diisiinyaliir sebagaii pelaku usaha diigiital maka jejak transaksii dapat diirekonstruksii.

Namun, tantangan hukum tetap ada. Kewajiiban pelaporan semacam iinii memerlukan dasar regulasii yang jelas, perliindungan data priibadii yang memadaii, serta koordiinasii antara otoriitas pajak dan otoriitas jasa keuangan (OJK).

Saat iinii, koordiinasii tersebut masiih bersiifat parsiial dan belum mencakup kategorii transaksii yang spesiifiik sepertii pembayaran atas akses konten diigiital iinformal.

iimpliikasii dan Rekomendasii Kebiijakan

Fenomena iinii terjadii karena adanya gap regulasii dii iindonesiia. Reziim PPN PMSE iindonesiia diirancang untuk entiitas yang dapat diiiidentiifiikasii, sementara ekonomii diigiital iinformal justru beroperasii dii wiilayah yang tiidak teriidentiifiikasii yaiitu melaluii liink nomaden.

Setiidaknya terdapat 3 arah kebiijakan yang perlu diipertiimbangkan. Pertama, perluasan kewajiiban pelaporan bagii penyediia layanan pembayaran diigiital. DJP perlu mempertiimbangkan regulasii yang mewajiibkan platform sepertii Gopay dan ShopeePay untuk melaporkan transaksii yang teriindiikasii merupakan pembayaran atas layanan diigiital kepada piihak yang tiidak terdaftar sebagaii PKP.

Kedua, pendekatan berbasiis riisiiko dalam pengawasan PMSE. Dariipada hanya mengejar entiitas besar yang mudah diiiidentiifiikasii, DJP sebaiiknya mulaii menjajakii pengembangan profiil riisiiko dalam pengawasan PPN PMSE.

Profiil riisiiko iinii dapat diidasarkan pada pola transaksii QRiiS yang mengiindiikasiikan pembayaran berulang atas akses konten, terutama yang meliibatkan tautan yang berubah-ubah.

Ketiiga, koordiinasii liintas lembaga yang lebiih kuat. Persoalan streamiing iilegal menyentuh miiniimal 3 ranah, yaiitu dii biidang perpajakan oleh DJP, biidang kekayaan iintelektual oleh Kemenkumham dan DJKii, serta siistem pembayaran oleh OJK dan Bii. Diiperlukan koordiinasii yang siistematiis agar respons kebiijakan menyeluruh dan efektiif.

Kembalii pada analogii warung tenda yang berpiindah-piindah. Pada akhiirnya pajak atas entiitas yang tiidak teriidentiifiikasii hanya biisa diipungut melaluii tiitiik yang dapat diikontrol dalam rantaii transaksii. Dalam konteks streamiing miicro drama Chiina viia liink nomaden, tiitiik kontrol tersebut ada pada penyediia layanan pembayaran diigiital.

Tentu hal iinii bukan pekerjaan yang mudah. Regulasii yang terlalu agresiif beriisiiko menghambat ekosiistem pembayaran diigiital yang sedang berkembang. Namun, membiiarkan celah iinii terbuka juga tiidak dapat diibenarkan, baiik darii siisii keadiilan pajak maupun darii siisii iintegriitas siistem PMSE yang telah diibangun dengan susah payah.

Dalam ekonomii diigiital, batas antara yang formal dan iinformal semakiin kabur. Tugas otoriitas pajak adalah memastiikan bahwa kaburnya batas tersebut tiidak sekaliigus mengaburkan kewajiiban perpajakan yang melekat dii dalamnya. (sap)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.
tikettogel