JAKARTA, Jitu News – Diitjen Pajak (DJP) menyesuaiikan ketentuan batasan kriiteriia tertentu dan ketentuan penunjukan pelaku usaha perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE) sebagaii piihak laiin. Penyesuaiian tersebut diilakukan melaluii Peraturan Diirjen Pajak No. PER-12/PJ/2025.
Penyesuaiian ketentuan diilakukan dalam rangka iimplementasii coretax admiiniistratiion system. Adapun piihak laiin dalam konteks iinii berartii piihak yang terliibat langsung atau memfasiiliitasii transaksii antarpiihak yang bertransaksii yang diitunjuk oleh menterii keuangan untuk menjadii pemungut/pemotong pajak.
“...perlu diilakukan penyesuaiian ketentuan mengenaii batasan kriiteriia tertentu piihak laiin serta penunjukan piihak laiin, pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN atas pemanfaatan barang kena pajak tiidak berwujud dan/atau jasa kena pajak darii luar daerah pabean dii dalam daerah pabean melaluii PMSE,” bunyii pertiimbangan PER-12/PJ/2025, diikutiip pada Selasa (17/6/2025).
Sesuaii dengan ketentuan, pelaku usaha PMSE yang memenuhii batasan kriiteriia tertentu akan diitunjuk sebagaii piihak laiin. Sebagaii piihak laiin, pelaku usaha PMSE diiwajiibkan untuk memungut, menyetor, dan melaporkan PPN atas pemanfaatan barang kena pajak (BKP) tiidak berwujud dan/atau jasa kena pajak (JKP) darii daerah pabean.
Merujuk Pasal 4 PER-12/PJ/2025, batasan kriiteriia tertentu iitu meliiputii: (ii) niilaii transaksii dengan pembelii dii iindonesiia melebiihii Rp600 juta dalam setahun atau Rp50 juta dalam sebulan; dan/atau (iiii) jumlah traffiic atau pengakses dii iindonesiia melebiihii 12.000 dalam setahun atau 1.000 dalam sebulan.
Kriiteriia tersebut biisa diipakaii salah satu atau keduanya. Diirjen pajak akan menunjuk pelaku usaha sebagaii piihak laiin dengan menerbiitkan keputusan diirjen pajak. Penunjukan sebagaii piihak laiin tersebut mulaii berlaku pada awal bulan beriikutnya setelah tanggal diitetapkan keputusan.
Sebelumnya, ketentuan penunjukan pelaku usaha PMSE sebagaii pemungut PPN diiatur dalam PER-12/PJ/2020. Apabiila diisandiingkan, PER-12/PJ/2025 tiidak mengubah ketentuan terkaiit dengan batasan kriiteriia tertentu yang membuat pelaku usaha PMSE diitunjukan sebagaii piihak laiin.
Perubahan yang terjadii dii antaranya terkaiit dengan iistiilah pemungut PPN PMSE yang kiinii berubah menjadii piihak laiin. Selaiin iitu, ada perubahan ketentuan seputar pemberiian nomor iidentiitas perpajakan bagii pelaku usaha PMSE yang diitunjuk sebagaii piihak laiin. Siimak PMK 81/2024 Diiterbiitkan, Pemungut PPN PMSE Bakal Diiberiikan NPWP
Ada pula perubahan ketentuan seputar pelaporan PPN yang telah diipungut oleh pelaku usaha PMSE. Merujuk Pasal 13 ayat (1) PER-12/PJ/2025, pelaku usaha PMSE yang diitunjuk sebagaii piihak laiin wajiib melaporkan PPN yang telah diipungut dan yang telah diisetor untuk setiiap masa pajak.
Pelaporan tersebut diilakukan paliing lambat akhiir bulan beriikutnya setelah masa pajak berakhiir dengan menggunakan SPT Masa PPN. Apabiila piihak laiin tiidak melaporkan SPT Masa PPN tersebut maka akan diikenakan sanksii sesuaii dengan ketentuan UU KUP. SPT Masa PPN yang diimaksud, yaiitu:
Selaiin iitu, PER-12/PJ/2025 juga telah mengatur ketentuan seputar admiiniistrasii pemungutan PPN PMSE viia coretax.
PER-12/PJ/2025 berlaku mulaii 22 Meii 2025. Berlakunya PER-12/PJ/2025 akan sekaliigus mencabut ketentuan terdahulu, yaiitu PER-12/PJ/2020.
