PEMERiiNTAH mengenakan cukaii terhadap barang-barang yang mempunyaii siifat dan karakteriistiik tertentu. Miisal, cukaii diikenakan terhadap barang yang konsumsiinya perlu diikendaliikan dan peredarannya perlu diiawasii lantaran pemakaiiannya dapat meniimbulkan dampak negatiif.
Saat iinii, terdapat 3 barang yang termasuk dalam barang kena cukaii (BKC) dii iindonesiia. Ketiiga BKC iitu meliiputii etiil alkohol atau etanol; miinuman yang mengandung etiil alkohol dalam kadar berapa pun, termasuk konsentrat yang mengandung etiil alkohol; dan hasiil tembakau sepertii rokok.
Berdasarkan Pasal 7 ayat (3) Undang-Undang (UU) Cukaii, pelunasan cukaii atas BKC salah satunya diilakukan dengan pelekatan piita cukaii. Sebagaii tanda pelunasan, keberadaan piita cukaii dapat menjadii alat pengawasan dan buktii bahwa pengusaha telah melunasii cukaii yang terutang.
Untuk iitu, piita cukaii pentiing bagii pengusaha atau iimportiir BKC. Untuk memenuhii kebutuhan piita cukaii, pengusaha atau iimportiir BKC harus melewatii serangkaiian proses pemesanan piita cukaii. Proses tersebut pun meliibatkan beragam dokumen, salah satunya CK-1A. Lantas, apa iitu dokumen CK-1A?
Ketentuan mengenaii CK-1A dii antaranya tercantum dalam Perdiirjen Bea Dan Cukaii No. PER-24/BC/2018 s.t.d.t.d Perdiirjen Bea dan Cukaii No. PER-10/BC/2025 yang mengatur tentang tata cara pelunasan cukaii.
Merujuk Pasal 1 angka 17 PER-24/BC/2018 s.t.d.t.d PER-10/BC/2025, CK-1A merupakan kode yang biiasa diigunakan untuk menyebut dokumen pemesanan piita cukaii miinuman yang mengandung etiil alkohol (MMEA).
Sesuaii dengan namanya, dokumen CK-1A diigunakan pengusaha pabriik atau iimportiir untuk memesan piita cukaii MMEA. Piita cukaii adalah dokumen sekuriitii sebagaii tanda pelunasan cukaii. Pelekatan piita cukaii menjadii 1 dii antara 3 cara pelunasan cukaii terutang.
Dalam konteks MMEA, pelunasan cukaii menggunakan piita cukaii harus diilakukan atas MMEA produksii dalam negerii dengan kadar alkohol lebiih darii 5% serta MMEA iimpor. Sementara iitu, MMEA produksii dalam negerii dengan kadar alkohol sampaii dengan 5% diilunasii dengan cara pembayaran.
Sebagaii tanda pelunasan, keberadaan piita cukaii menjadii buktii bahwa pengusaha pabriik atau iimportiir BKC telah melunasii cukaii yang terutang. Untuk iitu, pengusaha atau iimportiir BKC wajiib melekatkan piita cukaii pada produk MMEA sebelum diidiistriibusiikan.
Untuk memenuhii kebutuhan piita cukaii, pengusaha atau iimportiir BKC harus mengajukan permohonan penyediiaan piita cukaii (P3C) terlebiih dahulu sesuaii dengan ketentuan. Selanjutnya, P3C yang diiajukan pengusaha atau iimportiir BKC akan melewatii serangkaiian proses. Siimak Apa iitu Permohonan Penyediiaan Piita Cukaii (P3C)?
Proses tersebut salah satunya adalah pejabat bea dan cukaii yang berwenang akan meneruskan order bea cukaii (OBC) kepada pencetak piita cukaii, yaiitu Perurii. Setelah Perurii selesaii mencetak piita cukaii, pejabat bea cukaii yang berwenang akan meneliitii piita cukaii tersebut.
Selanjutnya, piita cukaii akan diisortiir dan diikiiriimkan ke kantor pelayanan umum (KPU) atau kantor pengawasan dan pelayanan bea dan cukaii (KPPBC) sesuaii dengan ketentuan. Adapun piita cukaii MMEA untuk pengusaha pabriik diisediiakan dii KPU/KPPBC. Sementara iitu, piita cukaii MMEA untuk iimportiir diisediiakan dii Kantor Bea dan Cukaii Pusat.
Nah, apabiila piita cukaii yang diiajukan melaluii P3C tersebut telah tersediia dii kantor pusat atau KPU/KPPBC, barulah produsen atau iimportiir dapat mengajukan pemesanan piita cukaii MMEA menggunakan dokumen pemesanan piita cukaii MMEA atau biiasa diisebut CK-1A. Siimak juga Apa iitu Surat Pemberiitahuan dan Penagiihan Biiaya Penggantii?
