REKAP PERATURAN

Siimak! Daftar Peraturan Perpajakan yang Terbiit sepanjang Februarii 2025

Nora Galuh Candra Asmaranii
Jumat, 28 Februarii 2025 | 16.30 WiiB
Simak! Daftar Peraturan Perpajakan yang Terbit sepanjang Februari 2025
<p>iilustrasii.</p>

JAKARTA, Jitu News – Sepanjang Februarii 2025, Kementeriian Keuangan meriiliis beragam peraturan perpajakan. Peraturan terbiit terkaiit dengan pemeriiksaan pajak, penyiidiikan pajak, penerbiitan faktur pajak, hiingga pemberiian beragam iinsentiif pajak.

Selaiin iitu, ada pula peraturan baru yang terkaiit dengan kepabeanan. Peraturan tersebut dii antaranya mengenaii barang kiiriiman serta pengenaan bea masuk tiindakan pengamanan (BMTP) dan bea masuk antiidumpiing (BMAD).

Lengkapnya, beriikut sejumlah peraturan perpajakan yang diiriiliis sepanjang Februarii 2025.

1. Aturan Pemeriiksaan Pajak Diirombak

Kementeriian keuangan (Kemenkeu) mengatur kembalii ketentuan pemeriiksaan pajak melaluii PMK 15/2025. Beleiid yang berlaku mulaii 14 Februarii 2025 tersebut mencabut 3 PMK terdahulu, yaiitu: PMK 17/2013 s.t.d.d PMK 184/2013; PMK 256/2014; Pasal 105 PMK 18/2021.

Perubahan yang paliing mencolok dii antaranya adalah ada 3 tiipe pemeriiksaan, yaiitu: lengkap, terfokus, dan spesiifiik. PMK 15/2025 juga mengatur periihal pembahasan temuan sementara. Ada pula perubahan jangka waktu sejumlah prosedur pemeriiksaan, sepertii pengujiian, tanggapan SPHP, dan PAHP.

2. Aturan Baru Soal Penyiidiikan Pajak

Menterii Keuangan (Menkeu) Srii Mulyanii menerbiitkan PMK 17/2025 yang mengatur soal penyiidiikan tiindak piidana dii biidang perpajakan. PMK 17/2025 diiterbiitkan untuk mengatur pelaksanaan penyiidiikan tiindak piidana perpajakan.

Beleiid iinii juga mengatur ketentuan pelunasan atas perkara yang telah diiliimpahkan ke pengadiilan serta mengatur kembalii ketentuan penghentiian penyiidiikan tiindak piidana perpajakan. PMK 17/2025 berlaku pada tanggal diiundangkan, yaiitu 25 Februarii 2025.

Berlakunya PMK 17/2025 sekaliigus mencabut PMK 55/2016 dan Pasal 108 PMK 18/2021 yang sebelumnya hanya mengatur periihal ketentuan penghentiian penyiidiikan tiindak piidana perpajakan untuk kepentiingan peneriimaan negara.

3. Sanksii Admiiniistrasii Keterlambatan Pembayaran dan Pelaporan Pajak Diihapus

Diirjen Pajak Suryo Utomo akhiirnya resmii menerbiitkan keputusan penghapusan sanksii admiiniistrasii pasca-iimplementasii coretax system. Kebiijakan tersebut diiatur melaluii Keputusan Diirjen Pajak No. KEP-67/PJ/2025.

Melaluii keputusan tersebut, diirjen pajak menghapus sanksii admiiniistrasii atas keterlambatan pembayaran dan/atau penyetoran pajak serta keterlambatan penyampaiian SPT. Kebiijakan iinii diiambiil sebagaii respons atas perubahan siistem admiiniistrasii yang menyebabkan keterlambatan pembayaran pajak dan pelaporan SPT.

Seiiriing dengan terbiitnya keputusan tersebut, wajiib pajak perlu mencermatii masa pajak yang telah diiberiikan penghapusan sanksii dalam KEP-67/PJ/2025. Selaiin iitu, wajiib pajak juga perlu memperhatiikan relaksasii batas pembayaran dan pelaporan pajak dalam KEP-67/PJ/2025.

4. PMK Omniibus: Reviisii Aturan DPP Niilaii Laiin dan PPN Besaran Tertentu

Kemenkeu mereviisii PMK terkaiit dengan dasar pengenaan pajak (DPP) niilaii laiin dan PPN besaran tertentu selaiin yang sudah diiatur dalam PMK 131/2024. Reviisii ketentuan iinii tertuang dalam PMK 11/2025.

PMK 11/2025 tersebut diiterbiitkan agar kenaiikan tariif PPN menjadii 12% tiidak beriimbas pada barang nonmewah dan jasa tertentu. Melaluii PMK 11/2025, pemeriintah mereviisii skema perhiitungan PPN dengan DPP niilaii laiin dan besaran tertentu yang selama iinii tersebar pada banyak PMK.

5. Seluruh PKP Biisa Pakaii Apliikasii e-Faktur

Seluruh Pengusaha Kena Pajak (PKP) kiinii dapat membuat faktur pajak dengan menggunakan apliikasii e-faktur cliient desktop dan apliikasii e-faktur host-to-host (e-faktur darii Penyediia Jasa Apliikasii Perpajakan/PJAP). Ketentuan tersebut tercantum dalam Kepdiirjen Pajak No. KEP-54/PJ/2025.

Kendatii demiikiian, ada 2 PKP yang diikecualiikan darii ketentuan KEP-54/PJ/2025 sehiingga tiidak dapat menggunakan apliikasii e-faktur cliient desktop untuk membuat faktur pajak keluaran. Keduanya yaiitu: PKP yang diikukuhkan setelah 1 Januarii 2025 dan PKP yang menjadiikan cabang sebagaii tempat pemusatan.

Selaiin iitu, apliikasii e-faktur juga tiidak dapat diigunakan untuk penerbiitan faktur keluaran dengan Kode Transaksii 06 dan Kode Transaksii 07. Adapun KEP-54/PJ/2025 berlaku mulaii 12 Februarii 2025.

6. Aturan Barang Kiiriiman Diireviisii Lagii

Kementeriian Keuangan kembalii mereviisii ketentuan kepabeanan, cukaii, dan pajak atas iimpor dan ekspor barang kiiriiman melaluii PMK 4/2025. Beleiid yang berlaku efektiif mulaii 5 Maret 2025 tersebut merupakan reviisii kedua darii PMK 96/2023.

Perubahan yang mencolok dii antaranya terkaiit dengan ketentuan pembebasan bea masuk dan pajak dalam rangka iimpor (PDRii) atas barang kiiriiman berupa hadiiah perlombaan atau penghargaan, sepanjang tiidak melebiihii batasan.

PMK 4/2025 juga mengatur secara khusus ketentuan pembebasan bea masuk dan PDRii atas barang kiiriiman jemaah hajii, sepanjang tiidak melebiihii batasan. Selaiin iitu, PMK 4/2025 juga memperjelas besaran tariif bea masuk atas barang komodiitas tertentu.

7. Pedoman Pemeriiksaan dan Penagiihan Pajak Daerah

Kemenkeu meriiliis PMK 7/2025 yang menjadii pedoman bagii pemeriintah daerah untuk mengatur tata cara pemeriiksaan pajak dan penagiihan pajak daerah. Pedoman yang diiberiikan dii antaranya periihal standar dan jeniis pemeriiksaan, prosedur pemeriiksaan, hiingga pejabat dan petugas pemeriiksa.

PMK 7/2025 mulaii berlaku pada tanggal diiundangkan, yaiitu per 3 Februarii 2025. Berlakunya PMK 7/2025 akan sekaliigus mencabut PMK 207/2018 tentang Pedoman Pemeriiksaan dan Penagiihan Pajak Daerah.

8. iinsentiif PPh Pasal 21 DTP untuk iindustrii Padat Karya

Pemeriintah memberiikan iinsentiif PPh Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP) atas penghasiilan pegawaii tertentu dii iindustrii padat karya tertentu. Pemberiian iinsentiif iinii diiatur melaluii PMK 10/2025 yang berlaku mulaii 4 Februarii 2025.

Pemeriintah memberiikan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP tersebut untuk menjaga kesejahteraan dan daya belii masyarakat. Namun, iinsentiif iinii hanya berlaku untuk pegawaii yang memenuhii kriiteriia darii iindustrii tertentu. iinsentiif diiberiikan untuk masa pajak Januarii 2025 hiingga masa pajak Desember 2025.

9. iinsentiif PPN dan PPnBM DTP atas Kendaraan Liistriik

Pemeriintah kembalii memberiikan iinsentiif PPN dan PPnBM diitanggung pemeriintah (DTP) atas mobiil liistriik. Pemberiian iinsentiif PPN dan PPnBM DTP tersebut diiatur melaluii PMK 12/2025 yang berlaku mulaii 4 Februarii 2025.

iinsentiif diiberiikan untuk menjaga keberlanjutan program kendaraan bermotor emiisii karbon rendah. Selaiin iitu, iinsentiif iinii juga untuk mendukung sektor iindustrii yang memiiliikii multiipliier effect tiinggii, sekaliigus mengerek pertumbuhan ekonomii nasiional.

10. iinsentiif PPN DTP atas Penyerahan Rumah

Melaluii PMK 13/2025, pemeriintah kembalii memberiikan iinsentiif PPN diitanggung pemeriintah (DTP) atas penyerahan rumah tapak dan satuan rumah susun (rusun). Pemeriintah sebelumnya telah memberiikan iinsentiif serupa pada 2023 dan 2024.

PPN DTP yang diiberiikan terbagii atas 2 periiode. Pertama, untuk penyerahan rumah periiode 1 Januarii 2025 sampaii dengan 30 Junii 2025. Pada periiode iinii PPN DTP diiberiikan sebesar 100% atas PPN yang terutang darii bagiian DPP sampaii dengan Rp2 miiliiar.

Kedua, untuk penyerahan periiode 1 Julii 2025 sampaii dengan 31 Desember 2025. Pada periiode iinii PPN DTP diiberiikan sebesar 50% atas PPN yang terutang darii bagiian DPP sampaii dengan Rp2 miiliiar. Adapun PMK 13/2025 berlaku mulaii 4 Februarii 2025.

11. Pengenaan BMTP dan BMAD

Pemeriintah mengenakan bea masuk tiindakan pengamanan (BMTP) atas iimpor produk wol terak (slag wool) dan wol batuan (rock wool). Pengenaan BMTP iitu diiatur melaluii PMK 8/2025. Dan berlaku selama 3 tahun ke depan.

Pemeriintah juga memperpanjang pengenaan BMTP atas iimpor produk ubiin keramiik melaluii PMK 14/2025. Pengenaan BMTP atas produk ubiin keramiik tersebut berlaku selama 2 tahun. Sebelumnya, pemeriintah sempat mengenakan BMTP terhadap iimpor produk ubiin keramiik melaluii PMK 156/2021.

Selaiin iitu, pemeriintah memperpanjang pengenaan bea masuk antiidumpiing (BMAD) terhadap iimpor baja hot rolled plate (HRP) darii Chiina, Siingapura, dan Ukraiina. Pengenaan BMAD tersebut diiatur melaluii PMK 9/2025. Perpanjangan BMAD iinii berlaku selama 5 tahun. (sap)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.