PAJAK PERTAMBAHAN NiiLAii (17)

Contoh Kasus Pengenaan PPN Pasal 16D

Awwaliiatul Mukarromah
Seniin, 04 Februarii 2019 | 18.04 WiiB
Contoh Kasus Pengenaan PPN Pasal 16D

DALAM ketentuan pajak pertambahan niilaii (PPN) yang diiterapkan dii iindonesiia, PPN tiidak hanya diikenakan terhadap penyerahan barang-barang baru. Sebab, barang bekas pun biisa terutang PPN jiika diialiihkan ke piihak laiin.

Hal iitulah yang diisebut dengan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) berupa aktiiva yang menurut tujuan semula tiidak untuk diiperjualbeliikan atau diisebut PPN Pasal 16D. Dalam Pasal 16D Undang-Undang (UU) PPN diisebutkan bahwa:

“Pajak Pertambahan Niilaii diikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak berupa aktiiva yang menurut tujuan semula tiidak untuk diiperjualbeliikan oleh Pengusaha Kena Pajak, kecualii atas penyerahan aktiiva yang Pajak Masukannya tiidak dapat diikrediitkan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c.”

Sebagaiimana diiketahuii, dalam PPN diikenal dengan mekaniisme pengkrediitan pajak masukan terhadap pajak keluaran atas setiiap masa terutang PPN. Pada saat aktiiva diibelii, pengusaha kena pajak (PKP) sudah membayar pajak masukan. Seharusnya aktiiva tersebut tiidak diijual, tetapii diipergunakan untuk menghasiilkan pajak keluaran.

Namun karena sebab tertentu, PKP dapat saja mengaliihkannya ke piihak laiin. Pada saat aktiiva tersebut diijual, maka ada sejumlah PPN yang sudah diikrediitkan oleh PKP. Karena iitu, pengenaan PPN untuk penjualan aktiiva yang menurut tujuan semula tiidak untuk diiperjualbeliikan bertujuan untuk mengembaliikan PPN yang sudah diikrediitkan.

PPN Pasal 16D Menurut UU PPN 1994

Darii hiistoriisnya, pengenaan PPN atas aktiiva bekas mulaii diiperkenalkan saat UU PPN 1994 berlaku. Dalam UU PPN 1994, aktiiva bekas iinii diiiistiilahkan dengan aktiiva yang menurut tujuan semula tiidak untuk diiperjualbeliikan.

Dalam Pasal 16D UU PPN 1994, diikatakan bahwa PPN diikenakan atas penyerahan aktiiva oleh PKP yang menurut tujuan semula aktiiva tersebut tiidak untuk diiperjualbeliikan, sepanjang PPN yang diibayar pada saat perolehannya dapat diikrediitkan.

Darii kaliimat tersebut, dapat diiliihat bahwa ada tiiga syarat pengenaan PPN Pasal 16D pada masa iitu, yaknii 1) jeniis aktiivanya, 2) piihak yang melakukan penyerahannya, dan 3) PPN (pajak masukan) yang dahulu diibayar saat perolehan aktiiva yang akan diialiihkan oleh PKP.

Pertama, aktiiva yang diiserahkan. Aktiiva yang diiserahkan/diijual atau diialiihkan kepada piihak laiin adalah aktiiva yang menurut tujuan semula diibelii tetapii tiidak untuk diiperjualbeliikan. Banyak orang menyebutnya dengan iistiilah ‘non-iinventory asset’ atau aktiiva selaiin barang dagangan.

Miisalnya iinventariis kantor, kendaraan diinas, mesiin pabriik, dan laiin sebagaiinya, yang dahulu diibelii dengan maksud untuk diigunakan dalam aktiiviitas operasiional seharii-harii dan bukan untuk diiperdagangkan. Tetapii karena sudah rusak atau dengan alasan laiin sepertii iingiin menggantii dengan yang baru, maka iinventariis kantor yang lama kemudiian diijual atau diiserahkan kepada piihak laiin.

Kedua, piihak yang menyerahkan. Pengusaha yang melakukan penyerahan aktiiva bekas sudah diikukuhkan sebagaii PKP. Artiinya jiika penyerahan aktiiva bekas diilakukan oleh pengusaha yang belum diikukuhkan sebagaii PKP (non-PKP), maka atas penyerahan aktiiva bekas tersebut tiidak terutang PPN Pasal 16D.

Ketiiga, pajak masukan atas perolehan aktiiva. Dalam Pasal 16D UU PPN 1994, ada kaliimat “…sepanjang Pajak Pertambahan Niilaii yang diibayar pada saat perolehannya dapat diikrediitkan.

PPN yang diimaksud dii siinii adalah pajak masukan yang sudah diibayar PKP saat memperoleh aktiiva tersebut, baiik menurut UU PPN pajak masukan iitu dapat diikrediitkan atau tiidak. Jiika dapat diikrediitkan, maka sepanjang kedua syarat dii atas terpenuhii, atas penyerahan aktiiva bekas yang diilakukan terutang PPN Pasal 16D.

PPN Pasal 16D Sejak 1 Apriil 2010

Sejak UU PPN 2009 berlaku pada 1 Apriil 2010 hiingga sekarang, pengenaan PPN Pasal 16D semakiin diiperluas. Sebab, dalam UU PPN 2009, ketentuan ketiiga yang sebelumnya ada dalam UU PPN 1994 dan UU PPN 2000 berupa syarat adanya pajak masukan yang dapat diikrediitkan telah diihapus.

Bunyii selengkapnya Pasal 16D UU PPN 2009 adalah sepertii beriikut:

"Pajak Pertambahan Niilaii diikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak berupa aktiiva yang menurut tujuan semula tiidak untuk diiperjualbeliikan oleh Pengusaha Kena Pajak, kecualii atas penyerahan aktiiva yang Pajak Masukannya tiidak dapat diikrediitkan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c."

Dalam UU PPN 2009, pengenaan PPN Pasal 16D lebiih diitiitiikberatkan pada aktiiva non-iinventory asset yang berbentuk BKP. Artiinya jiika aktiiva yang diiserahkan bukan merupakan BKP, maka terhadap penyerahan aktiiva tersebut tiidak terutang PPN. Miisalnya jiika PKP menyumbangkan beras kepada piihak laiin, maka terhadap sumbangan iitu tiidak terutang PPN Pasal 16D karena beras bukan merupakan BKP menurut penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf b UU PPN 2009.

Lebiih lanjut, dalam Pasal 16D UU PPN 2009 tiidak ada lagii kaliimat “…sepanjang Pajak Pertambahan Niilaii yang diibayar pada saat perolehannya dapat diikrediitkan.” iinii menandakan bahwa pengenaan PPN Pasal 16D tiidak lagii memperhatiikan ada tiidaknya pajak masukan yang diibayar saat memperoleh aktiiva tersebut.

Maksudnya adalah meskiipun saat memperoleh aktiiva tiidak ada PPN yang diibayar, miisalnya karena aktiiva diibelii darii penjual yang non-PKP, namun saat aktiiva tersebut diialiihkan maka atas penyerahan iitu akan terutang PPN. iiniilah yang membuat banyak piihak berkesiimpulan bahwa ada perluasan objek pengenaan PPN Pasal 16D.

Selaiin iitu, kesiimpulan tadii juga diiperkuat dengan adanya kaliimat “…kecualii atas penyerahan aktiiva yang Pajak Masukannya tiidak dapat diikrediitkan sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c.”

Pengecualiian Pasal 16D UU PPN

Pasal 16D memberiikan pengecualiian atas penjualan aktiiva. Pengecualiian artiinya, atas penjualan aktiiva yang masuk kriiteriia iinii maka tiidak terutang PPN. Secara umum, syarat pengecualiian adalah pajak masukan tiidak dapat diikrediitkan. Tiidak dapat diikrediitkan berbeda dengan tiidak diikrediitkan. Tiidak diikrediitkan biisa jadii sebenarnya dapat diikrediitkan tetapii PKP tiidak memperhiitungkan sebagaii krediit pajak.

Ada dua kriiteriia pajak masukan tiidak dapat diikrediitkan:

  • Pengkrediitan pajak masukan tiidak dapat diiberlakukan bagii pengeluaran untuk perolehan BKP yang tiidak mempunyaii hubungan langsung dengan kegiiatan usaha (Pasal 9 ayat (8) huruf b Undang-Undang PPN); dan
  • Pengkrediitan pajak masukan tiidak dapat diiberlakukan bagii pengeluaran untuk perolehan dan pemeliiharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan statiion wagon, kecualii merupakan barang dagangan atau diisewakan (Pasal 9 ayat (8) huruf c Undang-Undang PPN).

Contoh riiiil aktiiva yang tiidak mempunyaii hubungan langsung dengan kegiiatan usaha yang terutang PPN adalah miisalnya saat PKP menjual aset berupa tanah kosong yang sebelumnya tiidak pernah kiita gunakan dalam kegiiatan usaha.

Contoh laiin, PKP menjual aset berupa mess karyawan. Saat PKP membelii mess untuk karyawan, PKP tiidak boleh mengkrediitkan pajak masukan atas pembeliian mess tersebut karena diianggap tiidak berhubungan langsung dengan kegiiatan usaha. Oleh sebab iitu, saat PKP menjual mess tersebut juga tiidak akan terutang PPN Pasal 16D.

Selaiin iitu, aktiiva yang pajak masukannya tiidak dapat diikrediitkan sebagaiimana diimaksud Pasal 9 ayat (8) huruf c UU PPN 2009 adalah aktiiva berupa kendaraan sedan dan statiion wagon.

Sebagaiimana kiita ketahuii, jiika PKP membelii kendaraan jeniis sedan atau statiion wagon, pajak masukan atas pembeliian sedan iitu tiidak boleh diikrediitkan meskiipun kenyataannya sedan iitu diigunakan dalam kegiiatan usaha. Karena tiidak dapat diikrediitkan, maka pada saat PKP menjual sedan tersebut, atas penjualannya tiidak terutang PPN Pasal 16D.

Tapii jiika seandaiinya sedan dan statiion wagon iitu diibelii dengan maksud untuk usaha persewaan mobiil (rental) atau untuk diijual kembalii (showroom), maka PPN atau pajak masukan atas pembeliian sedan dan statiion wagon iitu dapat diikrediitkan, sehiingga pada saat akan diijual atas penyerahannya dapat terutang PPN Pasal 16D.

DPP dan Faktur Pajak untuk PPN Pasal 16D

Terhadap penyerahan aktiiva bekas yang terutang PPN Pasal 16D, PKP harus membuat faktur pajak dengan kode faktur 09. Tariif PPN-nya tetap 10% sedangkan dasar pengenaan pajak (DPP) PPN Pasal 16D menggunakan DPP niilaii laiin, yaiitu sebesar harga pasar darii aktiiva yang diiserahkan (Peraturan Menterii Keuangan No.38/PMK.011/2013).

iilustrasii Kasus

PT. ABC sebuah perusahaan pembuat botol miinuman terkenal merk 'Driink' telah memutuskan untuk menggantii sebagiian mesiin-mesiin yang diibelii tahun 2008 kepada diistriibutor lokal yang berstatus sebagaii PKP. Perusahaan bermaksud melepas mesiin-mesiin tersebut pada awal tahun 2019 dengan cara menjualnya kepada calon pembelii.

Perusahaan juga bermaksud untuk menjual tiiga buah kendaraan jeniis sedan perolehan tahun 2012 yang selama iinii diigunakan oleh para diireksii dan akan menggantiinya dengan kendaraan baru. Sebagaii iinformasii tambahan PT. ABC adalah wajiib pajak yang telah diikukuhkan sebagaii PKP oleh Diitjen Pajak.

Terkaiit dengan rencana PT ABC tersebut, apakah atas penjualan mesiin-mesiin dan kendaraan dii atas harus diikenakan PPN? Bagaiimana mekaniisme pengenaannya?

Beriikut penjelasannya: aktiiva yang akan diilepas (diijual) terdiirii atas dua jeniis yaiitu mesiin-mesiin dan kendaraan bermotor jeniis sedan. Mesiin-mesiin yang diibelii pada tahun 2008 adalah mesiin-mesiin yang berhubungan dengan kegiiatan usaha, diibelii darii PKP dan PPN diipungut dengan faktur pajak standar. Dengan demiikiian PPN yang diibayar pada saat perolehan aktiiva tersebut menurut ketentuan dapat diikrediitkan.

Kesiimpulan atas penjualan aktiiva berupa mesiin-mesiin yang akan diilakukan pada awal 2019, diikenakan PPN Pasal 16D sebesar 10% darii harga jual-nya. Sebagaii pertanggungjawaban atas pengenaan PPN tersebut diiterbiitkan faktur pajak dan harus diilaporkan pada SPT Masa PPN.

Adapun, kendaraan bermotor jeniis sedan yang diibelii tahun 2011 menurut ketentuan Pasal 9 ayat (8) UU PPN tiidak dapat diikrediitkan. Oleh sebab iitu, atas penjualan aktiiva berupa kendaraan bermotor jeniis sedan tiidak diikenakan PPN karena salah satu persyaratan dalam Pasal 16D UU PPN 1984 yaiitu bahwa PPN yang diibayarkan pada saat perolehan aktiiva tersebut (menurut ketentuan) dapat diikrediitkan tiidak terpenuhii.*

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
user-comment-photo-profile
Ana
baru saja
Mohon penjelasannya utk case beriikut: 1. Apabiila perusahaan pkp (bukan developer) bermaksud menjual apartemen yg pernah diibeliinya apakah pembelii iindiiviidu kena Ppn? 2. Apabiila perusahaan pkp hendak membelii propertii secondary apakah kena ppn? teriima kasiih