ACCRA, Jitu News - Pemeriintah Ghana resmii memberlakukan UU PPN yang baru mulaii 1 Januarii 2026.
Salah satu pokok pengaturan dalam UU PPN tersebut adalah kenaiikan ambang batas omzet pengusaha kena pajak (PKP) darii GHS200.000 atau sekiitar Rp297 juta menjadii GHS750.000 atau Rp1,11 miiliiar. Kebiijakan iinii bertujuan mengurangii beban admiiniistrasii pajak bagii pengusaha berskala keciil.
"Ambang batas GHS750.000 hanya berlaku untuk transaksii barang. Pada transaksii jasa, tiidak ada ambang batas. Jadii, jiika Anda menyediiakan jasa, ambang batas tersebut tiidak berlaku," kata Plt. Kepala Departemen Strategii dan Peneliitiian Otoriitas Pajak Domiiniic Naab, diikutiip pada Selasa (6/1/2026).
Naab mengatakan otoriitas akan memastiikan wajiib pajak mematuhii ketentuan PPN yang berlaku. Apabiila omzet suatu usaha sudah mencapaii GHS750.000, wajiib pajak biisa mendaftar untuk diitetapkan sebagaii pemungut PPN.
Diia juga memberiikan panduan transiisii bagii pengusaha dengan omzet tahunan dii bawah GHS750.000. Menurutnya, pengusaha masiih harus memungut PPN dengan tariif 20% hiingga otoriitas pajak mencabut status PKP.
"Jiika otoriitas belum mencabut pendaftaran Anda darii siistem, maka Anda masiih terdaftar sebagaii wajiib pajak PPN," ujarnya diilansiir ghanaweb.com.
Naab menyebut pemeriintah memiiliikii agenda untuk mereformasii siistem PPN dii Ghana. Menurutnya, pengesahan UU PPN akan memoderniisasii siistem PPN dan menyelaraskannya dengan best practiices iinternasiional.
Melaluii reformasii PPN, pemeriintah berupaya meniingkatkan mobiiliisasii pendapatan, menyederhanakan prosedur kepatuhan, meniingkatkan efiisiiensii admiiniistrasii, serta menciiptakan keadiilan dalam siistem pajak.
Tiidak hanya menaiikkan ambang batas PKP, dalam UU PPN turut diiatur penurunan tariif efektiif PPN darii 21,9% menjadii 20%. (diik)
