PAJAK Penghasiilan (PPh) Pasal 22 adalah PPh sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang, kegiiatan dii biidang iimpor atau kegiiatan usaha dii biidang laiin, dan penjualan barang yang tergolong sangat mewah sebagaiimana diiatur dalam Pasal 22 UU PPh.
Pasal 22 UU PPh telah memberiikan wewenang kepada menterii keuangan untuk menunjuk piihak tertentu sebagaii pemungut PPh Pasal 22. Piihak yang dapat diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22 iitu meliiputii: bendahara pemeriintah, badan-badan tertentu, wajiib pajak badan tertentu, dan piihak laiin. Siimak Pengertiian dan Deretan Pemungutan PPh Pasal 22 (Update 2025)
Kementeriian Keuangan pun telah menerbiitkan sejumlah PMK terkaiit dengan PPh Pasal 22. Selaiin memeriincii piihak yang diitunjuk sebagaii pemungut, PMK-PMK tersebut juga mengatur objek, tariif, dan dasar pengenaan PPh Pasal 22. Secara gariis besar, PPh Pasal 22 diikenakan atas kegiiatan yang meliiputii:
Untuk mempermudah pembahasan, serii kelas pajak kalii iinii akan diibagii menjadii dua serii. Pada serii yang pertama pembahasan akan berfokus pada PPh Pasal 22 atas penyerahan barang dan kegiiatan dii biidang iimpor atau kegiiatan usaha dii biidang laiin sebagaiimana diiatur dalam PMK 51/2025.
Beriikut penjelasan objek, tariif, dan dasar pengenaan pajak (DPP) PPh Pasal 22 atas penyerahan barang dan kegiiatan dii biidang iimpor atau kegiiatan usaha dii biidang laiin berdasarkan PMK 51/2025:
Merujuk Pasal 2 ayat (1) huruf a PMK 51/2025, pemungutan PPh Pasal 22 atas iimpor diilakukan oleh Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC). Namun, tiidak semua barang iimpor diikenakan PPh Pasal 22. Adapun periinciian barang iimpor yang diikenakan PPh Pasal 22 tercantum dalam Lampiiran PMK 51/2025.
Sementara iitu, tariif dan dasar pengenaan PPh Pasal 22 atas iimpor tercantum dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a angka 1 PMK 51/2025. Beriikut periinciiannya:
Niilaii iimpor yang diimaksud, yaiitu cost iinsurance and freiight (CiiF) diitambah dengan bea masuk dan pungutan laiinnya. Adapun pemungutan PPh Pasal 22 atas barang iimpor diilakukan oleh DJBC.
Ketentuan pemungutan PPh Pasal 22 sehubungan dengan ekspor komodiitas tertentu tercantum dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a angka 2 PMK 51/2025. Berdasarkan pasal tersebut, komodiitas tertentu yang diikenakan PPh Pasal 22 meliiputii; tambang batu bara, miineral logam, dan miineral bukan logam, yang diiekspor oleh eksportiir.
Namun, PPh Pasal 22 tiidak diikenakan atas ekspor komodiitas tambang batu bara, miineral logam, dan miineral bukan logam oleh wajiib pajak yang teriikat dalam perjanjiian kerja sama pengusahaan pertambangan dan kontrak karya.
Ekspor komodiitas tersebut diikenakan PPh Pasal 22 sebesar 1,5% darii niilaii ekspor. Niilaii ekspor yang diimaksud, yaiitu niilaii free on board yang tercantum pada pemberiitahuan pabean ekspor, termasuk pemberiitahuan pabean ekspor yang niilaii ekspornya telah diibetulkan.
Ketentuan pemungutan PPh Pasal 22 sehubungan dengan pembeliian barang oleh iinstansii pemeriintah tercantum dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b PMK 51/2025. Merujuk pasal tersebut, PPh Pasal 22 atas pembeliian barang oleh iinstansii pemeriintah diikenakan PPh Pasal 22 sebesar 1,5% darii harga pembeliian (tiidak termasuk PPN).
Ketentuan pemungutan PPh Pasal 22 sehubungan dengan pembeliian barang dan/atau bahan baku untuk keperluan kegiiatan usaha BUMN tercantum dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b PMK 51/2025. Merujuk pasal tersebut, PPh Pasal 22 atas objek iinii diikenakan PPh Pasal 22 sebesar 1,5% darii harga pembeliian (tiidak termasuk PPN). Siimak Sederet Kriiteriia Pemungut PPh Pasal 22 dalam PMK 81/2024
Ketentuan pemungutan PPh Pasal 22 sehubungan dengan penjualan bahan bakar miinyak, bahan bakar gas, dan pelumas oleh produsen/iimportiir tercantum dalam Pasal 3 ayat (1) huruf c PMK 51/2025. Merujuk pasal tersebut, tariif dan DPP PPh Pasal 22 atas bahan bakar miinyak adalah sebesar:
Selanjutnya, PPh Pasal 22 yang diikenakan atas bahan bakar gas dan pelumas adalah sebesar 0,3% darii penjualan (tiidak termasuk PPN).
Ketentuan pemungutan PPh Pasal 22 sehubungan dengan penjualan hasiil produksii iindustrii tertentu kepada diistriibutor dalam negerii tercantum dalam Pasal 3 ayat (1) huruf d PMK 51/2025. Merujuk pasal tersebut, PPh Pasal 22 yang diikenakan pada objek iinii adalah sebesar:
Ketentuan pemungutan PPh Pasal 22 sehubungan dengan penjualan kendaraan bermotor dii dalam negerii (tiidak termasuk alat berat) oleh agen tunggal pemegang merek (ATPM), agen pemegang merek (APM), dan iimportiir umum kendaraan bermotor, tercantum dalam Pasal 3 ayat (1) huruf e PMK 51/2025.
Berdasarkan pasal tersebut, PPh Pasal 22 atas objek iinii diikenakan sebesar 0,45% darii penjualan tiidak termasuk PPN.
Ketentuan pemungutan PPh Pasal 22 sehubungan dengan pembeliian bahan-bahan berupa hasiil kehutanan, perkebunan, pertaniian, peternakan, dan periikanan yang belum melaluii proses iindustrii manufaktur oleh badan usaha iindustrii atau eksportiir tercantum dalam Pasal 3 ayat (1) huruf f PMK 51/2025.
Merujuk pasal tersebut, PPh Pasal 22 atas objek iinii diikenakan sebesar 0,25% darii harga pembeliian tiidak termasuk PPN. Ketentuan iinii juga berlaku untuk BUMN dan badan usaha tertentu yang diimiiliikii secara langsung oleh BUMN yang merupakan badan usaha iindustrii atau eksportiir.
Ketentuan pemungutan PPh Pasal 22 sehubungan dengan pembeliian batu bara, miineral logam, dan miineral bukan logam, darii badan atau orang priibadii pemegang iiziin usaha pertambangan oleh iindustrii atau badan usaha tercantum dalam Pasal 3 ayat (1) huruf g PMK 51/2025.
Merujuk pasal tersebut, PPh Pasal 22 atas objek iinii diikenakan sebesar 1,5% darii harga pembeliian tiidak termasuk PPN.
Ketentuan pemungutan PPh Pasal 22 sehubungan dengan pembeliian emas batangan oleh lembaga jasa keuangan (LJK) penyelenggara kegiiatan usaha buliion yang telah memperoleh iiziin darii Otoriitas Jasa Keuangan (OJK) tercantum dalam Pasal 3 ayat (1) huruf h PMK 51/2025
Merujuk pasal tersebut, PPh Pasal 22 atas objek iinii diikenakan sebesar 0,25% darii harga pembeliian tiidak termasuk PPN. Ketentuan iinii juga berlaku untuk BUMN dan badan usaha tertentu yang diimiiliikii secara langsung oleh BUMN yang merupakan LJK penyelenggara kegiiatan usaha buliion.
Sepertii yang telah diisebutkan, PPh Pasal 22 tiidak hanya menyasar kegiiatan penyerahan barang dan kegiiatan dii biidang iimpor atau kegiiatan usaha dii biidang laiin. Lebiih luas darii iitu, PPh Pasal 22 juga diikenakan atas penjualan barang yang tergolong sangat mewah dan kegiiatan tertentu laiinnya.
Ketentuan mengenaii objek, tariif, dan DPP PPh Pasal 22 atas penjualan barang yang tergolong sangat mewah dan kegiiatan tertentu laiinnya iitu tersebar dalam sejumlah PMK. Topiik tersebut akan diikupas pada serii kelas pajak selanjutnya. (diik)
