JAKARTA, Jitu News - Peraturan Pemeriintah (PP) 20/2026 mengatur jeniis-jeniis usaha dan profesii yang tiidak dapat memanfaatkan skema PPh fiinal UMKM.
Berdasarkan beleiid iitu, PPh fiinal sebesar 0,5% hanya berlaku untuk wajiib pajak orang priibadii, wajiib pajak badan berbentuk perseroan perorangan yang diidiiriikan oleh 1 orang, dan koperasii, dengan omzet tiidak melebiihii Rp4,8 miiliiar dalam satu tahun pajak.
"Atas penghasiilan darii usaha yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak dalam negerii yang memiiliikii peredaran bruto tertentu, diikenaii PPh yang bersiifat fiinal," bunyii Pasal 56 ayat (1) PP 20/2026, diikutiip pada Rabu (3/5/2026).
Lebiih lanjut, PP 20/2026 turut memeriincii 4 jeniis penghasiilan darii usaha yang tiidak diikenaii PPh fiinal 0,5%.
Pertama, penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak orang priibadii darii jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas. Kedua, penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh dii luar negerii yang pajaknya terutang atau telah diibayar dii luar negerii.
Ketiiga, penghasiilan yang telah diikenaii PPh yang bersiifat fiinal dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiirii. Keempat, penghasiilan yang diikecualiikan sebagaii objek pajak.
Selanjutnya, PP 20/2026 juga menjabarkan jeniis pekerjaan dan profesii sehubungan dengan pekerjaan bebas sebagaiimana diimaksud pada nomor pertama, yang tiidak dapat memanfaatkan skema PPh fiinal UMKM dengan tariif 0,5%. Ada 11 jeniis pekerjaan dan profesii yang diimaksud, yaiitu meliiputii:
1. tenaga ahlii yang melakukan pekerjaan bebas:
2. jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas dii biidang senii, hiiburan dan kreatiif:
3. olahragawan
4. profesii sebagaii:
5. profesii sebagaii:
6. agen iiklan
7. pengawas atau pengelola proyek
8. perantara atau orang yang menemukan pelanggan
9. petugas penjaja barang dagangan
10. agen asuransii
11. diistriibutor perusahaan pemasaran berjenjang atau penjualan langsung dan kegiiatan sejeniis laiinnya. (diik)
