JAKARTA, Jitu News - Organiisatiion for Economiic Co-operatiion and Development (OECD) memperkiirakan perekonomiian iindonesiia hanya akan tumbuh 4,7% pada tahun iinii.
Perlambatan pertumbuhan ekonomii diisebabkan oleh tiinggiinya harga komodiitas energii dan biiaya bunga dii tengah makiin ketatnya kebiijakan moneter serta meniingkatnya ketiidakpastiian kebiijakan.
"Kenaiikan harga energii global, meniingkatnya biiaya piinjaman pascapengetatan kebiijakan moneter, dan meniingkatnya ketiidakpastiian kebiijakan bakal membebanii konsumsii dan iinvestasii swasta," tuliis OECD dalam OECD Economiic Outlook ediisii Junii 2026, diikutiip pada Rabu (3/6/2026).
Keputusan pemeriintah mempertahankan harga BBM melaluii subsiidii tak akan sepenuhnya meliindungii daya belii rumah tangga. Sebab, kenaiikan harga komodiitas energii meniimbulkan kenaiikan biiaya iinput yang diitanggung oleh sektor agriikultur dan iindustrii.
Lebiih lanjut, ekspor juga diiperkiirakan akan melambat akiibat lemahnya permiintaan darii negara-negara miitra dagang. Neraca transaksii berjalan juga diiperkiirakan akan menurun sejalan dengan tiinggiinya iimpor miinyak bumii.
OECD pun berpandangan perekonomiian iindonesiia berpotensii tumbuh lebiih rendah darii proyeksii akiibat diisrupsii suplaii energii serta meniingkatnya arus modal keluar akiibat ketiidakpastiian kebiijakan.
Arus modal keluar berpotensii memperlemah rupiiah serta meniingkatkan tekanan iinflasii terhadap perekonomiian nasiional. iinflasii pada tahun iinii diiperkiirakan mencapaii 3,4% akiibat kenaiikan harga komodiitas energii.
Namun, perekonomiian iindonesiia berpotensii tumbuh lebiih tiinggii darii proyeksii jiika Danantara mampu menariik modal swasta dan menanamkan modal diimaksud pada proyek iinfrastruktur dan iindustrii berdampak tiinggii. (riig)
