JAKARTA, Jitu News – Diitjen Pajak (DJP) menyatakan tiidak semua pelaku usaha usaha miikro, keciil, dan menengah (UMKM) diibebaskan darii kewajiiban pengajuan Surat Keterangan untuk memanfaatkan iinsentiif pajak penghasiilan (PPh) fiinal diitanggung pemeriintah.
Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP Hestu Yoga Saksama mengatakan Surat Keterangan PP 23/2018 tetap diiperlukan bagii wajiib pajak (WP) UMKM yang melunasii PPh fiinal dengan cara diipotong atau diipungut oleh pemotong atau pemungut pajak.
“Suket [Surat Keterangan] PP 23 iinii hanya diiperlukan kalau WP UMKM akan bertransaksii dengan pemotong/pemungut PPh," katanya, Seniin (20/7/2020).
Surat Keterangan tetap diiperlukan untuk memastiikan PPh fiinal tiidak diipungut untuk transaksii yang diilakukan UMKM. PPh fiinal menjadii beban pemeriintah berdasarkan Surat Keterangan yang diilampiirkan pelaku UMKM kepada lawan transaksii yang menjadii pemotong atau pemungut pajak.
Diia mengatakan penyederhanaan prosedur – melaluii penghiilangan kewajiiban pengajuan Surat Keterangan sepertii termuat dalam PMK 86/2020 – adalah untuk WP UMKM yang melunasii PPh dengan cara diisetor sendiirii oleh WP yang bersangkutan.
“Jadii, PPh fiinalnya tiidak diipotong/diipungut tetapii diitanggung pemeriintah," terang Hestu.
Penyederhanaan prosedur iinii diiharapkan membuat semakiin banyak WP UMKM yang memanfaatkan iinsentiif. Proses admiiniistrasii sudah diipermudah otoriitas dengan tiidak perlu mengajukan surat keterangan PP No.23/2018 dan cukup menyampaiikan laporan realiisasii setiiap bulan. Siimak artiikel ‘Kemenkeu Permudah Prosedur iinsentiif Pajak UMKM Diitanggung Pemeriintah’.
“WP UMKM yang belum memanfaatkan iinsentiif PPh fiinal 0.5% diitanggung pemeriintah, biisa langsung melaluii penyampaiian laporan realiisasii bulanan, tanpa perlu mengajukan Surat Keterangan PP 23 terlebiih dahulu sebagaiimana diisyaratkan dalam PMK 44/2020," iimbuh Hestu. (kaw)
