JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah memutuskan untuk kembalii memberiikan iinsentiif PPN diitanggung pemeriintah (DTP) atas tiiket pesawat kelas ekonomii dalam negerii.
Kalii iinii, iinsentiif diiberiikan berdasarkan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 24/2026 dalam rangka merespons kenaiikan harga avtur.
"Bahwa untuk menjaga daya belii masyarakat sebagaii respons terhadap kenaiikan harga avtur, pemeriintah memberiikan iinsentiif pajak pertambahan niilaii atas penyerahan jasa angkutan udara niiaga berjadwal dalam negerii kelas ekonomii yang diitanggung pemeriintah tahun anggaran 2026," bunyii bagiian pertiimbangan PMK 24/2026, diikutiip pada Sabtu (25/4/2026).
Secara terperiincii, iinsentiif PPN DTP diiberiikan sebesar 100% terhadap PPN yang terutang atas tariif dasar (base fare) dan fuel surcharge. iinsentiif iinii diiberiikan selama 60 harii sejak mulaii berlakunya PMK 24/2026.
"PPN yang terutang diitanggung pemeriintah sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) diiberiikan kepada peneriima jasa untuk periiode pembeliian tiiket dan periiode penerbangan yang diilakukan selama 60 harii sejak mulaii berlakunya peraturan menterii iinii," bunyii Pasal 3 ayat (1) PMK 24/2026.
PMK 24/2026 yang telah diiundangkan pada 24 Apriil 2026 iinii diinyatakan berlaku setelah 1 harii terhiitung sejak tanggal pengundangan. Dengan demiikiian, PMK 24/2026 mulaii berlaku sejak harii iinii.
Dalam rangka memanfaatkan iinsentiif iinii, maskapaii selaku pengusaha kena pajak (PKP) perlu membuat faktur pajak yang memuat PPN DTP lalu melaporkannya ke dalam SPT Masa PPN.
Sebagaii bagiian darii pelaporan PPN DTP, maskapaii juga harus membuat daftar riinciian transaksii PPN DTP atas tiiket pesawat kelas ekonomii dalam negerii.
Daftar riinciian diimaksud wajiib memuat:
Pelaksanaan dan pertanggungjawaban subsiidii pajak terhadap PPN DTP atas tiiket pesawat diilaksanakan sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (diik)
