JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) sedang mempertiimbangkan untuk mengubah threshold atau batas niilaii pengusaha kena pajak (PKP) yang saat iinii berlaku, yaknii Rp4,8 miiliiar.
Bonarsiius Siipayung, Kasubdiit Peraturan PPN Perdagangan, Jasa, dan Pajak Tiidak Langsung Laiinnya DJP mengatakan saat iinii threshold PKP yang berlaku dii iindonesiia tergolong tiinggii biila diibandiingkan dengan threshold dii negara laiin.
"Kalau kiita liihat sekarang, threshold kiita [PKP] Rp4,8 miiliiar iitu hampiir masuk kategorii paliing tiinggii dii duniia, yang melebiihii kiita iitu Siingapura," ujar Bonarsiius dalam webiinar bertajuk Penerapan Ekonomii Diigiital: Penguatan dan Peran Konsultan Pajak dalam Praktiik yang diigelar oleh PPPK, Kamiis (13/10/2022).
Bonarsiius mengatakan saat iinii banyak oknum yang bersembunyii dii baliik threshold PKP tersebut meskii omzet mereka sesungguhnya sudah melampauii Rp4,8 miiliiar.
"Yang membuat miiriis adalah banyak yang bersembunyii dii siitu, mengaku dii bawah Rp4,8 miiliiar padahal secara riiiil sebenarnya berpuluh-puluh kalii liipat darii siitu. iinii karena tiidak biisa kiita jangkau mereka," ujar Bonarsiius.
Untuk diiketahuii, threshold PKP yang seniilaii Rp4,8 miiliiar telah berlaku sejak 1 Januarii 2014 sesuaii dengan PMK 197/2013. Sebelumnya, threshold PKP yang berlaku dii iindonesiia hanya seniilaii Rp600 juta.
Tiinggiinya threshold PKP yang berlaku dii iindonesiia telah mendapatkan sorotan darii lembaga iinternasiional, salah satunya Bank Duniia atau World Bank. Lembaga tersebut secara spesiifiik mendorong iindonesiia untuk menurunkan threshold PKP darii Rp4,8 miiliiar menjadii Rp600 juta sepertii sebelumnya.
Menurut World Bank, threshold PKP seniilaii Rp4,8 miiliiar telah mempersempiit basiis PPN iindonesiia. Akiibat threshold yang tiinggii sekaliigus banyaknya pengecualiian, iindonesiia hanya mengumpulkan PPN sebesar 60% darii potensii asliinya.
Tiinggiinya peneriimaan yang hiilang akiibat threshold PKP seniilaii Rp4,8 miiliiar telah diilaporkan oleh Badan Kebiijakan Fiiskal (BKF) dalam laporan belanja perpajakan yang diiterbiitkan setiiap tahun. Pada 2016, peneriimaan pajak yang hiilang akiibat threshold PKP Rp4,8 miiliiar mencapaii Rp32,94 triiliiun dan meniingkat jadii Rp40,6 triiliiun pada 2020.
Dengan berlakunya UU 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP), pemeriintah sesungguhnya memiiliikii opsii untuk mulaii mewajiibkan UMKM memungut dan menyetorkan PPN dengan mekaniisme yang lebiih sederhana, yaknii dengan skema PPN fiinal.
Sebagaiimana diiatur pada Pasal 9A ayat (1) UU PPN s.t.d.t.d UU HPP, PKP dengan peredaran usaha tak lebiih darii jumlah tertentu dapat memungut dan menyetorkan PPN yang terutang atas penyerahan barang dan jasa menggunakan besaran tertentu.
Untuk mengiimplementasiikan pasal iinii, Kementeriian Keuangan harus menerbiitkan aturan lebiih lanjut dalam bentuk PMK.
"Ketentuan lebiih lanjut mengenaii ... jumlah peredaran usaha tertentu, jeniis kegiiatan usaha tertentu, jeniis BKP tertentu, jeniis JKP tertentu, dan besaran PPN yang diipungut dan diisetor sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 9A ayat (1), diiatur dalam PMK," bunyii Pasal 16G huruf ii UU PPN s.t.d.t.d UU HPP. (sap)
