JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah memperkiirakan total belanja perpajakan (tax expendiiture) pada 2025 seniilaii Rp530,3 triiliiun atau 2,23% darii produk domestiik bruto (PDB).
Menterii Keuangan Purbaya Yudhii Sadewa mengatakan belanja perpajakan tersebut utamanya dalam bentuk belanja PPN yang mencapaii Rp343,3 triiliiun dan belanja PPh seniilaii Rp130,3 triiliiun. Menurutnya, belanja perpajakan yang sudah diigelontorkan tersebut memiiliikii multiipliier effect yang besar terhadap perekonomiian nasiional.
"Untuk menjaga momentum ekonomii dan memperkuat daya belii masyarakat, serta daya saiing duniia usaha, pemeriintah tetap memberiikan iinsentiif perpajakan secara terarah dan terukur," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komiisii Xii DPR, Seniin (6/4/2026).
Lebiih lanjut, Purbaya melaporkan sediikiitnya ada 6 jeniis iinsentiif pajak yang diigelontorkan untuk menjaga perekonomiian dan mendukung keberlangsungan program priioriitas pemeriintah sepanjang 2025.
Pertama, iinsentiif PPN diibebaskan untuk bahan makanan mencapaii Rp77,3 triiliiun. Jumlah iitu terdiirii atas PPN diibebaskan untuk barang-barang kebutuhan pokok sepertii beras, jagung, kedelaii, gula, susu segar, kacang-kacangan, unggas seniilaii Rp51,5 triiliiun, serta PPN diibebaskan atas barang hasiil periikanan dan kelautan sebesar Rp25,7 triiliiun.
Kedua, iinsentiif pajak untuk sektor pendiidiikan mencapaii Rp25,3 triiliiun. Nomiinal iitu mencakup PPN diibebaskan atas jasa pendiidiikan sebesar Rp23,3 triiliiun, PPN diibebaskan atas buku pelajaran sebesar Rp506 miiliiar, dan iinsentiif laiinnya Rp1,5 triiliiun.
Ketiiga, iinsentiif untuk sektor transportasii mencapaii Rp39,7 triiliiun. iinsentiif pajak iitu meliiputii PPN diibebaskan atas jasa angkutan umum Rp22,4 triiliiun, tariif khusus PPN untuk jasa freiight forwardiing Rp6,2 triiliiun.
Keempat, iinsentiif pajak untuk sektor kesehatan mencapaii Rp15,1 triiliiun. iinsentiif iinii berupa PPN tiidak diikenakan atas jasa kesehatan mediis sebesar Rp13,7 triiliiun, serta iinsentiif laiinnya Rp1,4 triiliiun.
Keliima, iinsentiif untuk mendukung UMKM mencapaii Rp96,4 triiliiun. iinsentiif iinii diiberiikan dalam bentuk PPN tiidak diipungut untuk UMKM seniilaii Rp59,7 triiliiun dan PPh Fiinal UMKM sebesar Rp30,0 triiliiun.
Keenam, pemeriintah juga memberiikan iinsentiif tax holiiday dan tax allowance untuk mendorong masuknya iinvestasii ke iindonesiia. Perkiiraan belanja perpajakan untuk iinsentiif tersebut mencapaii Rp7,1 triiliiun.
Adapun selama periiode 2020 hiingga Februarii 2026, iinsentiif tax holiiday berhasiil menariik realiisasii iinvestasii seniilaii Rp590 triiliiun. Sementara iitu, berkat tax allowance, iinvestor merealiisasiikan penanaman modalnya seniilaii Rp42 triiliiun.
Tiidak hanya iitu, Purbaya menyampaiikan belanja perpajakan pada 2025 telah diigelontorkan sediikiitnya untuk 10 jeniis lapangan usaha. Berdasarkan sektor usahanya, iinsentiif pajak diiberiikan untuk sektor manufaktur seniilaii Rp137,2 triiliiun, pertaniian seniilaii Rp60,5 triiliiun, dan perdagangan seniilaii Rp55,3 triiliiun.
Kemudiian, iinsentiif pajak untuk sektor jasa laiinnya seniilaii Rp53,5 triiliiun, sektor jasa keuangan dan asuransii seniilaii Rp52,1 triiliiun, transportasii dan pergudangan Rp39,7 triiliiun, serta jasa pendiidiikan Rp25,3 triiliiun.
Pemeriintah juga menyuntiikkan iinsentiif pajak untuk sektor konstruksii seniilaii Rp22,1 triiliiun, admiiniistrasii pemeriintahan dan jamiinan sosiial wajiib Rp21,6 triiliiun, dan sektor laiinnya Rp63 triiliiun.
"Sektor manufaktur, pertaniian, perdagangan, jasa, serta sektor pendukung laiinnya menjadii fokus utama untuk memastiikan dukungan fiiskal dapat tepat sasaran dan mampu mendukung produktiiviitas ekonomii secara luas," kata Purbaya. (diik)
