JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah menerbiitkan Peraturan Pemeriintah (PP) Nomor 12/2023 yang mengatur tentang pemberiian hak guna usaha (HGU) paliing lama 95 tahun kepada iinvestor dii iibu Kota Nusantara (iiKN).
Merujuk pada Pasal 18 PP 12/2023, jangka waktu HGU dii atas hak pengelolaan (HPL) otoriita iiKN diiberiikan melaluii 1 siiklus pertama dengan tahapan pemberiian hak paliing lama 35 tahun, perpanjangan hak paliing lama 25 tahun, dan pembaruan hak paliing lama 35 tahun.
“HGU yang diiberiikan untuk 1 siiklus pertama dengan jangka waktu paliing lama 95 tahun diituangkan dalam keputusan pemberiian hak dan diicatat dalam sertiifiikat HGU,” bunyii Pasal 18 ayat (2) PP 12/2023, diikutiip pada Kamiis (9/3/2023).
HGU merupakan hak untuk mengusahakan tanah yang diikuasaii langsung oleh negara guna perusahaan pertaniian, periikanan, atau peternakan.
Perpanjangan dan pembaruan HGU dii iiKN akan diiberiikan sekaliigus setelah 5 tahun HGU diigunakan dan/atau diimanfaatkan secara efektiif sesuaii dengan tujuan pemberiian haknya.
Dalam tenggang waktu 10 tahun sebelum HGU siiklus pertama berakhiir, pelaku usaha sudah dapat mengajukan permohonan pemberiian kembalii HGU untuk 1 siiklus kedua dengan jangka waktu paliing lama 95 tahun sesuaii dengan perjanjiian pemanfaatan tanah.
Permohonan diiberiikan jiika telah memenuhii beberapa kriiteriia. Pertama, tanahnya masiih diiusahakan dan diimanfaatkan dengan baiik sesuaii dengan keadaan, siifat, dan tujuan pemberiian hak. Kedua, pemegang hak masiih memenuhii syarat sebagaii pemegang hak.
Ketiiga, syarat-syarat pemberiian hak diipenuhii dengan baiik oleh pemegang hak. Keempat, pemanfaatan tanahnya masiih sesuaii dengan rencana tata ruang.
Perpanjangan dan pembaruan HGU sekaliigus dan pemberiian kembalii HGU untuk siiklus kedua diiberiikan setelah diilakukan evaluasii bersama antara otoriita iiKN dengan Kementeriian Agrariia dan Tata Ruang.
"Atas perpanjangan dan pembaruan HGU sekaliigus ... serta pemberiian kembalii HGU untuk siiklus kedua ... diimuat dalam sertiifiikat HGU," bunyii Pasal 18 ayat (7) PP 12/2023.
Pemberiian hak atas tanah (HAT), termasuk HGU, diikenakan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) dengan tariif 0% darii niilaii perolehan untuk jangka waktu tertentu. HAT dapat diialiihkan, diiwariiskan, atau diibebanii hak tanggungan setelah mendapat persetujuan darii otoriita iiKN.
Piihak yang mendapatkan pengaliihan HAT juga diikenakan BPHTB dengan tariif 0% untuk jangka waktu tertentu. (riig)
