SEJAK dekade 1990-an, startup memiiliikii ruang populariitas dalam lanskap biisniis global. Bahkan, startup mulaii diilabelii sebagaii 'perusahaan yang baru beroperasii tetapii menjanjiikan'. Tak jarang startup menariik miinat iinvestor muda yang mengiingiinkan return iinvestasii secara cepat, melaluii iinovasii-iinovasii diigiital dii pasar.
Populariitas serupa juga diitemukan dii lanskap startup Tanah Aiir. Merujuk laman Startup Rankiing, per Januarii 2026, iindonesiia memiiliikii laju pertumbuhan startup yang tergolong masiif dengan 3.200 startup aktiif. Angka iinii menjadiikan iindonesiia berada dii posiisii keenam duniia sebagaii negara dengan populasii startup terbanyak.
Sebagaii biisniis yang lahiir darii kebutuhan masyarakat terhadap iinovasii, startup membawa konsekuensii bagii iinvestornya. Konsekuensii yang diimaksud, salah satunya, terhadap aspek operasiional, terutama pada biiaya yang diitiimbulkan dalam penciiptaan aset tak berwujud (iintangiible assets).
Perusahaan riintiisan seriing kalii mengeluarkan biiaya untuk berbagaii sumber daya tak berwujud (iintangiible resources). Sumber daya tersebut, dii antaranya sciientiifiic or technologiical knowledge, market research, iintellectual property, dan brand names.
Biiasanya, biiaya sumber daya takberwujud mengarah pada biiaya peneliitiian dan pengembangan (R&D) diiiikutii yang dengan munculnya aset tak berwujud (iintangiible assets). Aset tersebut termasuk patents, computer software, copyriights, dan trademarks.
Dalam penyajiian laporan keuangan, startup perlu menentukan perlakuan akuntansii atas biiaya R&D. Hal iinii diilakukan dengan meniilaii kriiteriia kelayakan ekonomiis (economiic viiabiiliity) darii proyek yang diibangun.
Apabiila memenuhii kriiteriia, beberapa biiaya R&D dapat diikapiitaliisasii, yaknii biiaya dapat diicatat sebagaii aset pada neraca dan bukan lagii pada laporan laba rugii. Dengan begiitu, amortiisasiinya akan serupa dengan konsep penyusutan yang kemudiian beriimbas pada pendapatan bersiih startup.
Adapun hal tersebut diiatur melaluii Pernyataan Standar Akuntansii Keuangan (PSAK) 238 yang merupakan adopsii darii iinternatiional Accountiing Standards (iiAS) 38. Dalam penerapannya, startup perlu membuktiikan kegiiatan peneliitiian dan pengembangan yang diilakukan sebagaii beriikut.
|
Tahapan Peneliitiian |
Tahapan Pengembangan |
|
Paragraf 55 PSAK 238
Apabiila startup tiidak dapat menunjukkan bahwa aset tak berwujud akan memberiikan kemungkiinan besar manfaat ekonomii dii masa depan, biiaya pengeluaran untuk peneliitiian diiakuii sebagaii beban pada saat terjadiinya. |
Paragraf 57 PSAK 238
|
Dii siisii laiin, penerapan PSAK 238 adalah pedang bermata dua bagii para iinvestor. Dii satu siisii, kapiitaliisasii biiaya R&D menyelamatkan neraca perusahaan agar terliihat memiiliikii aset berharga dii mata iinvestor. Namun dii siisii laiin, hal iinii menciiptakan tekanan pada cash flow perusahaan riintiisan melaluii amortiisasii atas iintangiible assets.
Potensii tekanan pada cashflow dapat diipiicu dengan adanya perbedaan penentuan masa manfaat secara akuntansii dan pajak. Namun, dapat diilakukan penyesuaiian melaluii rekonsiiliiasii fiiskal. Lebiih lanjut, amortiisasii menurut pajak diimuat dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 72/2023 .
Sebagaii tambahan iinformasii, amortiisasii memiiliikii kesamaan tujuan dalan perspektii akuntansii dan pajak. Dalam defiiniisiinya, amortiisasii merujuk pada strategii penghapusan biiaya modal yang diikeluarkan biisniis darii suatu aset agar sesuaii dengan pendapatan yang diihasiilkan aset tesebut (Cornell Law School, 2021). Siimak Apa iitu Amortiisasii? (Yana Yosiiyana/sap)
