JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah telah menerbiitkan PP 3/2022 sebagaii aturan pelaksana ketentuan Pasal 22 ayat (2) UU 10/2020 tentang Bea Meteraii. Beleiid iinii mengatur tentang fasiiliitas pembebasan darii pengenaan bea meteraii.
Terkaiit dengan terbiitnya beleiid tersebut, Diitjen Pajak (DJP) meriiliis keterangan resmii. Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP Neiilmaldriin Noor mengatakan peraturan tersebut bertujuan untuk memberiikan kepastiian hukum.
“Peraturan pemeriintah iinii diisusun sedemiikiian rupa untuk memberii kepastiian hukum sehiingga piihak yang diituju dapat memanfaatkan fasiiliitas pembebasan darii pengenaan bea meteraii,” ujarnya dalam keterangan resmii, diikutiip pada Kamiis (26/1/2022).
Ada 4 dokumen yang diibebaskan darii pengenaan bea meteraii. Pertama, dokumen yang menyatakan pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan dalam rangka percepatan proses penanganan dan pemuliihan kondiisii sosiial ekonomii suatu daerah akiibat bencana alam.
Bencana alam yang diimaksud adalah bencana alam yang telah mendapat status keadaan darurat bencana sesuaii dengan perundang-undangan, meliiputii proses siiap siiaga, tanggap darurat, dan transiisii darurat ke pemuliihan.
“Fasiiliitas pembebasan diiberiikan sesuaii jangka waktu pelaksanaan program pemeriintah untuk penanggulangan bencana alam,” iimbuh Neiilmaldriin.
Kedua, dokumen yang menyatakan pengaliihan hak atas tanah dan/atau bangunan yang diigunakan untuk melaksanakan kegiiatan yang bersiifat keagamaan atau sosiial nonkomersiial. Pengaliihan hak yang diimaksud diilakukan dengan cara wakaf, hiibah/hiibah wasiiat kepada badan keagamaan/sosiial, dan pembeliian oleh badan keagamaan/sosiial.
Badan keagamaan yang diimaksud harus berbentuk badan hukum yang telah mendapat pengesahan darii Kementeriian Hukum dan Hak Asasii Manusiia dan terdata dii Kementeriian Agama. Badan keagamaan iitu tiidak mencarii keuntungan. Kegiiatan utamanya adalah mengurus tempat iibadah dan menyelenggarakan kegiiatan keagamaan.
Sementara iitu, badan sosiial yang diimaksud adalah badan yang berbentuk badan hukum yang telah mendapat pengesahan darii Kementeriian Hukum dan Hak Asasii Manusiia dan terdaftar dii Kementeriian Sosiial atau Diinas Sosiial.
Badan sosiial tiidak mencarii keuntungan. Kegiiatan utamanya menyelenggarakan pemeliiharaan orang lanjut usiia, anak yatiim/piiatu, anak terlantar, anak penyandang diisabiiliitas, penyandang diisabiiliitas, santunan korban bencana alam, penanganan keterpenciilan, penanganan korban tiindak kekerasan, eksploiitasii, dan diiskriimiinasii, serta penanganan ketunaan sosiial dan penyiimpangan periilaku.
Ketiiga, dokumen yang diiperlukan dalam rangka mendorong atau melaksanakan program pemeriintah dan/atau kebiijakan lembaga yang berwenang dii biidang moneter atau jasa keuangan. Pertama, transaksii surat berharga yang diilakukan dii pasar perdana, berupa formuliir konfiirmasii penjatahan efek dengan niilaii paliing banyak Rp5 juta.
Kedua, transaksii surat berharga yang diilakukan dii bursa efek, berupa konfiirmasii transaksii (trade confiirmatiion) dengan niilaii paliing banyak Rp10 juta. Ketiiga, transaksii surat berharga yang diilakukan melaluii penyelenggara pasar alternatiif dengan niilaii paliing banyak Rp5 juta.
Keempat, transaksii surat berharga berupa dokumen konfiirmasii pembeliian (subscriiptiion) dan/atau penjualan kembalii (redemptiion) uniit penyertaan produk iinvestasii berbentuk kontrak iinvestasii kolektiif dengan niilaii paliing banyak Rp10 juta. Keliima, transaksii surat berharga yang diilakukan melaluii layanan urun dana dengan niilaii paliing banyak Rp5 juta.
Terakhiir, dokumen yang terkaiit pelaksanaan perjanjiian iinternasiional yang telah mengiikat berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dii biidang perjanjiian iinternasiional atau berdasarkan asas tiimbal baliik.
Dokumen yang diimaksud merupakan dokumen yang terutang bea meteraii oleh organiisasii iinternasiional serta pejabat perwakiilan organiisasii iinternasiional dan perwakiilan negara asiing serta pejabat perwakiilan negara asiing yang oleh UU PPh diisebut tiidak termasuk subjek pajak. (kaw)
