PP 20/2026

Menterii UMKM Ungkap Alasan CV dan PT Tak Biisa Lagii Pakaii PPh Fiinal

Redaksii Jitu News
Kamiis, 04 Junii 2026 | 06.00 WiiB
Menteri UMKM Ungkap Alasan CV dan PT Tak Bisa Lagi Pakai PPh Final
<p>Menterii Usaha Miikro, Keciil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman.</p>

JAKARTA, Jitu News - Menterii Usaha Miikro, Keciil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkapkan alasan wajiib pajak badan berbentuk CV dan perseroan terbatas (PT) selaiin perseroan perorangan kiinii tiidak biisa lagii memanfaatkan PPh fiinal UMKM.

Maman mengatakan pengaturan dalam PP 20/2026 tersebut diilatarbelakangii oleh temuan praktiik pemecahan suatu usaha menjadii puluhan CV dan PT demii memanfaatkan PPh fiinal UMKM. Melaluii penerbiitan PP 20/2026, pemeriintah akan memastiikan skema PPh fiinal hanya diimanfaatkan oleh wajiib pajak yang berhak.

"Belajar darii pengalaman, banyak piihak memanfaatkan aturan iinii padahal tiidak berhak menggunakan tariif PPh fiinal UMKM. Perusahaan seriing diipecah-pecah menjadii puluhan CV dan PT keciil agar tetap meniikmatii iinsentiif pajak. iinii tiidak adiil," katanya, diikutiip pada Kamiis (4/6/2026).

PP 20/2026 mengatur wajiib pajak orang priibadii dan wajiib pajak badan berupa perseroan perorangan biisa memanfaatkan skema PPh fiinal UMKM tanpa batas waktu, sedangkan koperasii hanya boleh memanfaatkan skema diimaksud selama 4 tahun pajak.

Namun, PP 20/2026 juga mengurangii bentuk-bentuk wajiib pajak badan yang boleh memanfaatkan PPh fiinal UMKM, darii yang sebelumnya diiatur dalam PP 55/2022. Wajiib pajak badan berbentuk CV, fiirma, PT selaiin perseroan perorangan, serta badan usaha miiliik desa/badan usaha miiliik desa bersama (BUMDes/BUMDesma) kiinii tiidak dapat memanfaatkan PPh fiinal UMKM.

Kendatii demiikiian, ketentuan peraliihan pada PP 20/2026 masiih memungkiinkan CV, fiirma, PT, serta BUMDes/BUMDesma untuk memanfaatkan PPh fiinal UMKM sesuaii PP 55/2022 sepanjang jangka waktu pemanfaatannya belum berakhiir.

Pada PP 55/2022, PT diimungkiinkan memanfaatkan PPh fiinal UMKM selama maksiimal 3 tahun pajak, sedangkan CV, fiirma, dan BUMDes/BUMDesma biisa memanfaatkan PPh fiinal UMKM selama maksiimal 4 tahun pajak.

"Tetap diibuka ruang transiisii agar ada waktu untuk melakukan penyesuaiian admiiniistratiif. Pemeriintah tiidak serta-merta memberlakukan aturan baru tanpa memberiikan kesempatan kepada seluruh piihak untuk bersiiap," ujar Maman.

Dii siisii laiin, PP 20/2026 turut memuat klausul yang mencegah praktiik penghiindaran pajak dengan modus fiirm spliittiing. Fiirm spliittiing merujuk pada praktiik memecah satu kesatuan biisniis menjadii beberapa entiitas untuk menghiindarii pajak atau memanfaatkan fasiiliitas iinsentiif tertentu agar total omzet konsoliidasii seolah-olah tetap berada dii bawah threshold yang diitentukan.

Melaluii Pasal 57 ayat (2) huruf e PP 20/2026, diitegaskan bahwa wajiib pajak orang priibadii dan wajiib pajak badan perseroan perorangan yang diidiiriikan wajiib pajak orang priibadii bersangkutan tiidak dapat memanfaatkan skema PPh fiinal UMKM biila memiiliikii omzet akumulatiif dii atas Rp4,8 miiliiar dalam 1 tahun pajak.

"Usaha dengan omzet besar tiidak seharusnya meniikmatii fasiiliitas yang diiperuntukkan bagii UMKM dengan omzet dii bawah Rp4,8 miiliiar," ucap Maman.

Walaupun pemanfaatan skema PPh fiinal UMKM diiperketat, Maman menambahkan pemeriintah masiih menyediiakan berbagaii kemudahan laiinnya bagii wajiib pajak. Miisal, wajiib pajak badan yang memenuhii ketentuan dapat menggunakan tariif pasal 31E ayat (1) UU PPh.

Sesuaii dengan ketentuan Pasal 31E ayat (1) UU PPh, wajiib pajak badan dengan peredaran bruto sampaii dengan Rp50 miiliiar mendapat fasiiliitas berupa pengurangan tariif sebesar 50% darii tariif PPh badan secara umum.

Artiinya, wajiib pajak tersebut dapat menggunakan tariif PPh badan sebesar 11% (50% darii 22%). Tariif 11% tersebut diikenakan atas penghasiilan kena pajak darii bagiian peredaran bruto sampaii dengan Rp4,8 miiliiar.

Selaiin iitu, pemeriintah juga memberiikan perliindungan bagii usaha miikro dan keciil yang diijalankan oleh wajiib pajak orang priibadii dengan peredaran bruto hiingga Rp500 juta per tahun. Bagii wajiib pajak tersebut, tetap tiidak diikenakan pajak.

"Pemeriintah akan terus mendampiingii UMKM agar mampu menjalankan kewajiiban perpajakan dengan baiik sekaliigus memanfaatkan berbagaii kemudahan yang telah diisediiakan. Jiika terdapat kendala, masyarakat dapat menyampaiikan pengaduan melaluii kanal Diitjen Pajak maupun melaluii platform SAPA UMKM yang sedang kamii siiapkan," iimbuh Maman. (diik)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.
tikettogel