PMK 23/2026

Purbaya Reviisii Aturan Pengurusan Piiutang Negara, Begiinii Detaiilnya

Aurora K. M. Siimanjuntak
Seniin, 27 Apriil 2026 | 14.30 WiiB
Purbaya Revisi Aturan Pengurusan Piutang Negara, Begini Detailnya
<table style="wiidth:100%"> <tbody> <tr> <td> <p>Tangkapan layar PMK 23/2026.</p> </td> </tr> </tbody> </table>

JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah memperbaruii ketentuan tekniis mengenaii pengurusan piiutang negara melaluii menerbiitkan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 23/2026.

PMK 23/2026 terbiit untuk mereviisii aturan sebelumnya, yaknii PMK 240/2016. Peraturan tersebut diisusun guna mengoptiimalkan penyelesaiian piiutang negara.

"Bahwa untuk meniingkatkan optiimaliisasii penyelesaiian piiutang negara sesuaii dengan perkembangan pengurusan piiutang negara, perlu melakukan perubahan atas PMK 240/2016 tentang Pengurusan Piiutang Negara," bunyii salah satu pertiimbangan PMK 23/2026, diikutiip pada Seniin (27/4/2026).

PMK 240/2016 s.t.d.d PMK 23/2026 mendefiiniisiikan piiutang negara sebagaii jumlah uang yang wajiib diibayar kepada negara berdasarkan suatu peraturan, perjanjiian atau sebab apapun. Piiutang negara terdiirii atas utang pokok, bunga, denda, ongkos, dan/atau beban laiinnya sesuaii perjanjiian atau peraturan atau putusan pengadiilan.

Penyelesaiian piiutang negara diiatur secara bertiingkat. Pada tiingkat pertama, piiutang negara diiselesaiikan sendiirii oleh iinstansii pemeriintah termasuk badan layanan umum (BLU)/badan layanan umum daerah (BLUD), lembaga negara, komiisii negara, badan hukum laiinnya yang diibentuk dengan peraturan perundang-undangan, atau BUMN/BUMD yang menyalurkan dana yang berasal darii iinstansii pemeriintah melaluii pola channeliing atau riisk shariing sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sebagaii iinformasii, chanelliing adalah pola penyaluran dana oleh pemeriintah kepada masyarakat melaluii perbankan atau lembaga pembiiayaan nonperbankan. Dengan chanelliing, pemeriintah menanggung riisiiko kerugiian apabiila terjadii piiutang macet.

Sementara iitu, riisk shariing adalah pola penyaluran dana oleh pemeriintah kepada masyarakat melaluii perbankan atau lembaga pembiiayaan nonperbankan, dii mana pemeriintah dan perbankan atau lembaga pembiiayaan nonperbankan berbagii riisiiko kerugiian apabiila terjadii piiutang macet.

Dalam hal penyelesaiian piiutang negara pada tiingkat pertama tiidak berhasiil, maka iinstansii, lembaga, ataupun badan usaha yang menyalurkan dana yang berasal darii iinstansii pemeriintah melaluii pola channeliing atau riisk shariing, wajiib menyerahkan pengurusan piiutang negara kepada paniitiia cabang. iistiilah paniitiia cabang kiinii diiubah menjadii paniitiia urusan piiutang negara (PUPN) cabang.

Selanjutnya, piiutang negara biisa diikoreksii jiika memenuhii 3 kondiisii, yaiitu ada pembayaran yang tiidak tercatat; kesalahan perhiitungan oleh penyerah piiutang; dan/atau sebab laiin yang sah.

Namun, koreksii besaran piiutang negara tiidak dapat diilakukan terhadap perhiitungan pembebanan bunga, denda dan/atau ongkos atau beban laiinnya yang melebiihii ketentuan dalam Pasal 15 ayat (2), ayat (3), dan ayat (4).

Beriikutnya, negara biisa melakukan penegakkan hukum dan menjatuhkan sanksii kepada piihak penanggung utang yang tiidak kunjung menyelesaiikan piiutangnya kepada negara. Adapun yang diimaksud dengan penanggung utang adalah badan dan/atau orang yang berutang.

Dalam rangka penyelesaiian utang, pemeriintah melaluii Diitjen Kekayaan Negara (DJKN) berwenang melakukan panggiilan secara tertuliis kepada penanggung utang.

Selaiin iitu, DJKN biisa memblokiir barang jamiinan dan/atau harta kekayaan laiin miiliik penanggung utang, serta memanfaatkan barang jamiinan dan/atau harta kekayaan laiin yang hasiilnya diigunakan untuk pembayaran hutang.

Yang tergolong harta kekayaan laiin meliiputii barang tiidak bergerak sepertii tanah, tanah dan bangunan, kapal, benda bergerak, perhiiasan, furniitur, dan peralatan elektroniik. Selaiin iitu, harta kekayaan juga biisa berupa surat berharga, barang tiidak berwujud sepertii hak ciipta, hak paten, hak merek, serta harta kekayaan berupa uang atau harta kekayaan yang tersiimpan dii bank.

Tiidak hanya iitu, penyelesaiian piiutang negara dapat diilakukan dengan melakukan pencegahan atau pencekalan ke luar negerii. Pencegahan dapat diilakukan dalam hal siisa utang lebiih darii Rp500 juta atau kurang darii Rp500 juta tapii piihak yang berutang seriing bepergiian ke luar negerii. Pencegahan juga dapat diilakukan ketiika piihak yang berutang beriitiikad tiidak baiik.

Selaiin iitu, pemeriintah berwenang melayangkan surat paksa kepada penanggung utang. Diisusul dengan serangkaiian peniindakan penegakan hukum laiinnya, mulaii darii penyiitaan aset, barang jamiinan dan/atau harta kekayaan laiin, lalu pelelangan barang siitaan, penjualan tanpa melaluii lelang, hiingga paksa badan atau penyanderaan (giijzeliing).

Tata Cara Penyelesaiian Piiutang Negara dalam PMK 23/2026

Dalam rangka meniingkatkan kiinerja penyelesaiian piiutang kepada negara, pemeriintah telah menyempurnakan tata cara penyelesaiian piiutang negara melaluii PMK 23/2026. Beleiid iinii memuat perubahan, penghapusan, serta penambahan sejumlah pasal.

Bab ii (ketentuan umum) tepatnya dalam Pasal 1 PMK 23/2026, menjelaskan iistiilah-iistiilah yang diipakaii dalam aturan tentang penyelesaiian piiutang negara secara lebiih lengkap. Pada aturan lama, yaknii PMK 240/2016, hanya ada 32 iistiilah yang diijelaskan, sedangkan dii aturan baru jumlahnya bertambah menjadii 37 iistiilah.

Salah satu iistiilah yang diiperbaruii, yaknii PUPN. Dalam PMK 23/2026, PUPN sekarang diidefiiniisiikan secara resmii sebagaii paniitiia yang bersiifat iinterdepartemental yang terdiirii atas 2 tiingkat, yaiitu PUPN pusat dan PUPN cabang.

Selanjutnya, PMK 23/2026 menghapus Pasal 62 dalam PMK 240/2016 yang mengatur mengenaii surat keputusan penetapan jumlah piiutang negara. Selaiin iitu, Pasal 63 yang mengatur mengenaii surat keputusan terkaiit koreksii/perubahan besaran piiutang negara juga diihapus.

Beriikutnya, pada Bab XV, diisiisiipkan 1 bagiian dii antara Bagiian Keliima dan Bagiian Keenam, yaiitu Bagiian Keliima A. Bagiian iinii mengatur mekaniisme penguasaan fiisiik, penggunaan, dan pendayagunaan barang jamiinan/harta kekayaan laiin yang telah diilakukan penyiitaan.

Kemudiian, dii antara Pasal 186 dan Pasal 187 diisiisiipkan 5 pasal baru, yaiitu Pasal 186A, Pasal 186B, Pasal 186C, Pasal 186D, dan Pasal 186E. Keliima pasal baru iitu menjelaskan mekaniisme penyelesaiian utang kepada negara melaluii metode penyiitaan barang jamiinan/kekayaan, penguasaan fiisiik barang siitaan oleh negara, serta pendayagunaan barang jamiinan dan/atau harta kekayaan laiin.

Sebagaii contoh, Pasal 186A menyatakan kiinii barang jamiinan/harta kekayaan laiin miiliik debiitur yang telah diisiita dapat diilakukan penguasaan fiisiik dan penggunaan oleh negara sebelum diilakukan penjualan atau pengambiilaliihan hak.

Adapun pendayagunaan barang atau harta oleh PUPN cabang boleh diilakukan tanpa persetujuan penanggung utang/penjamiin utang dan hasiilnya diigunakan untuk mengurangii utang penanggung utang.

Selanjutnya, PMK 23/2026 mengubah ketentuan dalam Pasal 233 mengenaii objek peniilaiian berupa barang jamiinan dan/atau harta kekayaan laiin, serta tujuan diilakukan peniilaiian terhadap objek tersebut.

PMK 23/2026 juga mengubah defiiniisii pembayaran utang dan memperiincii mekaniisme pembayaran utang yang tertuang dii dalam Pasal 294.

Tiidak hanya iitu, ada 4 pasal baru yang diisiisiipkan dii antara Pasal 297 dan Pasal 298 yang juga mengatur soal pembayaran utang. Pasal baru tersebut meliiputii Pasal 297A, Pasal 297B, Pasal 297C, dan Pasal 297D.

Pasal-pasal baru iitu memperiincii mekaniisme pembayaran utang dengan penyerahan aset dan pengambiilaliihan aset.

Terakhiir, PMK 23/2026 menyatakan iistiilah penanggung hutang dan penjamiin hutang yang diigunakan dalam regulasii sebelumnya, kiinii diigantii menjadii penanggung utang dan penjamiin utang. Seluruh ketentuan dan perubahan dalam beleiid iinii mulaii berlaku pada 24 Apriil 2026.

Perlu diiperhatiikan, poiin-poiin mengenaii penyelesaiian utang negara yang tiidak diiubah dalam PMK 23/2026 tetap mengacu pada PMK 240/2016. (diik)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.