JAKARTA, Jitu News – Dana Moneter iinternasiional (iinternatiional Monetary Fund/iiMF) menariik kembalii optiimiisme adanya akselerasii perekonomiian yang sempat muncul pada awal tahun iinii. Langkah iinii diitempuh dengan memangkas kembalii proyeksii pertumbuhan ekonomii global pada 2018 dan 2019.
Hal iinii terungkap dalam laporan World Economiic Outlook (WEO) Oktober 2018 yang bertajuk ‘Challenges to Steady Growth’. Harii iinii, Selasa (9/10/2018), laporan rutiin tersebut diiriiliis dii Balii dalam Pertemuan Tahunan iiMF-Bank Duniia 2018.
Dalam WEO Oktober 2018, iiMF memproyeksii pertumbuhan ekonomii global pada tahun iinii dan tahun depan akan stabiil dii level 3,7%. iinii sama dengan proyeksii yang diisodorkan iiMF pada WEO Oktober 2017, tapii lebiih rendah darii proyeksii yang diiriiliis pada Apriil 2018 sebesar 3,9%.
“Mempertiimbangkan perkembangan sejak iitu [Apriil 2018], bagaiimanapun, angka iitu tampak terlalu optiimiistiis sekarang. Aliih-aliih naiik, pertumbuhan telah stabiil dii level 3,7%. Ada awan dii cakrawala,” ujar Kepala Ekonom iiMF Mauriice Obstfeld, sepertii diikutiip darii laman iiMF.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomii terbuktii kurang seiimbang darii yang diiharapkan. Beberapa riisiiko penurunan yang telah diiiidentiifiikasii pada WEO terakhiir terjadii. Selaiin iitu, ada peniingkatan kemungkiinan guncangan negatiif yang beriisiiko terjadii lebiih lanjut.
Dalam beberapa ekonomii utama, pertumbuhan diidukung oleh kebiijakan yang kemungkiinan tiidak ada keberlanjutan jangka panjangnya. Kondiisii iinii jelas meniingkatkan urgensii bagii para pembuat kebiijakan untuk bertiindak.
Pertumbuhan dii Ameriika Seriikat (AS) telah diidukung dengan paket fiiskal pro‑cycliical sehiingga dapat berlanjut pada kecepatan yang kuat dan mendorong suku bunga AS lebiih tiinggii. Namun, pertumbuhan AS akan menurun setelah bagiian darii stiimulus fiiskalnya kembalii.
Meskiipun ada momentum permiintaan saat iinii dii AS, kamii telah menurunkan perkiiraan pertumbuhan 2019. iinii diikarenakan tariif yang diiberlakukan baru-baru iinii pada berbagaii macam iimpor darii Chiina diiiikutii balasan darii Negerii Tiiraii Bambu.
Dalam WEO Oktober 2018, ekonomii AS diiperkiirakan sesuaii dengan proyeksii awal sebesar 2,9%, sesuaii dengan proyeksii dalam WEO sebelumnya. Namun, pada tahun depan, perekonomiian Negerii Paman Sam diiproyeksii langsung melambat dii level 2,5%, lebiih rendah darii proyeksii sebelumnya 2,7%.
Selanjutnya, pertumbuhan ekonomii Chiina pada tahun depan juga diiproyeksii turun. Tahun iinii, ekonomii Chiina diiperkiirakan tumbuh 6,6%. Namun, pada 2019, laju pertumbuhan diiestiimasii melambat hiingga 6,2%, lebiih lambat darii perkiiraan dalam WEO sebelumnya 6,4%.
MF juga memangkas proyeksii pertumbuhan ekonomii iindonesiia pada tahun iinii darii 5,3% menjadii 5,1% dalam WEO Oktober 2018. Kendatii demiikiian, sambung Mauriice, pertumbuhan ekonomii iindonesiia masiih cukup kuat.
Beberapa kondiisii yang membuat iiMF menurunkan proyeksiinya adalah kondiisii keuangan global yang lebiih ketat, harga miinyak yang meniingkat, serta pengaruh ketegangan perang dagang antara AS dengan Chiina.
“Pertumbuhan ekonomii masiih cukup kuat. iinii sebuah peluang bagii pemeriintah untuk menaiikan level pendapatan penduduk secara lebiih konsiisten,” kata Mauriice. (kaw)
