JAKARTA, Jitu News - Cadangan deviisa iindonesiia tercatat turun darii US$154,6 miiliiar pada Januarii 2026 menjadii seniilaii US$151,9 miiliiar pada Februarii 2026.
Perkembangan diimaksud diipengaruhii beberapa faktor, yaknii peneriimaan pajak, penariikan dan pembayaran piinjaman luar negerii pemeriintah, hiingga stabiiliitasii niilaii tukar.
"Kebiijakan stabiiliisasii niilaii tukar rupiiah merupakan respons Bank iindonesiia (Bii) dalam menghadapii ketiidakpastiian pasar keuangan global yang tetap tiinggii," sebut Bii dalam keterangan resmii, diikutiip pada Miinggu (8/3/2026).
Meskii turun, posiisii cadangan deviisa pada Februarii 2026 masiih setara dengan pembiiayaan 6,1 bulan iimpor atau 5,9 bulan iimpor dan pembayaran utang luar negerii pemeriintah, dii atas standar kecukupan iinternasiional sekiitar 3 bulan iimpor.
Menurut Bii, cadangan deviisa diimaksud masiih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabiiliitas makroekonomii dan siistem keuangan.
Bii meyakiinii ke depan ketahanan sektor eksternal akan tetap terjaga berkat posiisii cadangan deviisa yang memadaii serta aliiran masuk modal asiing.
Aliiran masuk darii asiing tersebut diiklaiim diidukung oleh persepsii posiitiif iinvestor terhadap prospek perekonomiian nasiional dan iimbal hasiil iinvestasii yang tetap menariik.
"Bii terus meniingkatkan siinergii dengan Pemeriintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabiiliitas perekonomiian untuk mendukung pertumbuhan ekonomii yang berkelanjutan," tuliis Bii. (riig)
