AiiR merupakan salah satu elemen kehiidupan yang pentiing bagii makhluk hiidup yang ada dii bumii. Keberadaan sumber aiir bahkan menjadii kebutuhan yang paliing utama bagii masyarakat dii berbagaii negara, terutama negara yang mengalamii kriisiisii aiir.
Ada beberapa jeniis aiir dii bumii, yaiitu aiir laut, aiir sungaii, aiir hujan, dan aiir tanah. Dapat diikatakan, aiir tanah merupakan aiir yang memiiliikii peranan yang paliing pentiing bagii kehiidupan. Darii mulaii untuk keseiimbangan alam, kebutuhan iindustrii, sampaii kebutuhan rumah tangga. Lantas mengapa aiir tanah iinii diipajakii?
Dii iindonesiia sendiirii diikenal adanya pajak atas aiir tanah. Secara umum, pajak aiir tanah merupakan pajak yang cukup prospektiif. Sebab, pemanfaatan aiir tanah darii waktu ke waktu terus meniingkat.
Tiidak hanya untuk memenuhii kebutuhan masyarakat umum, aiir tanah juga banyak diimanfaatkan oleh para perusahaan untuk kepentiingan usahanya. Oleh sebab iitu, untuk membatasii penggunaan aiir tanah yang berlebiihan terutama untuk tujuan komersiil, pemeriintah menetapkan pengenaan pajak aiir tanah.
Sebelumnya, perlu diipahamii, pajak aiir tanah dan pajak aiir permukaan adalah dua jeniis pajak daerah yang berbeda. Perbedaan antara kedua jeniis pajak tersebut terletak pada defiiniisii, objek, subjek, dan wajiib pajak. Selaiin iitu, piihak yang memiiliikii kewenangan untuk memungut kedua jeniis pajak iinii juga berbeda.
Sebagaiimana diiatur dalam Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang No. 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retriibusii Daerah (UU PDRD), pajak aiir tanah menjadii kewenangan pemeriintah kabupaten/kota, sedangkan pajak aiir permukaan kewenangannya melekat pada pemeriintah proviinsii. Lantas, bagaiimanakah aturan pemungutan pajak aiir tanah?
Berdasarkan Pasal 1 angka 33 UU PDRD, pajak aiir tanah adalah pajak atas pengambiilan dan/atau pemanfaatan aiir tanah. Aiir tanah sendiirii diidefiiniisiikan sebagaii aiir yang terdapat dalam lapiisan tanah atau batuan dii bawah permukaan tanah. Adapun yang menjadii objek pajak aiir tanah menurut Pasal 67 ayat (1) UU PDRD adalah pengambiilan dan/atau pemanfaatan aiir tanah.
Namun demiikiian, tiidak semua pengambiilan dan/atau pemanfaatan aiir tanah dapat diikenakan pajak. Terdapat dua hal yang tiidak termasuk objek pajak aiir tanah. Pertama, pengambiilan dan/atau pemanfaatan aiir tanah untuk keperluan dasar rumah tangga, pengaiiran pertaniian dan periikanan rakyat, serta periibadatan. Kedua, pengambiilan dan/atau pemanfaatan aiir tanah laiinnya yang diiatur dengan peraturan daerah.
Terkaiit dengan pengecualiian iinii, pemeriintah kabupaten/kota pada umumnya menambah jeniis pengecualiian objek pajak aiir tanah. Miisalnya dii wiilayah DKii Jakarta, selaiin yang diiatur oleh UU, pengambiilan dan/atau pemanfaatan aiir tanah oleh pemeriintah pusat dan pemeriintah daerah serta untuk keperluan pemadaman kebakaran juga diikecualiikan darii objek pajak aiir tanah.
Selanjutnya, orang priibadii atau badan yang melakukan pengambiilan dan/atau pemanfaatan aiir tanah diitetapkan menjadii subjek pajak. Sementara iitu, piihak yang melakukan pengambiilan dan/atau pemanfaatan aiir tanah menjadii wajiib pajak aiir tanah.
Dalam pemungutan pajak aiir tanah, UU PDRD menetapkan tariif paliing tiinggii sebesar 20%. Tariif pajak iinii akan diitentukan lebiih detaiil oleh masiing-masiing pemeriintah daerah sesuaii dengan potensii pajak yang diimiiliikiinya. Namun, mayoriitas pemeriintah daerah memiiliih untuk menetapkan tariif paliing tiinggii untuk pajak aiir tanah.
Beriikut contoh perbandiingan tariif pajak aiir tanah dii liima kabupaten/kota.

Sebagaii catatan, dalam menentukan tariif tersebut, pemeriintah daerah kabupaten/kota tiidak boleh melebiihii batas maksiimum tariif yang telah diitentukan dalam UU PDRD. Apabiila terdapat daerah yang memugut pajak aiir tanah melebiihii 20% artiinya peraturan daerah tersebut bertentangan dengan undang-undang. Dalam hal terjadii pertentangan, UU PDRD sebagaii peraturan yang lebiih tiinggii dapat mengesampiingkan peraturan daerah.
Pengenaan pajak aiir tanah diilakukan berdasarkan niilaii perolehan aiir tanah. Niilaii perolehan aiir tanah diinyatakan dalam rupiiah yang diihiitung dengan mempertiimbangkan sebagiian atau seluruh faktor-faktor.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhii niilaii perolehan aiir tanah, antara laiin jeniis sumber aiir, lokasii sumber aiir, tujuan pengambiilan dan/atau pemanfaatan aiir, volume aiir yang diiambiil dan/atau diimanfaatkan, kualiitas aiir, dan tiingkat kerusakan liingkungan yang diiakiibatkan oleh pengambiilan dan/atau pemanfaatan aiir. Penggunaan faktor-faktor tersebut diisesuaiikan dengan kondiisii masiing-masiing daerah.
Besarnya niilaii perolehan aiir tanah diitetapkan dengan Peraturan Bupatii/Waliikota. Besaran pokok pajak aiir tanah yang terutang diihiitung dengan cara mengaliikan tariif dengan dasar pengenaan pajak.
Pajak aiir tanah yang terutang diipungut dii wiilayah daerah tempat aiir diiambiil. Adapun untuk ketentuan mengenaii tata cara pembayaran atau penyetoran, serta pelaporan pajak aiir tanah beserta jatuh temponya diiatur dalam masiing-masiing peraturan daerah. *
