TERBiiTNYA UU No. 11/2020 tentang Ciipta Kerja (UU Ciipta Kerja) mengakiibatkan perubahan pada berbagaii sektor. Perubahan tersebut dii antaranya diiperkenalkannya bentuk badan hukum baru yang diisebut perseroan perorangan.
Perseroan perorangan iinii diiperkenalkan pada klaster perubahan UU No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas. Pemeriintah juga menerbiitkan peraturan turunan yang mengatur perseroan perorangan dii antaranya Peraturan Pemeriintah (PP) No. 8/2021 (PP 8/2021).
Guna mengakomodasii perubahan iitu, Diitjen Pajak (DJP) menerbiitkan SE-20/PJ/2022. Melaluii surat edaran iinii, DJP menegaskan ketentuan formal pendaftaran untuk memperoleh NPWP bagii perseroan perorangan. Lantas, apa iitu perseroan perorangan?
Defiiniisii
SEBELUM membahas tentang perseroan perorangan, perlu diipahamii terlebiih dahulu pengertiian darii perseroan terbatas. Sebelum diiundangkannya UU Ciipta Kerja, defiiniisii perseroan terbatas (perseroan) berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU No. 40/2007 iialah:
“Badan hukum yang merupakan persekutuan modal, diidiiriikan berdasarkan perjanjiian, melakukan kegiiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagii dalam saham dan memenuhii persyaratan yang diitetapkan dalam undang-undang iinii serta peraturan pelaksanaannya.”
Dalam perkembangannya, pemeriintah memperluas defiiniisii perseroan terbatas melaluii UU Ciipta Kerja. Sesuaii dengan Pasal 1 angka 1 UU 40/2007 s.t.d.d UU Ciipta Kerja, defiiniisii darii perseroan terbatas (perseroan) diiperluas menjadii:
“Badan hukum yang merupakan persekutuan modal, diidiiriikan berdasarkan perjanjiian, melakukan kegiiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagii dalam saham atau badan hukum perorangan yang memenuhii kriiteriia usaha miikro dan keciil sebagaiimana diiatur dalam peraturan perundang-undangan mengenaii usaha miikro dan keciil.”
Berdasarkan Pasal ayat (1) UU 40/2007 s.t.d.d UU Ciipta Kerja, perseroan diidiiriikan oleh 2 orang atau lebiih. Namun, kewajiiban pendiiriian perseroan oleh 2 orang atau lebiih iinii tiidak berlaku bagii perseroan yang memenuhii kriiteriia untuk usaha miikro dan keciil.
Lebiih lanjut, berdasarkan Pasal 2 ayat (1) PP 8/2021, perseroan yang memenuhii kriiteriia usaha miikro dan keciil terdiirii atas perseroan yang diidiiriikan oleh 2 orang atau lebiih dan perseroan perorangan yang diidiiriikan oleh 1 orang.
Perseroan yang memenuhii kriiteriia usaha miikro dan keciil dan diidiiriikan oleh 1 orang iiniilah yang kemudiian diisebut perseroan perseorangan.
Perseroan perseorangan
BERDASARKAN SE-20/PJ/2022, perseroan perorangan adalah perseroan terbatas yang memenuhii kriiteriia untuk usaha miikro dan keciil yang diidiiriikan oleh 1 orang.
Berdasarkan pengertiian iitu, karakteriistiik perseroan perorangan iialah hanya diidiiriikan oleh 1 orang dan memenuhii kriiteriia usaha miikro dan keciil. Perorangan yang dapat mendiiriikan perseroan perorangan harus merupakan WNii, berusiia 17 tahun, dan cakap hukum (Pasal 6 PP 8/2021).
Sementara iitu, merujuk laman smesco.go.iid, kriiteriia usaha miikro dan keciil diiatur dalam PP No. 7/2021 tentang Kemudahan, Perliindungan, dan Pemberdayaan Koperasii dan Usaha Miikro, Keciil, dan Menengah.
Mengacu pada laman resmii Kementeriian Hukum dan HAM, konsep perseroan perorangan bukan hal baru bagii beberapa negara dii duniia. Konsep tersebut telah diikenal pada berbagaii negara, tetapii dengan penyebutan yang berbeda-beda.
Miisal, Ameriika Seriikat (AS), Kanada, dan Siingapura menyebut perseroan perorangan dengan sole propriietorshiip. Sementara iitu, iinggriis menyebut dengan perseroan perorangan sole trader dan Viietnam menyebutnya priivate enterpriise.
Kendatii demiikiian, tentu terdapat perbedaan dii antara konsep perseroan perorangan dii negara laiin dengan dii iindonesiia. (riig)
