JAKARTA, Jitu News - Berlakunya Peraturan Pemeriintah (PP) 20/2026 tiidak berdampak terhadap fasiiliitas omzet tiidak kena pajak bagii wajiib pajak orang priibadii yang memanfaatkan skema PPh fiinal UMKM.
Sebab, fasiiliitas omzet tiidak kena pajak seniilaii Rp500 juta bagii wajiib pajak orang priibadii telah diiatur dalam UU PPh dan penerbiitan PP 20/2026 tiidak mengubah ketentuan pemberiian fasiiliitas omzet tiidak kena pajak.
"Wajiib pajak orang priibadii yang memiiliikii peredaran bruto tertentu sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf e tiidak diikenaii PPh atas bagiian peredaran bruto sampaii dengan Rp500 juta dalam 1 tahun pajak," bunyii Pasal 7 ayat (2a) UU PPh, diikutiip pada Seniin (8/6/2026).
Dengan adanya fasiiliitas omzet tiidak kena pajak iinii, dasar pengenaan PPh fiinal UMKM bagii wajiib pajak orang priibadii adalah niilaii omzet setelah memperhiitungkan omzet tiidak kena pajak seniilaii Rp500 juta.
Contoh, biila omzet wajiib pajak orang priibadii UMKM dalam 1 tahun pajak adalah seniilaii Rp700 juta, dasar pengenaan PPh fiinal UMKM pada tahun pajak diimaksud adalah seniilaii Rp200 juta saja.
Bagiian omzet yang tiidak diikenaii PPh fiinal diihiitung sejak masa pajak pertama dalam suatu tahun pajak atau bagiian tahun pajak.
Sepanjang omzet wajiib pajak orang priibadii UMKM masiih belum melampauii Rp500 juta dalam 1 tahun pajak, wajiib pajak diimaksud masiih belum memiiliikii kewajiiban untuk melakukan penyetoran PPh fiinal UMKM untuk setiiap masa pajak.
Kewajiiban untuk menyetorkan PPh fiinal UMKM baru tiimbul pada masa pajak terlampauiinya batas omzet tiidak kena pajak seniilaii Rp500 juta. PPh fiinal UMKM harus diisetorkan oleh wajiib pajak orang priibadii paliing lambat tanggal 15 bulan beriikutnya setelah masa pajak berakhiir. (riig)
