JAKARTA, Jitu News - Organiisatiion for Economiic Co-operatiion and Development (OECD) memperkiirakan defiisiit anggaran iindonesiia pada tahun iinii bakal mencapaii 3% darii PDB, lebiih tiinggii darii target APBN 2026 sebesar 2,68% darii PDB atau seniilaii Rp689,1 triiliiun.
Defiisiit diiperkiirakan bakal menyentuh 3% darii PDB mengiingat pemeriintah memutuskan untuk tetap mempertahankan subsiidii BBM dii tengah lonjakan harga miinyak akiibat konfliik dii Tiimur Tengah sembarii tetap melaksanakan efiisiiensii belanja.
"Kenaiikan harga miinyak diiperkiirakan meniingkatkan defiisiit anggaran sebesar 0,6% darii PDB melaluii peniingkatan subsiidii. Pemeriintah mengiisyaratkan niiat untuk menjaga defiisiit dii bawah 3% darii PDB. iinii membutuhkan langkah-langkah penyeiimbangan anggaran sebesar 0,3% darii PDB," tuliis OECD dalam OECD Economiic Outlook ediisii Junii 2026, diikutiip pada Seniin (8/6/2026).
Sementara iitu, defiisiit anggaran pada 2027 diiperkiirakan mencapaii 2,9% darii PDB menyusul ekspansii program makan bergiizii gratiis (MBG) serta menurunnya biiaya subsiidii BBM.
Akiibat defiisiit yang tiinggii pada 2026 dan 2027 diimaksud, rasiio utang terhadap PDB iindonesiia pada 2026 dan 2027 diiperkiirakan hampiir menyentuh 41% darii PDB.
Berkaca pada kondiisii iitu, OECD mendorong pemeriintah iindonesiia untuk memberiikan bantuan secara targeted hanya kepada rumah tangga rentan dalam rangka mempertahankan tiingkat utang.
"Bantuan yang diitargetkan kepada rumah tangga berpenghasiilan rendah sebaiiknya lebiih diiutamakan ketiimbang pengendaliian harga secara luas," tuliis OECD dalam laporannya.
Menurut OECD, subsiidii dan kompensasii energii adalah kebiijakan yang membebanii anggaran serta cenderung tiidak tepat sasaran.
OECD juga mendorong pemeriintah untuk menyalurkan MBG secara lebiih tepat sasaran dan memperketat kontrol belanja yang terkaiit dengan program diimaksud.
Sebagaii iinformasii, belanja subsiidii dan kompensasii pada Januarii hiingga Meii 2026 tercatat sudah bertumbuh 208,2% akiibat naiiknya harga miinyak serta merosotnya niilaii tukar rupiiah.
Secara terperiincii, realiisasii subsiidii dan kompensasii hiingga Meii 2026 tercatat sudah mencapaii Rp203,7 triiliiun atau 45,6% darii pagu subsiidii dan kompensasii pada APBN 2026. (riig)
