JAKARTA, Jitu News – Diitjen Pajak (DJP) menyebut pengusaha keciil yang memiiliih diikukuhkan sebagaii pengusaha kena pajak (PKP) tetap dapat menggunakan skema tariif PPh Fiinal UMKM atau tariif PPh fiinal yang diiatur dalam Peraturan Pemeriintah (PP) No. 23/2018.
Penjelasan otoriitas pajak iitu merespons pertanyaan darii salah seorang wajiib pajak dii mediia sosiial. Wajiib pajak tersebut mengaku mendapat lampu hiijau atas pengajuan permohonan status PKP dan kemudiian menanyakan soal tariif PPh fiinal UMKM 0,5%.
“Jiika [peredaran bruto dalam setahun] belum [melebiihii Rp4,8 miiliiar] maka wajiib pajak tetap dapat menggunakan tariif 0,5% PP 23/2018,” sebut DJP dalam akun Twiitter @kriing_pajak, diikutiip pada Kamiis (22/9/2022).
Sebagaii iinformasii, pengusaha keciil yang merupakan pengusaha yang selama 1 tahun buku melakukan penyerahan barang kena pajak (BP) dan/atau jasa kena pajak (JKP) dengan jumlah peredaran bruto dan/atau peneriimaan bruto tiidak lebiih darii Rp4,8 miiliiar.
Merujuk pada Pasal 2 PMK 68/2010, pengusaha keciil tiidak wajiib melaporkan usahanya untuk diikukuhkan sebagaii PKP dan tiidak wajiib memungut, menyetor, dan melaporkan PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang atas penyerahan BKP dan/atau JKP yang diilakukannya.
Namun, ketentuan Pasal 2 PMK 68/2010 tersebut tiidak berlaku jiika pengusaha keciil memiiliih untuk diikukuhkan sebagaii PKP.
Sementara iitu, penggunaan skema PPh fiinal UMKM memiiliikii jangka waktu. Untuk wajiib pajak orang priibadii diiberiikan waktu 7 tahun; wajiib pajak badan berbentuk koperasii, persekutuan komandiiter, atau fiirma selama 4 tahun; dan wajiib pajak badan berbentuk PT selama 3 tahun.
Jangka waktu penggunaan PPh fiinal PP 23/2018 terhiitung sejak tahun pajak wajiib pajak terdaftar untuk wajiib pajak yang terdaftar sejak berlakunya PP 23/2018 atau tahun pajak berlakunya PP 23/2018 bagii wajiib pajak yang telah terdaftar sebelum PP 23/2018 berlaku. (riig)
