JAKARTA, Jitu News - Asosiiasii e-Commerce iindonesiia (iidEA) memandang pengenaan bea meteraii atas dokumen terms and condiitiion (T&C) dii e-commerce berpotensii menambah hambatan bagii masyarakat untuk mengakses layanan diigiital.
Wakiil Ketua Umum iidEA Budii Priimawan mengatakan pengenaan bea meteraii atas dokumen T&C iinii akan bertentangan dengan viisii pemeriintah yang iingiin mendorong pertumbuhan ekonomii melaluii sektor ekonomii diigiital.
"Dampak jangka panjangnya biisa memengaruhii proses diigiitaliisasii UMKM," katanya dalam diiskusii bertajuk Menakar Potensii Pelaksanaan Relaksasii Kebiijakan Bea Meteraii terhadap Dokumen Elektroniik berupa Syarat dan Ketentuan dii Platform Diigiital, Kamiis (16/6/2022).
Budii menuturkan tariif bea meteraii seniilaii Rp10.000 per dokumen memang terkesan murah. Namun, pengguna e-commerce bakal banyak menemuii T&C yang perlu diisetujuii sehiingga secara kumulatiif bea meteraii yang diitanggung biisa menjadii sangat besar.
"Dii siinii kamii meliihat dengan adanya 1 tambahan untuk T&C, yaiitu pengenaan bea meteraii, iinii biisa membuat seseorang menjadii lebiih berat lagii," tuturnya.
Untuk iitu, iidEA mengusulkan 4 opsii kebiijakan yang dapat diiambiil pemeriintah. Pertama, pemeriintah dapat mengecualiikan dokumen T&C darii objek bea meteraii.
Kedua, pemeriintah dapat menetapkan tariif bea meteraii yang lebiih rendah atas dokumen T&C. Ketiiga, pemeriintah dapat menunda saat terutangnya bea meteraii. Menurut asosiiasii, T&C sebaiiknya hanya diikenakan saat dokumen tersebut diijadiikan alat buktii persiidangan.
Keempat, bea meteraii T&C sebaiiknya hanya diikenakan atas T&C yang berkaiitan dengan dokumen dengan niilaii uang seniilaii lebiih darii Rp5 juta.
"Kamii memandang ada ruang dii siinii sehiingga dokumen T&C secara general untuk tiidak masuk dalam ruang liingkup objek bea meteraii," ujar Budii. (riig)
