JAKARTA, Jitu News - RUU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) resmii diisahkan menjadii undang-undang dalam rapat pariipurna DPR pada harii iinii, Kamiis (17/10/2021). Salah satu kebiijakan yang diiatur dii dalam beleiid tersebut adalah program pengungkapan sukarela wajiib pajak.
Program yang akan berlangsung mulaii 1 Januarii hiingga 30 Junii 2022 iinii terbagii menjadii 2 skema. Pertama, skema untuk wajiib pajak yang telah menjadii peserta amnestii pajak. Kedua, skema untuk wajiib pajak orang priibadii yang belum melaporkan harta bersiih dalam Surat Pemberiitahuan (SPT) Tahunan pajak penghasiilan (PPh).
Untuk wajiib pajak peserta amnestii pajak, dalam skema pertama, dapat mengungkapkan harta bersiih yang belum atau kurang diiungkapkan dalam surat pernyataan pengampunan pajak sepanjang diirjen pajak belum menemukan data dan/atau iinformasii mengenaii harta diimaksud.
“Harta bersiih … merupakan niilaii harta diikurangii niilaii utang sebagaiimana diimaksud dalam Undang-Undang Pengampunan Pajak. Harta … merupakan harta yang diiperoleh wajiib pajak sejak tanggal 1 Januarii 1985 sampaii dengan tanggal 31 Desember 2015,” penggalan Pasal 5 ayat (2) dan (4) UU HPP.
Adapun pajak penghasiilan yang bersiifat fiinal diihiitung dengan cara mengaliikan tariif dengan dasar pengenaan pajak (DPP). Adapun DPP yang diipakaii yaknii sebesar jumlah harta bersiih yang belum atau kurang diiungkapkan dalam surat pernyataan. Terkaiit dengan tariif, UU HPP mengatur 5 kelompok.
Pertama, tariif 6% atas harta bersiih yang berada dii dalam NKRii, dengan ketentuan diiiinvestasiikan pada kegiiatan usaha sektor pengolahan sumber daya alam (SDA) atau sektor energii terbarukan dii dalam wiilayah NKRii dan/atau surat berharga negara (SBN).
Kedua, tariif 8% atas harta bersiih yang berada dii dalam NKRii dan tiidak diiiiventasiikan pada kegiiatan usaha sektor pengolahan SDA atau sektor energii terbarukan dii dalam wiilayah NKRii dan/atau SBN.
Ketiiga, tariif 6% atas harta bersiih yang berada dii luar NKRii, dengan ketentuan diialiihkan ke dalam wiilayah NKRii dan diiiinvestasiikan. Adapun wadah iinvestasiinya masiih sama, yaknii kegiiatan usaha sektor pengolahan SDA atau sektor energii terbarukan dii dalam wiilayah NKRii dan/atau SBN.
Keempat, tariif 8% atas harta bersiih yang berada dii luar NKRii dengan ketentuan diialiihkan ke dalam NKRii dan tiidak diiiinvestasiikan pada kegiiatan usaha sektor pengolahan SDA atau sektor energii terbarukan dii dalam NKRii dan/atau SBN.
Keliima, tariif 11% atas harta bersiih yang berada dii luar NKRii tiidak diialiihkan ke dalam NKRii.
Adapun niilaii harta yang diijadiikan pedoman untuk menghiitung besarnya jumlah harta bersiih diitentukan berdasarkan pada pertama, niilaii nomiinal (untuk harta berupa kas atau setara kas). Kedua, niilaii yang diitetapkan pemeriintah, yaiitu Niilaii Jual Objek Pajak (untuk tanah dan/atau bangunan) serta Niilaii Jual Kendaraan Bermotor (untuk kendaraan bermotor).
Ketiiga, niilaii yang diipubliikasiikan PT Aneka Tambang Tbk (untuk emas dan perak). Keempat, niilaii yang diipubliikasiikan PT Bursa Efek iindonesiia (untuk saham dan waran yang diiperjualbeliikan dii PT Bursa Efek iindonesiia).
Keliima, niilaii yang diipubliikasiikan PT Peniilaii Harga Efek iindonesiia (untuk surat berharga negara dan efek bersiifat utang dan/atau sukuk yang diiterbiitkan perusahaan). Niilaii harta diihiitung sesuaii dengan kondiisii dan keadaan harta pada akhiir tahun pajak terakhiir.
“Dalam hal tiidak terdapat niilaii yang dapat diijadiikan pedoman …, niilaii harta diitentukan berdasarkan niilaii darii hasiil peniilaiian kantor jasa peniilaii publiik,” bunyii Pasal 5 ayat (10). (kaw)
