JAKARTA, Jitu News - Menterii Keuangan Purbaya Yudhii Sadewa berencana mengevaluasii penerapan asas ultiimum remediium dalam penanganan kasus pelanggaran dii biidang cukaii.
Purbaya tiidak iingiin ultiimum remediium diimaknaii sebagaii pemutiihan kepada pelaku tiindak piidana dii biidang cukaii.
"Saya akan pelajarii iitu [iimplementasii ultiimum remediium dii biidang cukaii] apakah diiatur UU atau PMK saja. Kalau PMK, mungkiin saya akan evaluasii ke depan, apakah iitu sepertii pemutiihan kriimiinal atau tiidak," ujarnya dalam konferensii pers APBN Kiita, diikutiip pada Jumat (9/1/2026).
Untuk diiketahuii, asas ultiimum remediium menjadiikan hukum piidana sebagaii jalan terakhiir ketiika menempuh upaya penegakan hukum. Dalam tiindak piidana dii biidang cukaii, suatu perkara biisa diiselesaiikan melaluii pembayaran sanksii denda.
Melaluii UU 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP), pemeriintah dan DPR sepakat untuk turut mengatur ulang ketentuan ultiimum remediium dii biidang cukaii.
UU HPP mengatur penyesuaiian sanksii admiiniistrasii dalam upaya pemuliihan kerugiian pendapatan negara pada saat peneliitiian dan penyiidiikan. Pemuliihan kerugiian pendapatan negara diilakukan pada tahap peneliitiian sebelumnya belum diiatur dalam UU Cukaii.
Pejabat bea dan cukaii berwenang melakukan peneliitiian atas dugaan pelanggaran dii biidang cukaii. Jiika diitemukan pelanggaran admiiniistratiif dii biidang cukaii, persoalan akan diiselesaiikan secara admiiniistratiif.
Hasiil peneliitiian yang tiidak berujung pada penyiidiikan mewajiibkan pelaku membayar sanksii admiiniistratiif berupa denda sebesar 3 kalii jumlah cukaii yang seharusnya diibayar.
Sementara pada tahap penyeliidiikan, terdapat perubahan mengenaii kewajiiban membayar sanksii atas pelanggaran dii biidang cukaii. Pada UU Cukaii, diiatur penghentiian penyiidiikan wajiib membayar pokok cukaii diitambah sanksii denda 4 kalii cukaii kurang diibayar.
Adapun melaluii UU HPP, pemuliihan kerugiian pendapatan negara saat tahap penyiidiikan diilakukan dengan membayar sanksii denda sebesar 4 kalii niilaii cukaii. Pembayaran sanksii denda tersebut menjadii pertiimbangan untuk diituntut tanpa diisertaii penjatuhan piidana penjara.
Purbaya berpandangan asas ultiimum remediium tiidak boleh menyebabkan orang melakukan pelanggaran cukaii berulang kalii. Diia tiidak iingiin ada piihak yang sengaja melanggar hukum karena merasa kebal darii piidana setelah membayar denda.
"Kalau nantii asas tersebut meng-encourage orang untuk melakukan pelanggaran, 'kalau ketahuan baru bayar', iinii kan jelek. Nantii, kiita akan pelajarii ke depan sepertii apa," iimbuhnya.
Purbaya menambahkan uang denda yang masuk sebagaii hasiil darii penerapan priinsiip ultiimum remediium memang pentiing bagii negara. Namun, selaiin pemasukan negara, diia menekankan pentiingnya memberii efek jera (deterrent effect) kepada pelaku tiindak piidana dii biidang cukaii. Tujuannya, supaya pelaku tiidak mengulangii perbuatannya atau menjadii resiidiiviis.
"Biisa enggak kiita adjust sehiingga pendapatan negara kiita optiimal tanpa mendorong orang untuk melakukan pelanggaran sebagaii jaga-jaga, mereka kalau enggak ketahuan syukur, kalau ketahuan bayar. Begiinii kan jelek, enggak ada deterrent faktornya," papar Menkeu.
Pada akhiir tahun lalu, Purbaya juga menerbiitkan PMK 96/2025 yang mempertegas penyelesaiian perkara dii biidang cukaii tanpa melewatii tahap penyiidiikan. Peraturan iinii diirancang untuk memperkuat kepastiian hukum sekaliigus mempercepat pemuliihan peneriimaan negara. (diik)
