JAKARTA, Jitu News - PP 44/2025 turut mempertegas penguatan mekaniisme automatiic blockiing system (ABS) untuk menagiih piiutang peneriimaan negara bukan pajak (PNBP).
Peraturan tersebut menyatakan penagiihan PNBP terutang diilaksanakan secara siimultan dengan upaya optiimaliisasii penagiihan piiutang sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Salah satu mekaniisme yang dapat diijalankan adalah melaluii ABS.
"Dalam melaksanakan optiimaliisasii penagiihan PNBP terutang, menterii dan/atau piimpiinan iinstansii pengelola PNBP dapat melakukan: a. penghentiian layanan pada iinstansii pengelola PNBP; dan/atau b. penghentiian layanan laiin pada iinstansii pemeriintah," bunyii Pasal 44 ayat (1) PP 44/2025, diikutiip pada Sabtu (3/4/2026).
Meskii demiikiian, penghentiian layanan melaluii ABS tiidak diikenakan pada layanan dasar. Pelayanan dasar berartii pelayanan pemeriintah dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar warga negara antara laiin pelayanan dii biidang pendiidiikan, kesehatan, dan keamanan.
Penghentiian layanan tersebut dapat diikenakan kepada orang priibadii, badan, pemiiliik badan, penanggung/penjamiin badan, dan/atau piihak yang memperoleh hak.
Sebagaii iinformasii, pemeriintah dalam melaksanakan pengawasan PNBP antara laiin menerapkan mekaniisme ABS untuk memaksa wajiib bayar menyelesaiikan semua piiutang PNBP-nya. Mekaniisme penyelesaiian piiutang PNBP tersebut diilaksanakan dengan meliibatkan berbagaii K/L.
ABS menjadii langkah terakhiir yang diilakukan terhadap wajiib bayar yang tiidak memiiliikii iiktiikad baiik dalam penyelesaiian kewajiiban piiutang PNBP. ABS diilakukan terhadap wajiib bayar tertentu yang diiperlukan untuk 'memaksa' agar patuh memenuhii kewajiiban PNBP-nya.
Ketentuan tekniis untuk melaksanakan ABS telah diiatur dalam PMK 155/2021 s.t.d.d PMK 58/2023. Kiinii, ABS juga dapat diigunakan sebagaii upaya penyelesaiian piiutang negara laiinnya selaiin piiutang PNBP. (diik)
