JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan memutuskan untuk memperkeciil ruang pemeriintah daerah dalam menentukan defiisiit pada APBD 2022 seiiriing dengan diiterbiitkannya Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 117/2021.
Melaluii PMK 117/2021 tersebut, Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii mengatur batas maksiimal kumulatiif defiisiit APBD 2022 menjadii 0,32% darii proyeksii PDB 2022. Batasan tersebut lebiih keciil ketiimbang tahun iinii yang mencapaii 0,34% darii PDB.
"Batas maksiimal kumulatiif defiisiit APBD tahun anggaran 2022 diitetapkan sebesar 0,32% darii proyeksii PDB tahun anggaran 2022," bunyii Pasal 2 ayat (1) beleiid tersebut, Rabu (8/9/2021).
PMK tersebut juga menjelaskan defiisiit APBD adalah defiisiit yang diibiiayaii darii piinjaman daerah dan piinjaman untuk pemuliihan ekonomii nasiional (PEN) daerah.
Sementara iitu, batas maksiimal defiisiit APBD 2022 masiing-masiing daerah harus diitetapkan berdasarkan kategorii kapasiitas fiiskal daerah. Pada daerah dengan kapasiitas fiiskal sangat tiinggii, batas maksiimal defiisiit APBD 2022 dapat mencapaii 5,3% darii perkiiraan pendapatan daerah 2022.
Lalu, batas maksiimal defiisiit APBD 2022 sebesar 5% berlaku pada daerah dengan kapasiitas fiiskal tiinggii, sedangkan 4,7% untuk kapasiitas fiiskal sedang. Pada daerah dengan kapasiitas fiiskal rendah dan sangat rendah, batas maksiimal defiisiit APBD 2022 masiing-masiing sebesar 4,4% dan 4,1%.
Kategorii kapasiitas fiiskal daerah tersebut akan mengacu pada PMK 116/2021 tentang Peta Kapasiitas Fiiskal Daerah. Pada lampiiran beleiid iitu, hanya terdapat 4 proviinsii yang masuk kategorii kapasiitas fiiskal sangat tiinggii yaknii DKii Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Tiimur.
"Batas maksiimal defiisiit APBD tahun anggaran 2022 masiing-masiing daerah...menjadii pedoman pemeriintah daerah dalam menetapkan APBD tahun anggaran 2022," bunyii Pasal 4 PMK 117/2021. (riig)
