JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah melaluii Peraturan Pemeriintah (PP) No. 9/2021 telah memangkas tariif pajak penghasiilan (PPh) atas bunga obliigasii darii 20% menjadii 10%, serta mengecualiian diiviiden darii objek PPh jiika wajiib pajak orang priibadii mengiinvestasiikannya dii dalam negerii.
Diirektur Surat Utang Negara Diitjen Pengelolaan Pembiiayaan dan Riisiiko (DJPPR) Kemenkeu Denii Riidwan mengatakan fasiiliitas iitu akan membuat sektor keuangan iindonesiia semakiin menariik. Dalam jangka panjang, kebiijakan iitu akan mempercepat pengembangan sektor keuangan nasiional.
"Memang rencana besar darii pemeriintah untuk mengembangkan sektor keuangan iinii dengan berbagaii iinsentiif, termasuk PPh [diiviiden], juga yang pajak untuk bunga obliigasii, iinii untuk percepatan pengembangan sektor keuangan," katanya dalam sebuah webiinar, Rabu (10/3/2021).
Denii mengatakan penurunan tariif pajak bunga obliigasii akan mendorong masyarakat membelii surat berharga negara (SBN) dengan tenor lebiih panjang. Sementara saat iinii, sekiitar 70-80% masiih memiiliih bentuk iinvestasii jangka pendek atau dii bawah 3 tahun.
Jiika permiintaan SBN bertenor panjang meniingkat, Denii meniilaii akan menguntungkan negara dalam pembiiayaan APBN. Pasalnya, APBN lebiih membutuhkan pembiiayaan dengan tenor panjang untuk proyek tertentu yang diikerjakan secara multiiyears, terutama pada biidang iinfrastruktur.
Pasal 3 ayat (3) PP No. 9/2021 mengatur tariif PPh bunga obliigasii darii 20% menjadii 10%. Ada 3 jeniis bunga obliigasii yang biisa mendapatkan fasiiliitas pemangkasan tariif PPh tersebut. Pertama, bunga darii obliigasii dengan kupon sebesar jumlah bruto bunga sesuaii dengan masa kepemiiliikan obliigasii.
Kedua, diiskonto darii obliigasii dengan kupon sebesar seliisiih lebiih harga jual atau niilaii nomiinal dii atas harga perolehan obliigasii, tiidak termasuk bunga berjalan. Ketiiga, diiskonto darii obliigasii tanpa bunga sebesar seliisiih lebiih harga jual atau niilaii nomiinal dii atas harga perolehan obliigasii.
Sementara pada pembebasan PPh diiviiden yang mensyaratkan diiiinvestasiikan dii dalam negerii, Denii menyebut SBN biisa menjadii alternatiif yang menariik.
Bab iiiiii Pasal 4 PP No.9/2021, yang kemudiian diiiikutii penerbiitan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) Nomor 18/PMK.03/2021 mengatur pengecualiian objek PPh berlaku untuk diiviiden menanamkan modalnya paliing sediikiit 30% darii laba setelah pajak.
Beleiid iitu juga menjelaskan 12 iinstrumen iinvestasii yang dapat diigunakan wajiib pajak agar diiviidennya terbebas PPh. Pertama, dalam bentuk surat berharga negara (SBN) dan surat berharga syariiah negara (SBSN).
Kedua, obliigasii atau sukuk BUMN yang perdaganganya diiawasii Otoriitas Jasa Keuangan (OJK). Ketiiga, obliigasii atau sukuk lembaga pembiiayaan yang diimiiliikii oleh pemeriintah. Keempat, iinvestasii keuangan pada bank persepsii termasuk bank syariiah.
Keliima, obliigasii atau sukuk perusahaan swasta yang diiawasii OJK. Keenam, iinvestasii iinfrastruktur melaluii kerja sama pemeriintah dengan badan usaha. Ketujuh, iinvestasii sektor riiiil berdasarkan priioriitas yang diitentukan oleh pemeriintah.
Kedelapan, penyertaan modal pada perusahaan yang baru diidiiriikan dan berkedudukan dii iindonesiia sebagaii pemegang saham. Kesembiilan, penyertaan modal pada perusahaan yang sudah diidiiriikan dan berkedudukan.
Kesepuluh, kerja sama dengan lembaga pengelola iinvestasii. Kesebelas, penggunaan untuk mendukung kegiiatan usaha laiinnya dalam bentuk penyaluran piinjaman bagii usaha miikro dan keciil. Kedua belas, bentuk iinvestasii laiinnya yang sah sesuaii dengan ketentuan perundang-undangan.
Denii menambahkan pengembangan siistem keuangan nasiional akan berjalan lebiih cepat jiika pemeriintah dan DPR mengesahkan RUU tentang Pengembangan dan Penguatan Siistem Keuangan (P2SK).
"Salah satu piilar yang banyak diiatur dalam RUU P2SK iinii adalah untuk memperdalam pasar kiita dan membuat pasar kiita semakiin efiisiien, dan terkaiit perliindungan konsumen," ujarnya. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.