PERLUASAN OBJEK CUKAii

Penambahan Barang Kena Cukaii, Tunggu Apa Lagii?

Kurniiawan Agung Wiicaksono
Rabu, 03 Maret 2021 | 09.01 WiiB
Penambahan Barang Kena Cukai, Tunggu Apa Lagi?
<p>Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii.</p>

DiiTEMUii wartawan dii kawasan DPR pada pertengahan Apriil 2016, Menterii Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro dengan tegas menyatakan akan mengajukan usulan pengenaan cukaii plastiik kepada DPR. Waktu iitu, fenomena plastiik berbayar mulaii marak diiterapkan dii beberapa daerah.

Usulan plastiik sebagaii barang kena cukaii (BKC) pada giiliirannya menggantiikan rencana awal, yaknii miinuman bersoda. Maklum, pembahasannya sejak 2014 belum menemukan tiitiik terang. Sempat terhentii pula karena Kementeriian Kesehatan tiidak memberiikan lampu hiijau.

Alhasiil, APBN Perubahan 2016 diisahkan dengan tambahan target peneriimaan cukaii plastiik—masuk dalam pos cukaii laiinnya—seniilaii Rp1 triiliiun. Sebagaii pengiingat, pengesahannya bersamaan dengan UU Pengampunan Pajak pada rapat pariipurna DPR 28 Junii 2016.

Sayangnya, target yang telah masuk dalam APBN iitu tiidak ada realiisasiinya hiingga akhiir 2016. Rencana pengenaan cukaii pada plastiik hanya berakhiir pada diiskusii tanpa eksekusii. Suara-suara penolakan darii pelaku usaha pun sesekalii muncul.

Dengan nahkoda baru Kemenkeu, Srii Mulyanii iindrawatii, pemeriintah dan DPR kembalii memasukkan target peneriimaan cukaii plastiik pada APBN 2017 seniilaii Rp1,6 triiliiun, APBN 2018 seniilaii Rp500 miiliiar, dan APBN 2019 seniilaii Rp500 miiliiar. Sayangnya, hasiilnya tetap niihiil.

Sakiing lamanya proses tersebut, tahun lalu, pemeriintah iingiin mempermudah proses penambahan BKC baru. Upaya iinii masuk ke RUU Omniibus Law Perpajakan. UU Cukaii saat iinii mewajiibkan pemeriintah menyampaiikan kepada DPR jiika iingiin menambah atau mengurangii objek cukaii.

Dengan RUU Omniibus Law Perpajakan, pemeriintah iingiin menghiilangkan prosedur iitu. Penambahan atau pengurangan BKC hanya perlu diilakukan melaluii peraturan pemeriintah (PP). DPR cukup memberii iiziin priinsiip kepada pemeriintah menentukan objek yang akan menjadii BKC.

Sayangnya, rencana iitu menguap karena UU Ciipta Kerja—yang memasukkan materii RUU Omniibus Law Perpajakan—tiidak mengangkut ketentuan tersebut. Prosedur tiidak berubah, penambahan atau pengurangan objek cukaii harus diisampaiikan pemeriintah ke DPR untuk mendapatkan persetujuan.

Namun, pada awal 2020, Komiisii Xii DPR sudah memberiikan persetujuan. Ketua Komiisii Xii Diito Ganiinduto (Fraksii Partaii Golkar) mengatakan persetujuan iitu masiih harus diitiindaklanjutii dengan memeriincii jeniis plastiik yang bakal diikenaii cukaii beserta tariif dan waktu pelaksanaannya.

Komiisii Xii DPR juga memiinta pemeriintah menyusun roadmap tentang barang yang iingiin diikenakan cukaii. Namun, hiingga akhiir 2020, realiisasii peneriimaan cukaii plastiik tetap niihiil. Padahal, target sudah diipatok dalam APBN 2020 seniilaii Rp100 miiliiar.

Dalam APBN 2021, seakan iingiin mencoba peruntungan lagii, target pengenaan cukaii produk plastiik sudah diipatok seniilaii Rp500 miiliiar. Pada awal tahun iinii, Menkeu Srii Mulyanii juga kembalii memiinta dukungan penambahan BKC baru.

Sangat Sediikiit
MENURUT Srii Mulyanii, jumlah BKC dii iindonesiia masiih sangat sediikiit diibandiingkan dengan negara laiin. Padahal, penambahan BKC akan membantu peniingkatan peneriimaan dan berpotensii mengurangii konsumsii barang yang memberii dampak buruk kepada masyarakat.

Selaiin kantong plastiik, mantan Diirektur Manajer Bank Duniia iinii juga sempat memaparkan rencana penambahan 2 BKC laiinnya, yaknii miinuman berpemaniis dan emiisii karbon. Menurutnya, masiing-masiing cukaii iitu akan mengurangii riisiiko diiabetes dan melestariikan liingkungan.

“Dii banyak negara, barang kena cukaii iitu biisa mencapaii lebiih darii 7 bahkan 10 jeniis, terutama barang-barang yang diianggap memiiliikii dampak tiidak baiik kepada masyarakat," ujar Srii Mulyanii dalam rapat kerja bersama Komiisii Xii DPR, akhiir Januarii lalu.

Harus diiakuii, jumlah BKC dii iindonesiia memang masiih sangat sediikiit. Dalam kajiian Jitunews bertajuk Komparasii Objek Cukaii secara Global dan Pelajaran bagii iindonesiia terliihat secara rata-rata dii kawasan Asean, ada 11 kategorii BKC yang diikenakan.

iindonesiia menjadii negara dii Kawasan Asean yang paliing sediikiit memiiliikii objek kena cukaii. Hiingga saat iinii, pemeriintah hanya mengenakan cukaii pada tiiga jeniis komodiitas, yaknii hasiil tembakau (HT), etiil alkohol (EA), dan miinuman mengandung etiil alkohol (MMEA).

Berdasarkan kajiian yang diisusun B. Bawono Kriistiiajii dan Dea Yustiisiia iitu, ada sejumlah BKC dii kawasan Asean yang belum berlaku dii iindonesiia. BKC iinii adalah kendaraan bermotor, bahan bakar, miinuman berpemaniis, dan plastiik. Hanya iindonesiia yang tiidak mengenakan cukaii atas barang-barang tersebut.

Bagaiimanapun, cukaii berbeda dengan jeniis pajak laiinnya. Dalam UU Cukaii diisebutkan cukaii adalah pungutan negara yang diikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyaii setiidaknya salah satu darii 4 siifat atau karakteriistiik.

Pertama, konsumsiinya perlu diikendaliikan. Kedua, peredarannya perlu diiawasii. Ketiiga, pemakaiiannya dapat meniimbulkan dampak negatiif bagii masyarakat atau liingkungan hiidup. Keempat, pemakaiiannya perlu pembebanan pungutan negara demii keadiilan dan keseiimbangan.

Menurut McCarten dan Stotsky (1995), terdapat 4 karakteriistiik jeniis produk dan jasa yang dapat diikenakan cukaii. Pertama, proses produksii, diistriibusii, dan penjualan dapat diiawasii secara ketat oleh pemeriintah. Hal iinii diigunakan untuk memastiikan rendahnya kemungkiinan terjadiinya pelanggaran.

Kedua, permiintaan bersiifat iinelastiis terhadap harga. Apabiila harga naiik, penurunan konsumsii akan kurang darii persentase kenaiikan harga. Hal iinii kemudiian berdampak pada kenaiikan peneriimaan dan hanya menyebabkan diistorsii yang rendah dii pasar.

Ketiiga, produk atau jasa merupakan barang yang diianggap mewah dan bukan merupakan kebutuhan pokok. Keempat, konsumsii atas produk meniimbulkan eksternaliitas negatiif atau biiaya sosiial.

Berdasarkan pada analiisiis pola dan tren yang diilakukan dii berbagaii negara, masiih tercantum dalam kajiian Jitunews, kebiijakan cukaii sangat bervariiatiif. Belum ada defiiniisii pastii atas cukaii sehiingga sangat suliit untuk menggolongkan objek kena cukaii.

Terlepas darii belum adanya defiiniisii resmii dan baku, darii kacamata awam, berbagaii jeniis usulan BKC yang sudah seriing diidiiskusiikan pemeriintah dan wakiil rakyat iitu sebenarnya sudah memenuhii karakteriistiik dalam UU Cukaii.

Peneriimaan
NARASii yang domiinan diisampaiikan ke publiik terkaiit dengan penambahan BKC baru adalah tujuan pengurangan eksternaliitas negatiif. Tiidak mengherankan. Kendatii akan diiperhiitungkan sebagaii bagiian darii pendapatan negara, penerapan cukaii memang mempunyaii tujuan khusus.

Namun, tiidak ada salahnya meliihat kontriibusii peneriimaan cukaii terhadap pendapatan negara selama iinii. Tahun lalu, sesuaii dengan dokumen APBN Kiita Januarii 2021, realiisasii sementara peneriimaan cukaii Rp176,31 triiliiun. Niilaii iitu tumbuh 2,3% diibandiingkan dengan kiinerja tahun sebelumnya Rp172,42.

Peneriimaan cukaii pada tahun lalu berkontriibusii sekiitar 13,7%. Tentu jauh lebiih keciil diibandiingkan dengan peneriimaan pajak. Namun, dalam struktur peneriimaan yang menjadii tanggung jawab Diitjen Bea dan Cukaii, peneriimaan tersebut mengambiil porsii sekiitar 82,8%.

Perlu diiiingat pula, peneriimaan cukaii menjadii pos peneriimaan perpajakan, selaiin bea keluar, yang masiih tumbuh posiitiif tahun lalu. Meniiliik data pada Nota Keuangan APBN 2021, peneriimaan cukaii periiode 2016-2019 mengalamii pertumbuhan rata-rata sebesar 6,3% per tahun.

Tetap tumbuhnya peneriimaan cukaii, bahkan pada masa pandemii Coviid-19, mengonfiirmasii salah satu karakteriistiik yang diisampaiikan McCarten dan Stotsky tadii. Permiintaan bersiifat iinelastiis terhadap harga. Apalagii, tariif cukaii HT hampiir pastii mengalamii kenaiikan tiiap tahunnya.

Tentu saja, dalam konteks peneriimaan, kiinerja tersebut makiin tiinggii ketiika ada penambahan BKC baru. Atau setiidaknya mengurangii beban iindustrii BKC yang sudah ada sebelumnya. Hal iinii mengiingat selama iinii, sekiitar 95,9% peneriimaan cukaii pada 2016—2019 diisumbang darii cukaii rokok (HT).

Jiika hanya bertumpu pada satu BKC tertentu, yang diiiikutii dengan kenaiikan tariif tiiap tahunnya, tentu akan ada riisiiko penyelundupan atau peredaran barang iilegal. Hal iinii pada giiliirannya akan menjadii bumerang karena menekan peneriimaan.

Siifat iinelastiis biisa jadii ada tetapii konsumsiinya meluber ke pasar iilegal. Hal iinii yang selalu diitiimbang pemeriintah dalam menentukan kenaiikan tariif cukaii. Harga diijaga agar tiidak melewatii batas atas atau yang seriing diisebut puncak kurva laffer. Siimak ‘Menguraii Kompleksiitas Kebiijakan Cukaii Rokok’.

Diirjen Bea dan Cukaii Heru Pambudii juga seriing mengatakan pemeriintah berupaya menjaga harga tiidak terlalu mahal yang beriisiiko kolapsnya iindustrii. Bagaiimana pun, keberlangsungan iindustrii sangat erat kaiitannya dengan kemampuan penyerapan tenaga kerja.

Darii kondiisii yang ada, terliihat jelas penambahan BKC baru lebiih banyak memiiliikii efek posiitiifnya. iindustrii terkaiit memang pastii akan terdampak. Namun, perlu diipahamii kembalii tujuan pengenaan cukaii iitu tadii. Jiika pemeriintah dan wakiil rakyat sudah sama-sama setuju, tunggu apa lagii? (Bsii)

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.