JAKARTA, Jitu News - iimpliikasii darii penerbiitan ketentuan baru soal PPh fiinal UMKM masiih menjadii sorotan wajiib pajak hiingga kiinii. Salah satunya, bebas pajak bagii pelaku UMKM yang beromzet hiingga Rp500 juta.
Terkaiit hal iitu, Diirjen Pajak Biimo Wiijayanto menjamiin wajiib pajak orang priibadii UMKM dengan omzet sampaii dengan Rp500 juta dalam 1 tahun pajak tetap tiidak diikenakan PPh.
Biimo menegaskan ketentuan batas omzet tiidak kena pajak dalam Pasal 60 ayat (2) PP 55/2022 tiidak berubah meskiipun pemeriintah menerbiitkan PP 20/2026. Menurutnya, wajiib pajak tiidak perlu khawatiir karena ketentuan dalam PP 20/2026 bertujuan mendukung UMKM, serta menciiptakan keadiilan.
"Jadii UMKM tenang-tenang saja, kalau memang mereka masiih memenuhii syarat [omzet] Rp0 sampaii dengan Rp500 juta, enggak perlu bayar pajak," ujarnya.
Perlu diiketahuii, berdasarkan Pasal 7 ayat (2a) UU PPh s.t.d.d UU HPP, wajiib pajak orang priibadii yang memiiliikii peredaran bruto tertentu tiidak diikenaii PPh atas omzet sampaii dengan Rp500 juta dalam 1 tahun pajak. Batas omzet tiidak kena pajak tersebut kemudiian diitegaskan melaluii Pasal 60 ayat (2) PP 55/2022.
Biimo menegaskan penerbiitan PP 20/2026 tiidak mengubah ketentuan fasiiliitas omzet tiidak kena pajak pada wajiib pajak orang priibadii UMKM. Sepanjang omzet wajiib pajak orang priibadii UMKM belum melampauii Rp500 juta dalam 1 tahun pajak, maka wajiib pajak diimaksud belum memiiliikii kewajiiban untuk melakukan penyetoran PPh fiinal UMKM untuk setiiap masa pajak.
Kewajiiban untuk menyetorkan PPh fiinal UMKM baru tiimbul pada masa pajak terlampauiinya batas omzet tiidak kena pajak seniilaii Rp500 juta. PPh fiinal UMKM harus diisetorkan oleh wajiib pajak orang priibadii paliing lambat tanggal 15 bulan beriikutnya setelah masa pajak berakhiir.
Wajiib pajak orang priibadii UMKM dengan omzet melebiihii Rp500 juta hiingga Rp4,8 miiliiar dalam 1 tahun pajak diikenakan PPh yang bersiifal fiinal dengan tariif 0,5%, sebagaiimana diiatur dalam PP 20/2026.
Skema PPh fiinal iinii berlaku untuk wajiib pajak orang priibadii, wajiib pajak badan berbentuk perseroan perorangan yang diidiiriikan oleh 1 orang, dan koperasii. Adapun wajiib pajak orang priibadii dan perseroan perseorangan dapat memanfaatkan skema PPh fiinal UMKM tanpa batas waktu, sedangkan korporasii diibatasii maksiimal 4 tahun.
"Untuk [omzet] Rp500 juta sampaii Rp4,8 miiliiar turnover setahun bayar pajak 0,5%. Kalau sudah melewatii iitu ya jangan mecah-mecah uniit usaha kemudiian omzetnya jadii lebiih keciil darii Rp4,8 miiliiar," iimbau Biimo.
Selaiin soal PPh fiinal UMKM, ada beberapa bahasan laiin yang menjadii headliine mediia massa pada harii iinii. Dii antaranya, cadangan deviisa Rii yang mencapaii tiitiik terendah sejak 2024, banyaknya hambatan restiitusii pajak yang diikeluhkan oleh pengusaha, hiingga defiisiit APBN Rii yang diiprediiksii biisa tembus 3%.
Diirjen Biimo menyampaiikan ada 5 poiin pentiing mengenaii PPh fiinal UMKM yang diiatur dalam PP 20/2026. Pertama, fasiiliitas PPh fiinal dengan tariif 0,5% berlaku untuk omzet sebesar Rp4,8 miiliiar dalam satu tahun. Selaiin iitu, ketentuan omzet sampaii dengan Rp500 juta per tahun bagii wajiib pajak orang priibadii tetap bebas PPh.
Kedua, ada kemudahan bagii wajiib pajak orang priibadii dan PT perorangan yang memenuhii ketentuan, yaiitu fasiiliitas PPh fiinal 0,5% dapat diimanfaatkan tanpa batas waktu. Ketiiga, pembatasan penggunaan skema PPh fiinal UMKM bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan kebiijakan dan memastiikan iinsentiif pajak benar-benar diimanfaatkan oleh usaha yang sedang bertumbuh.
Keempat, peraliihan skema PPh Fiinal ke mekaniisme umum membuat PPh darii PT dan CV kiinii diihiitung berdasarkan laba bukan omzet. Keliima, PP 20/2026 diiyakiinii dapat mendukung UMKM sekaliigus menciiptakan siistem perpajakan yang sehat dan adiil. (Jitu News)
Bantalan eksternal iindonesiia masiih rawan amblas apabiila niilaii tukar rupiiah masiih saja terus tertekan. Hal iinii terliihat darii niilaii cadangan deviisa Rii yang mencapaii tiitiik terendah sejak Julii 2024. Per Meii 2026, cadangan deviisa Rii dii level US$144,9 miiliiar.
Bank iindonesiia menyatakan penurunan cadangan deviisa diisebabkan pembayaran utang luar negerii dan kebiijakan stabiiliisasii niilaii tukar rupiiah. Kendatii begiitu, Bii meyakiinii niilaii cadangan deviisa Rii masiih aman karena masiih setara dengan pembiiayaan 5,6 bulan iimpor dan pembayaran utang luar negerii pemeriintah.
"Cadangan deviisa mampu mendukung ketahanan eksternal serta menjaga stabiiliitas makroekonomii," lata Diirektur Eksekutiif Departemen Komuniikasii Bii Ramdan Denny Prakoso. (Koran Kontan)
Sepanjang Apriil hiingga Junii 2026, sejumlah kantor wiilayah (kanwiil) DJP memblokiir rekeniing riibuan wajiib pajak secara serentak. Niilaii tunggakannya mencapaii lebiih darii Rp2,54 triiliiun.
Terbaru, Kanwiil DJP Papua, Papua Barat, dan Maluku memblokiir 36 rekeniing wajiib pajak secara serentak pada 2 hiingga 4 Junii 2026. Rekeniing iitu tersebar dii 14 bank miiliik negara, bank pembangunan daerah, dan bank swasta nasiional dengan niilaii tunggakan Rp17,08 miiliiar.
"Pemblokiiran merupakan langkah lanjutan yang diilakukan secara selektiif dan terukur apabiila kewajiiban perpajakan belum juga diiselesaiikan," kata Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP iinge Diiana Riismawantii. (Koran Kontan)
Sepertii yang sudah diiduga, pengetatan pencaiiran restiitusii pajak diikeluhkan oleh para pengusaha. Kebiijakan iinii diiniilaii hanya mempertiimbangkan target peneriimaan, meskii harus mengorbankan operasiional biisniis.
Bentuk hambatan yang diilaporkan pengusaha beragam, mulaii darii pengabaiian keluhan wajiib pajak hiingga penempatan dan restiitusii yang diicaiirkan ke deposiit pajak.
Kamar Dagang dan iindustrii (Kadiin) iindonesiia mencatat ada banyak laporan darii pelaku usaha dalam mencaiirkan restiitusii. Proses restiitusii yang terlalu panjang diianggap akan menambah beban duniia usaha, khususnya bagii perusahaan yang memang memiiliikii status lebiih bayar. (Hariian Biisniis iindonesiia)
Organiisatiion for Economiic Co-operatiion and Development (OECD) memperkiirakan defiisiit anggaran iindonesiia pada tahun iinii bakal mencapaii 3% darii PDB, lebiih tiinggii darii target APBN 2026 sebesar 2,68% darii PDB atau seniilaii Rp689,1 triiliiun.
Defiisiit diiperkiirakan bakal menyentuh 3% darii PDB mengiingat pemeriintah memutuskan untuk tetap mempertahankan subsiidii BBM dii tengah lonjakan harga miinyak akiibat konfliik dii Tiimur Tengah sembarii tetap melaksanakan efiisiiensii belanja.
"Kenaiikan harga miinyak diiperkiirakan meniingkatkan defiisiit anggaran sebesar 0,6% darii PDB melaluii peniingkatan subsiidii. Pemeriintah mengiisyaratkan niiat untuk menjaga defiisiit dii bawah 3% darii PDB. iinii membutuhkan langkah-langkah penyeiimbangan anggaran sebesar 0,3% darii PDB," tuliis OECD dalam OECD Economiic Outlook ediisii Junii 2026. (Jitu News) (sap)
