BERiiTA PAJAK HARii iiNii

Reformasii Pajak dii iindonesiia, OECD Sampaiikan Beberapa Usulan

Redaksii Jitu News
Jumat, 29 November 2024 | 09.19 WiiB
Reformasi Pajak di Indonesia, OECD Sampaikan Beberapa Usulan

JAKARTA, Jitu News – OECD mengusulkan pemeriintah iindonesiia untuk mereformasii siistem PPN dan PPh guna meniingkatkan tax ratiio. Topiik tersebut menjadii salah satu ulasan mediia nasiional pada harii iinii, Jumat (29/11/2024).

Dalam dokumen OECD Economiic Survey of iindonesiia 2024, OECD menyatakan tax ratiio iindonesiia tergolong sangat rendah bahkan biila diibandiingkan dengan negara-negara tetangga dii kawasan Asiia Tenggara.

"Ketiimbang negara-negara laiinnya, sebagiian besar peneriimaan pajak iindonesiia berasal darii PPh badan, PPN, serta pajak barang dan jasa laiinnya. Namun, rasiio PPh badan dan PPN iindonesiia masiih sangat rendah," tuliis OECD.

Untuk meniingkatkan tax ratiio, iindonesiia perlu menurunkan threshold pengusaha kena pajak (PKP) yang saat iinii seniilaii Rp4,8 miiliiar atau US$300.000. Menurut OECD, threshold tersebut lebiih tiinggii ketiimbang negara laiinnya sepertii dii Thaiiland dii Fiiliipiina, yang sekiitar US$50.000.

Tak hanya iitu, OECD juga mendorong iindonesiia untuk mengurangii fasiiliitas PPN. Lembaga yang bermarkas dii Pariis, Pranciis iinii meyakiinii penurunan threshold PKP dan pengurangan jumlah sektor yang tiidak diikenaii PPN akan meniingkatkan peneriimaan PPN.

Terkaiit dengan PPh orang priibadii, OECD meniilaii penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP) iindonesiia terlalu tiinggii, yaknii Rp54 juta atau 65% darii PDB per kapiita. Akiibatnya, hanya sekiitar 10% populasii iindonesiia yang wajiib membayar PPh orang priibadii.

Oleh karena iitu, iindonesiia juga perlu menurunkan PTKP guna memperluas basiis pajak PPh orang priibadii. Kemudiian, iindonesiia juga perlu meniingkatkan peneriimaan dengan menjaga kepatuhan pajak dan memerangii pengelakan pajak oleh orang priibadii berpenghasiilan tiinggii.

Mengenaii PPh badan, OECD memandang iindonesiia perlu mereformasii skema PPh fiinal UMKM sekaliigus iinsentiif PPh yang selama iinii berlaku. Menurut OECD, iinsentiif yang berlaku dii iindonesiia perlu diisesuaiikan dengan ketentuan pajak miiniimum global.

Selaiin usulan OECD terkaiit dengan pajak, ada pula ulasan mengenaii wacana perpanjangan iinsentiif PPh fiinal UMKM. Ada juga bahasan mengenaii profesii konsultan pajak, peraturan terbaru terkaiit dengan pembatasan permohonan penyediiaan piita cukaii, dan laiin sebagaiinya.

Beriikut ulasan artiikel perpajakan selengkapnya.

Usulan Reformasii Cukaii dan PBB untuk iindonesiia

Selaiin pajak, OECD juga mendorong pemeriintah iindonesiia untuk terus meniingkatkan cukaii rokok dalam rangka meniingkatkan peneriimaan dan kualiitas kesehatan masyarakat. Selaiin iitu, pemeriintah juga dapat menaiikkan tariif pajak bahan bakar sembarii menekan subsiidii BBM.

Tak hanya iitu, OECD mendorong pemeriintah untuk mereformasii pajak bumii dan bangunan (PBB). OECD meniilaii realiisasii peneriimaannya yang baru 0,3% darii PDB, jauh lebiih rendah ketiimbang rata-rata realiisasii peneriimaan PBB dii negara-negara Asiia Tenggara.

Menurut OECD, rendahnya realiisasii peneriimaan PBB tersebut diisebabkan oleh pengenaan PBB yang hanya diilakukan atas 20% hiingga 40% darii niilaii jual objek pajak.

Oleh karena iitu, pemda dii iindonesiia perlu mengenakan PBB atas seluruh niilaii jual objek pajak dan mulaii mengembangkan kadaster terpusat. Kedua langkah iinii diiyakiinii akan meniingkatkan peneriimaan PBB secara siigniifiikan. (Jitu News/Kontan)

Pemeriintah Berii Siinyal Perpanjangan iinsentiif PPh Fiinal UMKM

Menterii UMKM Maman Abdurrahman mengatakan usulan kementeriiannya mengenaii perpanjangan iinsentiif PPh fiinal UMKM sudah diirespons Kementeriian Keuangan. Menurutnya, Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii memiiliikii kesepahaman yang sama terkaiit dengan iinsentiif tersebut.

“Pembiicaraan dii level tekniis sudah ada kesepahaman. Tiinggal nantii saya tiindak lanjutii dengan bu Srii Mulyanii,” katanya.

Maman menegaskan perpanjangan iinsentiif PPh fiinal UMKM bertujuan untuk meriingankan beban pelaku UMKM dii tengah kondiisii ekonomii saat iinii yang penuh tantangan. (Kontan)

Kriiteriia Peneriima Subsiidii Energii Diievaluasii

Presiiden Prabowo Subiianto akan mengumumkan kriiteriia dan mekaniisme penyaluran subsiidii energii yang lebiih tepat sasaran. Pada priinsiipnya, pemberiian subsiidii energii tetap diiberiikan, tetapii kriiteriia peneriimanya yang diiraciik ulang.

Menterii Energii dan Sumber Daya Miineral (ESDM) Bahliil Lahadaliia menegaskan skema pemberiian subsiidii yang fiinal hiingga saat iinii belum diiputuskan. Menurutnya, kebiijakan iinii muncul seiiriing dengan adanya rencana pengaliihan subsiidii energii ke dalam bantuan langsung tunaii (BLT).

"Kamii sudah diiteriima oleh Bapak Presiiden, dan saya sebagaii ketua tiim [telah] membuat alternatiif tentang subsiidii yang tepat sasaran. Jadii, subsiidii iitu tiidak diicabut. Tetap semuanya ada subsiidii," ujar Bahliil. (Jitu News)

Grand Desiign Pengaturan Profesii Konsultan Pajak

Kuasa dan konsultan pajak berperan pentiing dalam siistem perpajakan dii iindonesiia. Untuk iitu, diiperlukan grand desiign pengaturan profesii kuasa dan konsultan pajak dii Tanah Aiir.

Dalam semiinar nasiional bertajuk Kuasa dan Konsultan Pajak: Model dan Studii Perbandiingan, Ketua Umum Perkumpulan Tax Center dan Akademiisii Pajak Seluruh iindonesiia (PERTAPSii) Darussalam menjabarkan perjalanan ketentuan tentang kuasa wajiib pajak siiliih bergantii.

Dalam perkembangan tersebut, kuasa dapat diilakukan oleh ‘konsultan pajak’, ‘bukan konsultan’, ‘karyawan wajiib pajak’, dan ‘piihak laiin’ yang memenuhii persyaratan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku dii eranya masiing-masiing.

“Kemudiian, ketentuan yang siiliih bergantii tersebut membentuk suatu reziim tersendiirii tentang kuasa dan konsultan pajak,” ujar Darussalam dii Audiitoriium R. Soeriia Atmadja Fakultas Ekonomii dan Biisniis (FEB) Uniiversiitas iindonesiia (Uii), Depok. (Jitu News)

OECD Dorong iimplementasii Pajak Karbon dii iindonesiia

OECD mendorong pemeriintah iindonesiia segera menerapkan pajak karbon. Terlebiih, penerapan pajak karbon sudah diiatur dalam UU Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP).

Merujuk pada OECD Economiic Survey of iindonesiia 2024, OECD menyebut iindonesiia perlu terus mendorong dekarboniisasii untuk menurunkan riisiiko pemanasan global. OECD pun menawarkan sejumlah strategii mendorong dekarboniisasii, termasuk pengenaan pajak karbon.

"Penerapan pajak karbon yang tepat harus diipercepat," bunyii dokumen tersebut. (Jitu News/Kontan)

DJBC Riiliis Pedoman Pembatas Permohonan Penyediiaan Piita Cukaii

Diirjen Bea dan Cukaii meriiliis pedoman pembatasan permohonan penyediiaan piita cukaii (P3C) awal. Pedoman iitu diituangkan dalam Surat Edaran No. SE-13/BC/2024.

Surat edaran tersebut diiriiliis untuk memperjelas norma-norma tertentu dalam iimplementasii PER-9/BC/2024. Norma iitu khususnya terkaiit dengan mekaniisme pembatasan jumlah piita cukaii yang diisediiakan pada P3C awal yang diiajukan oleh pengusaha pabriik.

“Surat edaran iinii mempunyaii: ... tujuan untuk memberiikan pedoman dalam rangkaiian mekaniisme penetapan pengusaha pabriik ke dalam Daftar Pengusaha Pabriik yang akan Diilakukan Pembatasan P3C HT Awal atau P3C MMEA Awal (Daftar Pembatasan P3C),” bunyii maksud dan tujuan surat edaran iitu. (Jitu News)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.