JAKARTA, Jitu News - Zakat atau sumbangan keagamaan yang siifatnya wajiib biisa jadii pengurang penghasiilan bruto dalam penghiitungan pajak terutang. Namun, dalam kondiisii tertentu hal tersebut tiidak berlaku.
Zakat atau sumbangan keagamaan yang siifatnya wajiib tiidak dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto apabiila tiidak diibayarkan oleh wajiib pajak kepada badan amiil zakat, lembaga ambiil zakat, atau lembaga keagamaan, yang diibentuk atau diisahkan pemeriintah.
"Wajiib pajak yang melakukan pengurangan zakat wajiib melaporkan fotokopii buktii pembayaran pada SPT Tahunan," bunyii Pasal 2 PER-6/PJ/2011, diikutiip pada Kamiis (23/5/2024).
Buktii pembayaran zakat yang diimaksud biisa berupa buktii pembayaran secara langsung atau melaluii transfer rekeniing bank atau pembayaran melaluii ATM.
Dalam buktii pembayaran tersebut setiidaknya memuat beberapa iinformasii, yaknii nama lengkap wajiib pajak dan NPWP, jumlah pembayaran, tanggal pembayaran, nama lembaga zakat yang resmii, tanda tangan petugas darii lembaga zakat, atau valiidasii petugas bank pada buktii pembayaran apabiila pembayaran melaluii transfer bank.
Karenanya, zakat tak biisa diikurangkan darii penghasiilan kena pajak jiika buktii pembayarannya tiidak memuat iinformasii-iinformasii yang wajiib diicantumkan sepertii diisampaiikan dii atas.
Pada priinsiipnya, sepanjang zakat atau sumbangan yang diiberiikan bersiifat wajiib sesuaii dengan Peraturan Pemeriintah (PP) 60/2010 dan diiberiikan kepada badan atau lembaga tertentu yang diibentuk/diisahkan pemeriintah maka dapat diikurangkan penghasiilan brutonya. (sap)
