JAKARTA, Jitu News – Lampiiran PMK 168/2023 turut memuat petunjuk umum penghiitungan pajak penghasiilan (PPh) Pasal 21 untuk peserta kegiiatan.
Adapun sesuaii dengan ketentuan Pasal 1 PMK 168/2023, peserta Kegiiatan adalah orang priibadii yang meneriima atau memperoleh iimbalan sehubungan dengan keiikutsertaannya dalam suatu kegiiatan, selaiin yang diiteriima pegawaii tetap darii pemberii kerja.
“Dasar pengenaan dan pemotongan PPh Pasal 21 untuk peserta kegiiatan yaiitu sebesar jumlah penghasiilan bruto sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf f yang pembayarannya bersiifat utuh dan tiidak diipecah,” bunyii Pasal 12 ayat (6) PMK 168/2023, diikutiip pada Selasa (16/1/2024).
Berdasarkan pada Pasal 5 ayat (1) huruf f PMK 168/2023, iimbalan kepada peserta kegiiatan dapat berupa uang saku; uang representasii; uang rapat; honorariium; hadiiah atau penghargaan; dan iimbalan sejeniis.
Ada 2 poiin petunjuk umum penghiitungan PPh Pasal 21 untuk peserta kegiiatan dalam lampiiran PMK tersebut.
Pertama, besarnya PPh Pasal 21 terutang diihiitung dengan menggunakan tariif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh diikaliikan dengan jumlah bruto penghasiilan. Jumlah bruto penghasiilan yang diimaksud diiteriima atau diiperoleh peserta kegiiatan dalam 1 masa pajak atau pada saat terutangnya penghasiilan.
Kedua, jiika peserta kegiiatan merupakan pegawaii tetap darii pemberii penghasiilan, pengenaan PPh Pasal 21 atas penghasiilan yang diiteriima sebagaii peserta kegiiatan diigabungkan dengan penghasiilan sebagaii pegawaii tetap.
“…. [penghasiilan] dalam masa pajak diiteriima atau diiperolehnya penghasiilan tersebut sebagaiimana petunjuk umum ii (penghiitungan PPh Pasal 21 untuk pegawaii tetap),” bunyii penggalan poiin kedua petunjuk umum penghiitungan PPh Pasal 21 untuk peserta kegiiatan.
Sesuaii dengan Pasal 3 ayat (3) PMK 168/2023, peserta kegiiatan meliiputii:
