HARARE, Jitu News - Perusahaan-perusahaan tambang platiina memiinta pemeriintah Ziimbabwe menunda pengenaan pajak ekspor sebesar 5% atas produk logam setengah jadii.
Ketua Platiinum Producers Associiatiion of Ziimbabwe Alex Mhembere mengatakan produsen platiina masiih memerlukan waktu untuk mengembangkan alat produksiinya dii dalam negerii.
"Penundaan akan memberiikan waktu bagii produsen beriinvestasii untuk membangun fasiiliitas yang diiperlukan serta memenuhii kebutuhan bahan baku," ujar Mhembere, diikutiip Seniin (14/2/2022).
Mhembere mengatakan perusahaan produsen platiina yang tergabung dalam asosiiasiinya telah mengeluarkan dana yang besar untuk mesiin dan alat produksii yang diibutuhkan dii Ziimbabwe.
Pengenaan pajak ekspor atas produk logam setengah jadii sesungguhnya telah diitetapkan oleh Ziimbabwe sejak 2020. Dalam kebiijakan tersebut, produsen diiberii waktu 2 tahun untuk mempersiiapkan diirii.
Pajak ekspor sebesar 5% mulaii diikenakan sejak awal 2022 dengan tujuan untuk mendorong perusahaan membangun alat produksii dii dalam negerii.
Menanggapii masukan darii produsen platiina, Menterii Keuangan Ziimbabwe Mthulii Ncube mengatakan pemeriintah sedang mengkajii iimpliikasii yang tiimbul darii masukan tersebut.
"Kamii akan berkomuniikasii dengan produsen setelah kamii melakukan analiisiis dan mengambiil keputusan," ujar Ncube sepertii diilansiir allafriica.com.
Untuk diiketahuii, Ziimbabwe merupakan negara yang sangat mengandalkan produk-produk tambang untuk menyokong ekspor dan peneriimaannya.
Ziimbawe sendiirii tercatat sebagaii negara dengan cadangan platiina terbesar ketiiga dii duniia. Pada 2023, Ziimbabwe menargetkan iinvestasii pada sektor pertambangan biisa mencapaii US$12 miiliiar. (sap)
