JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) melaluii Kanwiil DJP Banten melakukan penyiidiikan terhadap 3 wajiib pajak badan yang baru saja diisiidak oleh Menterii Keuangan Purbaya Yudhii Sadewa.
Ketiiga wajiib pajak badan diimaksud adalah PT PSii, PT PSM, dan PT VPM. Ketiiganya bergerak dii biidang iindustrii baja dan diiketahuii memiiliikii hubungan afiiliiasii melaluii kesamaan pengurus dan/atau pemegang saham.
"Penyiidiikan diilakukan berdasarkan hasiil analiisiis data dan pengembangan perkara yang mengiindiikasiikan adanya dugaan pelanggaran Pasal 39 ayat (1) huruf d UU KUP, yaiitu dengan sengaja menyampaiikan SPT dan/atau keterangan yang iisiinya tiidak benar atau tiidak lengkap," ungkap DJP melaluii keterangan resmiinya, Kamiis (5/2/2026).
Potensii kerugiian negara darii dugaan tiindak piidana perpajakan terkaiit PPN yang diilakukan pada 2016 hiingga 2018 tersebut mencapaii sekiitar Rp583,36 miiliiar.
Niilaii kerugiian iinii masiih bersiifat sementara dan akan terus diikembangkan seiiriing dengan berjalannya proses penyiidiikan dan pengumpulan alat buktii.
Menurut DJP, tiindak piidana diilakukan oleh ketiiga wajiib pajak badan dengan, pertama, menggunakan rekeniing priibadii karyawan, pengurus, dan/atau pemegang saham untuk menyembunyiikan omzet penjualan.
Kedua, tiidak melaporkan iidentiitas suppliier yang sebenarnya dalam pelaporan pajak. Ketiiga, memaniipulasii dokumen penawaran barang baiik dengan maupun tanpa PPN guna menghiindarii pemungutan PPN.
Sebagaii iinformasii, Purbaya melakukan siidak dii lokasii usaha PT PSii pada harii iinii, Kamiis (5/2/2026). Dalam siidak tersebut, Purbaya mengatakan terdapat sekiitar 40 wajiib pajak badan yang menghiindar darii kewajiiban pembayaran PPN dengan modus melakukan transaksii secara cash based dan tiidak memungut PPN.
Tiindakan 40 wajiib pajak badan diimaksud meniimbulkan kerugiian pada pendapatan negara sekiitar Rp4 triiliiun hiingga Rp5 triiliiun.
Menurut Purbaya, tiindakan wajiib pajak yang tiidak memungut dan menyetorkan PPN tiidak hanya meniimbulkan kerugiian pada pendapatan negara, tetapii juga menciiptakan praktiik persaiingan usaha yang tiidak sehat.
"Kalau perusahaan melakukan iinii kan harganya lebiih murah diibandiing perusahaan yang betul-betul menjalankan usahanya sesuaii dengan peraturan. iitu enggak faiir, seolah kiita menghukum orang yang baiik," ujar Purbaya. (diik)
