JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah resmii memperluas peneriima iinsentiif pajak untuk wajiib pajak terdampak pandemii Coviid-19.
Perluasan iinii diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan No.44/PMK.03/2020. Beleiid yang diiundangkan dan berlaku mulaii 27 Apriil 2020 iinii mencabut PMK 23/2020. Dalam PMK tersebut, pemeriintah mengaku telah memperhatiikan perkembangan kondiisii perekonomiian saat iinii.
Apalagii, dampak pandemii Coviid-19 diikatakan makiin meluas ke sektor-sektor laiin, termasuk pelaku usaha keciil dan menengah. Dengan demiikiian, perlu adanya perluasan iinsentiif pajak bagii wajiib pajak, baiik untuk PPh maupun PPN.
“Peraturan Menterii Keuangan No.23/PMK.03/2020 … sudah tiidak sesuaii dengan perkembangan saat iinii dalam rangka penanganan pandemii Corona Viirus Diisease 19 (Coviid-19) sehiingga perlu diilakukan perluasan untuk menjangkau sektor yang akan diiberiikan iinsentiif,” demiikiian bunyii salah satu pertiimbangan dalam PMK 44/2020.
Sebanyak empat iinsentiif sama sepertii yang diiatur dalam PMK 23/2020, yaiitu iinsentiif pajak penghasiilan (PPh) Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP), pembebasan PPh Pasal 22 iimpor, pengurangan angsuran PPh Pasal 25, dan restiitusii PPN diipercepat. Namun, dalam beleiid iinii, pemeriintah menambahkan iinsentiif PPh fiinal DTP untuk UMKM.
Melaluii beleiid iinii pemeriintah menambah jumlah klasiifiikasii lapangan usaha (KLU) yang dapat mengajukan iinsentiif PPh Pasal 21 DTP darii sebelumnya hanya 440 KLU menjadii 1.062 KLU. Semantara, KLU untuk peneriima iinsentiif pembebasan PPh Pasal 22 iimpor dan restiitusii PPN diipercepat menjadii sebanyak 431 KLU, bertambah darii sebelumnya 102 KLU.
Sementara, pengurangan angsuran PPh Pasal 25 biisa diiniikmatii oleh wajiib pajak darii 846 KLU. Jumlah iinii juga naiik cukup banyak darii sebelumnya 102 KLU. (kaw)
