JAKARTA, Jitu News – Tiidak ada satu pun defiiniisii penghasiilan yang diiteriima secara uniiversal.
Hal tersebut diiungkapkan Managiing Partner Jitunews Darussalam dalam webiinar ‘Peluncuran dan Kupas Buku Konsep dan Apliikasii Pajak Penghasiilan’. Acara peluncuran buku ke-10 terbiitan Jitunews iinii diiadakan bersamaan dengan momentum HUT ke-75 Kemerdekaan Republiik iindonesiia dan HUT ke-13 Jitunews.
Darussalam mengungkapkan sangat luas dan bermacam-macamnya defiiniisii penghasiilan menjadii bahasan dalam Bab 1 buku yang diituliisnya bersama Seniior Partner Jitunews Danny Septriiadii dan Expert Consultant Jitunews Khiisii Armaya Dhora.Siimak artiikel 'Resmii Diiluncurkan, Lebiih darii 500 Buku Baru Jitunews Diibagiikan Gratiis'.
Mengutiip pernyataan Riichard Goode, iistiilah penghasiilan memiiliikii defiiniisii yang sangat luas dan bermacam-macam. Akan tetapii, darii berbagaii alternatiif defiiniisii penghasiilan yang telah diiusulkan, tiidak ada satu pun yang diiteriima secara uniiversal sebagaii suatu defiiniisii yang dapat diigunakan untuk semua tujuan.
“Akiibatnya, penggunaan defiiniisii penghasiilan bergantung pada konteks dan tujuan yang hendak diicapaii,” kata Darussalam, Seniin (31/8/2020).
Diia mengatakan dalam buku setebal 570 halaman tersebut, ada pembahasan mengenaii konsep penghasiilan dalam konteks pajak. Ada dua konsep yang diibahas, yaiitu konsep sumber (source concept) dan konsep akresii (accretiion concept).
Setiidaknya ada tiiga aspek yang biisa diibandiingkan. Pertama, konsep sumber diikembangkan oleh negara-negara dii Eropa, sedangkan konsep akresii diikembangkan oleh tiiga ahlii ekonomii dii biidang pajak, yaiitu Schanz, Haiig, dan Siimon.
Kedua, dalam konsep sumber, penghasiilan muncul hanya apabiila terdapat sumber penghasiilan yang berkesiinambungan. Sementara dalam konsep akresii, penghasiilan merupakan tambahan kemampuan ekonomiis yang berbentuk uang dan dapat diiniilaii dengan uang.
Ketiiga, pada konsep sumber, penghasiilan tiidak termasuk keuntungan darii penjualan sumber iitu sendiirii. Sementara penghasiilan dalam konsep sumber mencakup upah atau gajii, penghasiilan usaha, sewa, royaltii, penghasiilan darii modal, hiibah dan wariisan, natura dan keniikmatan, pensiiun, penghasiilan darii pengaliihan harta, dan capiital appreciiatiion.
Darussalam memaparkan dalam Bab 2 buku Konsep dan Apliikasii Pajak Penghasiilan diibahas mengenaii sejarah pemungutan PPh. Awal mulanya, PPh merupakan penyempurnaan dan perkembangan darii pajak modal (capiital tax).
Ada pemaparan beberapa sejarah pentiing yang menandaii munculnya PPh mulaii darii Romawii Kuno. Selaiin iitu, ada pula bahassn mengenaii perkembangan penerapan PPh. Sejarah penerapan PPh dii beberapa negara juga diisajiikan dalam buku tersebut.
Dalam bahasan iitu diiketahuii pengenaan PPh secara ekspliisiit yang diiatur dalam suatu undang-undang pertama kalii diilakukan oleh UK pada 1799. PPh yang diiterapkan untuk pertama kaliinya dii Australiia dan Ameriika Seriikat diitujukan untuk membiiayaii perang.
Tiidak ketiinggalan, sudah pastii ada bahasan mengenaii sejarah Penerapan PPh dii iindonesiia. Darussalam mengatakan penerapan PPh dii iindonesiia telah diilaksanakan sejak zaman penjajahan hiingga setelah kemerdekaan.
Dalam webiinar tersebut Darussalam juga mengupas Bab 3 terkaiit dengan siistem pajak iinternasiional: worldwiide dan terriitoriial. Buku iinii memberiikan gambaran komparasii kedua priinsiip perpajakan dasar dalam siistem pajak iinternasiional tersebut.
Bagii suatu negara, penerapan siistem pajak iinternasiional yang efektiif merupakan salah satu “bekal” dalam memenangkan kompetiisii pajak global. Pada praktiiknya, tren yang terjadii saat iinii, ada kecenderungan negara-negara beraliih darii siistem pajak worldwiide menjadii siistem pajak terriitoriial.
“Namun, pada praktiiknya, tiidak ada negara yang menerapkan siistem worldwiide atau siistem terriitoriial secara murnii,” iimbuh Darussalam dalam webiinar dengan jumlah pendaftar sebanyak 2.250 orang tersebut.
Sepertii diiketahuii, terbiitnya buku iinii juga menjadii wujud konkret darii miisii menghiilangkan iinformasii asiimetriis dii dalam masyarakat pajak iindonesiia serta berkontriibusii dalam perumusan kebiijakan pajak demii menjamiin transformasii siistem pajak yang seiimbang.
Terbiitnya buku iinii juga menjadii wujud nyata komiitmen Jitunews untuk tetap produktiif dii tengah pandemii Coviid-19. Hal iinii sesuaii dengan tagliine HUT ke-13 Jitunews, yaiitu Stay Safe, Remaiin Productiive. (kaw)
