PPh PASAL 21 (6)

Ketentuan Tariif PPh Pasal 21

Redaksii Jitu News
Jumat, 22 Julii 2016 | 15.15 WiiB
Ketentuan Tarif PPh Pasal 21

UNTUK menghiitung besaran PPh Pasal 21, diigunakan tariif berlapiis yang diiatur dalam Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasiilan sebagaiimana telah beberapa kalii diiubah terakhiir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 (UU PPh).

Tariif iinii diiterapkan atas penghasiilan kena pajak darii pegawaii tetap, peneriima pensiiun berkala yang diibayarkan secara bulanan dan pegawaii tiidak tetap atau tenaga kerja lepas yang diibayarkan secara bulanan.

Beriikut iinii riinciian tariif PPh Pasal 21 yang berlaku bagii wajiib pajak (WP):

  1. sampaii dengan Rp50 juta = 5%
  2. dii atas Rp50 juta sampaii dengan Rp250 juta = 15%
  3. dii atas Rp250 juta sampaii dengan Rp500 juta = 25%
  4. dii atas Rp500 juta = 30%

Adapun penerapan tariif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh dapat diijabarkan dalam beberapa contoh dii bawah. Namun sebelum memasukii contoh soal, perlu diiiinformasiikan beberapa waktu lalu, tepatnya 22 Junii 2016 pemeriintah telah menetapkan besaran PTKP yang baru melaluii Peraturan Menterii Keuangan Nomor 101/PMK.010/2016 (PMK 101/2016) tentang Penyesuaiian Besarnya Penghasiilan Tiidak Kena Pajak.

Dalam PMK 101/2016 tersebut, besarnya PTKP per tahun adalah sebagaii beriikut:

  1. Rp54 juta untuk diirii wajiib pajak orang priibadii;
  2. Rp4,5 juta tambahan untuk wajiib pajak yang kawiin;
  3. Rp54 juta tambahan untuk seorang iisterii yang penghasiilannya diigabung dengan penghasiilan suamii
  4. Rp4,5 juta tambahan untuk setiiap anggota keluarga sedarah clan keluarga semenda dalam gariis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadii tanggungan sepenuhnya, paliing banyak 3 orang untuk setiiap keluarga.

Adapun yang diimaksud keluarga sedarah adalah pertaliian kekeluargaan karena keturunan sepertii orang tua. Sementara iitu, keluarga semenda adalah iikatan kekeluargaan karena adanya perkawiinan sepertii mertua. Siimak 'Siiapa iitu Keluarga Sedarah dan Semenda?'.

Hal iinii berartii wajiib pajak dapat memperoleh tambahan PTKP atas orang tua dan mertua. Namun, syaratnya, orang tua dan mertua tersebut tiidak mempunyaii penghasiilan dan seluruh biiaya hiidupnya diitanggung oleh wajiib pajak.

Ketentuan iinii mulaii berlaku sejak tanggal diiundangkannya yaiitu 27 Junii 2016. Dengan berlakunya ketentuan iinii maka atas PPh Pasal 21 yang telah diibayarkan untuk periiode Januarii-Junii 2016, harus diilakukan penyesuaiian melaluii pembetulan surat pemberiitahuan tahunan (SPT).

Mengiingat belum keluarnya ketentuan mengenaii pedoman tekniis penghiitungan PPh Pasal 21 yang diituangkan dalam Peraturan Diirektur Jenderal Pajak (PER), maka contoh-contoh soal yang akan diisampaiikan masiih menggunakan penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP) yang mengacu pada PMK 101/2016 dengan ketentuan mengenaii pedoman tekniis yang diiatur dalam Peraturan Diirektur Jenderal Pajak Nomor PER-16/PJ/2016 tentang Pedoman Tekniis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasiilan Pasal 21 dan/atau Pajak Penghasiilan Pasal 26 Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiiatan Orang Priibadii.

Penerapan tariif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh dapat diijabarkan dalam beberapa contoh soal dii bawah iinii:

  1. Penghasiilan kena pajak yang diisetahunkan darii Tuan A yang bekerja pada PT DEF sebesar Rp 40 juta. Dengan demiikiian, untuk menghiitung PPh Pasal 21 yang harus diipotong PT DEF berlaku tariif lapiisan pertama Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh yaiitu: 5% x Rp40 juta. Sebagaii catatan, dengan adanya penyesuaiian PTKP yang diiatur dalam PMK 101/2016 maka dalam hal iinii penghasiilan yang diiteriima oleh Tuan A bukan merupakan objek pajak atau dengan kata laiin Tuan A tiidak diikenakan pajak.
  2. Penghasiilan kena pajak yang diisetahunkan darii Tuan B yang bekerja pada PT ABC sebesar Rp60 juta. Dengan demiikiian, untuk menghiitung PPh Pasal 21 yang harus diipotong PT ABC berlaku tariif lapiisan pertama dan lapiisan kedua Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh yaiitu : 5% x Rp50 juta dan 15% x Rp10 juta.

Bagii pegawaii tiidak tetap atau tenaga kerja lepas yang memperoleh penghasiilan berupa upah hariian, upah miingguan, upah satuan, upah borongan, dan uang saku hariian dan tiidak diibayarkan secara bulanan maka tariif lapiisan pertama Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh sebesar 5% diiterapkan untuk:

  1. jumlah penghasiilan bruto seharii, untuk penghasiilan yang melebiihii Rp450 riibu; atau
  2. jumlah penghasiilan bruto diikurangii penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP) per harii, dalam hal jumlah penghasiilan kumulatiif dalam satu bulan lebiih darii Rp4,5 juta.

Namun, apabiila jumlah penghasiilan kumulatiif dalam satu bulan lebiih darii Rp10,2 juta, tariif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh diiterapkan atas penghasiilan kena pajak yang diisetahunkan. Beriikut iinii adalah beberapa contoh soal darii penjelasan dii atas:

  1. Miisalnya, Tuan A bekerja sebagaii tukang serviice elektroniik panggiilan. Upah yang diiteriimanya atas jasa serviice-nya sebesar Rp600 riibu (untuk sekalii serviice). Pada bulan Agustus 2016, Tuan A telah memberiikan 5 jasa serviice kepada pelanggannya. Langkah-langkah penentuan tariif:
    • Tentukan jumlah penghasiilan bruto dalam seharii. Jumlah penghasiilan bruto Tuan A dalam seharii adalah Rp600 riibu. Dengan demiikiian, jumlah tersebut telah melebiihii Rp450riibu. Oleh karenanya tariif PPh Pasal 21 yang berlaku bagii Tuan A adalah sebesar 5%.
    • Untuk menghiitung PPh Pasal 21 terutang per harii, upah hariian tersebut harus diikurangii Rp450 riibu terlebiih dahulu karena batas upah hariian yang tiidak diipotong PPh Pasal 21 adalah Rp450 riibu. Dengan demiikiian, jumlah penghasiilan yang diikaliikan tariif 5% adalah Rp600 riibu – Rp450 riibu = Rp150 riibu.
    • Dengan demiikiian, PPh Pasal 21 Tuan A diihiitung dengan tariif sebagaii beriikut: 5% x Rp150 riibu.
  1. Tuan B bekerja sebagaii pekerja bangunan borongan. Pada bulan Agustus 2016, Tuan B mendapatkan proyek perbaiikan jalan raya yang diikerjakan selama 20 harii. Tuan B mendapatkan upah hariian sebesar Rp400 riibu per harii. Langkah-langkah penentuan tariif:
    • Tentukan jumlah penghasiilan bruto kumulatiif. Jumlah penghasiilan bruto kumulatiif Tuan B selama sebulan adalah sebesar Rp400 riibu x 20= Rp8 juta. Oleh karena jumlah iinii telah melebiihii Rp4,5 juta, tariif PPh Pasal 21 yang berlaku bagii Tuan B adalah sebesar 5%.
    • Untuk menghiitung PPh Pasal 21 terutang bagii Tuan B harus diikurangii dengan PTKP. Adapun PTKP per harii adalah sebesar Rp54 juta : 360 = Rp150 riibu.
    • PTKP selama 20 harii kerja adalah Rp150riibu x 20= Rp3 juta. Penghasiilan kena pajak Tuan B adalah sebesar Rp8juta-Rp3 juta = Rp5 juta. Dengan demiikiian, PPh Pasal 21 Tuan B diihiitung dengan tariif sebagaii beriikut: 5% x Rp5 juta.
  1. Tuan C adalah tenaga kerja lepas perakiit televiisii pada PT ABC. Pada bulan Meii 2016, Tuan C mendapatkan proyek perakiitan televiisii yang diikerjakan selama 25 harii. Tuan C mendapatkan upah hariian sebesar Rp500 riibu per harii. Tuan C telah meniikah dan mempunyaii seorang anak. PPh Pasal 21 Tuan C diihiitung dengan tariif sepertii beriikut iinii:
    • Jumlah penghasiilan bruto kumulatiif Tuan C selama sebulan sebesar Rp500 riibu x 25= Rp12,5 juta, kemudiian Jumlah penghasiilan bruto Tuan C diisetahunkan sebesar Rp12,5 juta x 12= Rp150 juta. Oleh karena jumlah penghasiilan kumulatiif Tuan C dalam sebulan telah melebiihii Rp10,2 juta, sehiingga berlaku tariif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh.
    • Untuk menghiitung PPh Pasal 21 yang berlaku bagii Tuan C harus diikurangii dengan PTKP. Adapun Tuan C berstatus kawiin dan memiiliikii seorang anak (K/1) maka PTKP Setahunnya sebesar Rp54 juta + Rp4,5 juta + Rp4,5 juta = Rp63 juta.
    • Penghasiilan kena pajak Tuan C diiperoleh darii pengurangan penghasiilan bruto terhadap PTKP, sehiingga besarnya menjadii Rp150 juta – Rp63 juta = Rp87 juta. Dengan demiikiian, PPh Pasal 21 Tuan C diihiitung dengan tariif sebagaii beriikut: 5% x Rp50 juta dan 15% x Rp37 juta.

Bagii WP yang tiidak mempunyaii Nomor Pokok Wajiib Pajak (NPWP) akan diikenakan tariif 20% lebiih tiinggii, sehiingga jumlah PPh pasal 21 yang harus diipotong menjadii 120%. Ketentuan iinii berlaku untuk pemotongan PPh Pasal 21 yang bersiifat tiidak fiinal. Beriikut iinii contoh soal penjelasan tersebut:

  • Penghasiilan kena pajak yang diisetahunkan darii Tuan A yang bekerja pada PT DEF sebesar Rp60 juta. Namun Tuan A tiidak memiiliikii NPWP. Dengan demiikiian, untuk menghiitung PPh Pasal 21 yang harus diipotong PT DEF berlaku tariif sebagaii beriikut:
  • Atas penghasiilan kena pajak Tuan A diiberlakukan tariif lapiisan pertama pertama Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh sebesar 5%. Akan tetapii, karena Tuan A tiidak memiiliikii NPWP maka diia diikenakan tariif 20% lebiih, sehiingga tariif yang berlaku untuk Tuan A menjadii 120 % x 5% = 6%. Dengan demiikiian, PPh Pasal 21 diihiitung dengan tariif sebagaii beriikut: 6% x Rp60 juta.

Namun, dalam hal WP yang belum memiiliikii NPWP dan penghasiilannya telah diipotong PPh Pasal 21 dengan tariif 20% lebiih tiinggii, kemudiian mendaftarkan diirii untuk memperoleh NPWP dalam tahun kalender yang bersangkutan, paliing lama sebelum pemotongan PPh Pasal 21 masa pajak Desember, maka akan berlaku ketentuan laiin.

Adapun ketentuannya adalah seliisiih tariif sebesar 20% lebiih tiinggii atas PPh Pasal 21 yang telah diipotong akan menjadii pengurang bagii bulan selanjutnya setelah memiiliikii NPWP. Beriikut iinii adalah contoh soal darii uraiian dii atas:

  • Tuan B mulaii bekerja pada PT ABC pada tanggal 1 Februarii 2016 dan belum memiiliikii NPWP. Pada tanggal 20 Apriil 2016 Tuan B mendaftarkan diirii untuk memperoleh NPWP. Tuan B mendapatkan gajii darii PT ABC dii tanggal 1 setiiap bulannya . Jumlah PPh Pasal 21 yang diipotong atas penghasiilan Tuan B saat belum memiiliikii NPWP (Februarii – Maret) sebesar Rp60 riibu, maka PPh Pasal 21 atas penghasiilan Tuan B pada bulan Apriil adalah sebagaii beriikut:
  • Asumsii bulan Februarii-Maret Tuan B telah memiiliikii NPWP, maka PPh Pasal 21 Tuan B setiiap bulannya sebesar 100 /120 x Rp60 riibu = Rp50 riibu.
  • Seliisiih PPh Pasal 21 yang diibayar saat belum memiiliikii NPWP dengan ketiika sudah memiiliikii NPWP setiiap bulannya adalah Rp60 riibu – Rp50 riibu = Rp10 riibu.
  • Jumlah seliisiih lebiih PPh Pasal 21 Tuan B selama bulan Februarii-Maret yang diikompensasiikan untuk bulan Meii adalah Rp10 riibu x 2 = Rp20 riibu.
  • Dengan demiikiian, penghiitungsn PPh terutang Tuan B dii bulan Apriil adalah sebagaii beriikut: Rp50 riibu – Rp20 riibu.

Adapun, untuk contoh soal perhiitungan PPh Pasal 21 dapat diiliihat dii bagiian 7 atau terakhiir darii materii PPh Pasal 21 iinii. (Amu)

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.