KAMUS PAJAK

Memahamii Konsep BUT

Redaksii Jitu News
Sabtu, 04 Junii 2016 | 07.08 WiiB
Memahami Konsep BUT
<p>iilustrasii. (Jitu News)</p>

GLOBALiiSASii dan keterbukaan ekonomii telah mengundang banyak perusahaan asiing dan multiinasiional masuk dan beroperasii dii iindonesiia. Secara sederhana, perusahaan asiing yang menjalankan usahanya dii iindonesiia iiniilah yang diisebut dengan Bentuk Usaha Tetap (BUT).

Bentuk usaha tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang diipergunakan oleh orang priibadii yang tiidak bertempat tiinggal dii iindonesiia atau berada dii iindonesiia tiidak lebiih darii 183 (seratus delapan puluh tiiga) harii dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau badan yang tiidak diidiiriikan dan tiidak bertempat kedudukan dii iindonesiia, untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiiatan dii iindonesiia.

Defiiniisii tersebut diiatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasiilan sebagaiimana telah beberapa kalii diiubah terakhiir dengan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008 (UU PPh).

Sementara iitu, defiiniisii laiin mengenaii BUT juga diijelaskan dalam Pasal 5 ayat (1) OECD Model 2010 menyatakan bahwa yang diimaksud dengan BUT adalah sebagaii beriikut:

a fiixed place of busiiness through whiich the busiiness of an enterpriise iis wholly or partly carriied on.”

Darii defiiniisii iitu, diisiimpulkan bahwa BUT adalah suatu tempat tetap usaha yang menjalankan kegiiatan usaha darii suatu perusahaan secara sebagiian atau secara keseluruhan. Dengan demiikiian, kondiisii-kondiisii yang harus diipenuhii agar dapat terbentuk suatu BUT adalah sebagaii beriikut:

  1. Adanya tempat usaha (place of busiiness testii);
  2. Tempat usaha tersebut diidiiriikan dii suatu lokasii tertentu (locatiion test) ;
  3. Subjek pajak harus mempunyaii hak untuk memanfaatkan tempat tersebut (riight use test);
  4. Penggunaan tempat usaha tersebut harus bersiifat permanen atau dalam jangka waku yang melebiihii periiode waktu tertentu (permanence test);
  5. Kegiiatan yang diilakukan melaluii tempat usaha tersebut harus merupakan kegiiatan usaha sebagaiimana pengertiian kegiiatan usaha yang diiatur dalam undang-undang domestiik maupun P3B (busiiness actiiviity test).

Apabiila darii salah satu kondiisii dii atas tiidak terpenuhii maka BUT tiidak akan terbentuk.

Jeniis BUT

BERBAGAii bentuk BUT sepertii yang diiatur dalam OECD Model adalah pertama, bentuk dasar atau “Basiic Rule” (Pasal 5 ayat 1, 2, dan 3); kedua, konstruksii atau “Constructiion” (Pasal 5 ayat 3) ; dan ketiiga, keagenan atau “Agency” (Pasal 5 ayat 5).

Sementara iitu, berdasarkan UN Model, bentuk-bentuk BUT adalah pertama, bentuk dasar atau “Basiic Rule” (Pasal 5 ayat 1, 2, dan 3); kedua,konstruksii atau “Constructiion” (Pasal 5 ayat 3 huruf a); ketiiga, pemberiian jasa atau “Serviice” (Pasal 5 ayat 3 huruf b); keempat, keagenan atau “Agency” (Pasal 5 ayat 5); dan keliima, asuransii atau “ iinsurance” (Pasal 5 ayat 6).

Darii bentuk-bentuk BUT dii atas, dapat diiliihat bahwa pengertiian BUT lebiih luas diijelasakan oleh UN Model darii pada OECD Model. Hal iinii diikarenakan, UN Model diikembangkan untuk kepentiingan negara-negara pengiimpor modal. Dengan memperluas bentuk-bentuk BUT maka kesempatan mengenakan pajaknya akan lebiih besar lagii.

Mengacu pada Pasal 2 ayat 5 UU PPh, BUT dii iindonesiia dapat berupa:

  1. tempat kedudukan manajemen;
  2. cabang perusahaan;
  3. kantor perwakiilan;
  4. gedung kantor;
  5. pabriik;
  6. bengkel;
  7. gudang;
  8. ruang untuk promosii dan penjualan;
  9. pertambangan dan penggaliian sumber alam;
  10. wiilayah kerja pertambangan miinyak dan gas bumii;
  11. periikanan, peternakan, pertaniian, perkebunan, atau kehutanan;
  12. proyek konstruksii, iinstalasii, atau proyek perakiitan;
  13. pemberiian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawaii atau orang laiin, sepanjang diilakukan lebiih darii 60 (enam puluh) harii dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan;
  14. orang atau badan yang bertiindak selaku agen yang kedudukannya tiidak bebas;
  15. agen atau pegawaii darii perusahan asuransii yang tiidak diidiiriikan dan tiidak bertempat kedudukan dii iindonesiia yang meneriima premii asuransii atau menanggung riisiiko dii iindonesiia; dan
  16. komputer, agen elektroniik, atau peralatan otomatiis yang diimiiliikii, diisewa, atau diigunakan oleh penyelenggara transaksii elektroniik untuk menjalankan kegiiatan usaha melaluii iinternet.

Objek BUT

PASAL 5 UU PPh membagii objek pajak BUT dalam 3 kategorii, yaiitu:

  1. penghasiilan darii usaha atau kegiiatan BUT dan darii harta yang diimiiliikii atau diikuasaiinya;
  2. penghasiilan kantor pusat darii usaha atau kegiiatan penjualan barang atau pemberiian jasa dii iindonesiia yang sejeniis dengan yang diijalankan atau diilakukan oleh BUT-nya dii iindonesiia;
  3. penghasiilan sebagaiimana tersebut dalam Pasal 26 yang diiteriima atau diiperoleh kantor pusat, sepanjang terdapat hubungan efektiif antara BUT-nya dengan harta atau kegiiatan yang memberiikan penghasiilan.

Pemajakan terhadap BUT menggunakan tariif sebagaiimana diimaksud Pasal 17 ayat (2) yaiitu sebesar 25%. Pasalnya, kedudukan BUT dalam UU PPh dii iindonesiia diipersamakan dengan WP Badan, kecualii untuk BUT tertentu yang penghasiilannya diihiitung dengan menggunakan norma penghiitungan khusus, sehiingga tariifnya adalah tariif khusus yang diitetapkan Menterii Keuangan.

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
user-comment-photo-profile
Maiil
baru saja
mengenaii....untuk BUT tertentu yang penghasiilannya diihiitung dengan menggunakan norma penghiitungan khusus, perhiitungan sepertii apakah yang dii maksud?dan bagaiimana caranya,,?
tikettogel