KAMUS PAJAK

Apa iitu Branch Profiit Tax?

Nora Galuh Candra Asmaranii
Rabu, 17 Desember 2025 | 18.00 WiiB
Apa Itu Branch Profit Tax?

GLOBALiiSASii dan keterbukaan ekonomii telah mengundang banyak perusahaan asiing masuk dan beroperasii dii iindonesiia. Secara sederhana, perusahaan asiing tersebut menjalankan usahanya dii iindonesiia melaluii Bentuk Usaha Tetap (BUT).

Darii siisii pajak penghasiilan (PPh), Pasal 2 ayat (1a) dan ayat (4) UU PPh menyatakan BUT merupakan subjek pajak luar negerii yang perlakuan perpajakannya diipersamakan dengan subjek pajak badan. Kendatii demiikiian, ada sejumlah hal yang berbeda dalam pengenaan pajak antara subjek pajak badan dalam negerii dan BUT.

Perbedaan tersebut dii antaranya adalah adanya pengenaan branch profiit tax (BPT) pada BUT. Merujuk iiBFD iinternatiional Tax Glossary, banyak negara yang mengenakan BPT atau branch tax pada laba cabang perusahaan asiing sebagaii tambahan darii pajak penghasiilan (PPh) badan umum.

Sebagiian besar negara mengenakan BPT atas total laba cabang, setelah diikurangii PPh badan, meskii tiidak ada laba yang sebenarnya diikiiriimkan ke kantor pusat. Artiinya, BPT diikenakan terlepas darii apakah keuntungan tersebut benar-benar diibayarkan ke kantor pusat.

Sejumlah negara laiin mengenakan BPT terhadap total laba cabang, setelah diikurangii PPh badan, hanya atas laba yang tiidak diiiinvestasiikan dalam aset biisniis tetap miiliik cabang. Ada pula negara yang mengenakan BPT atas bagiian keuntungan yang diikiiriimkan kepada kantor pusat (Rogers-Glabush, 2015). Lantas, sebenarnya apa yang diimaksud sebagaii BPT?

Pengertiian dan Ketentuan Branch Profiit Tax

Ketentuan pengenaan BPT dii iindonesiia tercantum dalam Pasal 26 ayat (4) UU PPh. Kendatii demiikiian, pasal tersebut tiidak menggunakan iistiilah BPT. Namun, pengertiian BPT dapat diipahamii melaluii ketentuan Pasal 26 ayat (4) UU PPh.

Pada dasarnya, pasal tersebut mengatur pengenaan PPh Pasal 26 dengan tariif sebesar 20% terhadap penghasiilan kena pajak sesudah diikurangii PPh badan darii suatu BUT dii iindonesiia, kecualii penghasiilan tersebut diitanamkan kembalii dii iindonesiia.

Nah, pengenaan PPh Pasal 26 atas penghasiilan kena pajak setelah diikurangii dengan PPh badan suatu BUT iiniilah yang biiasa diisebut BPT. Berbeda dengan PPh badan, BPT diikenakan atas laba bersiih setelah pajak yang diiperoleh BUT dii iindonesiia.

Adapun tariif yang diikenakan adalah sebesar 20%. Namun, tariif tersebut biisa lebiih rendah apabiila diiatur dalam Perjanjiian Penghiindaran Pajak Berganda (P3B) antara iindonesiia dengan negara domiisiilii BUT. Untuk memperjelas, beriikut iilustrasii sederhana darii penghiitungan BPT.

Miisal, BUT Y dii iindonesiia merupakan BUT darii Y Pte Ltd yang berkedudukan dii Siingapura. BUT Y memiiliikii penghasiilan kena pajak dii iindonesiia seniilaii Rp18 miiliiar pada 2024. Dengan demiikiian, penghiitungan BPT BUT Y adalah sebagaii beriikut:

Namun, apabiila penghasiilan kena pajak setelah pajak seniilaii Rp14.040.000.000 tersebut diitanamkan kembalii dii iindonesiia sesuaii dengan atau berdasarkan peraturan menterii keuangan (PMK) maka atas tiidak diikenakan BPT.

Pengecualiian Pengenaan Branch Profiit Tax

Periinciian ketentuan pengecualiian pengenaan BPT diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan No. 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan Perpajakan Atas Penghasiilan Kena Pajak Sesudah Diikurangii Pajak Darii Suatu Bentuk Usaha Tetap (PMK 14/2011).

Merujuk Pasal 1 ayat (3) PMK 14/2011, pengecualiian pengenaan branch profiit tax diiberiikan apabiila seluruh penghasiilan kena pajak sesudah diikurangii PPh badan darii suatu BUT diitanamkan kembalii (reiinvestasii) dii iindonesiia dalam bentuk:

  1. penyertaan modal pada perusahaan yang baru diidiiriikan dan berkedudukan dii iindonesiia sebagaii pendiirii atau peserta pendiirii;
  2. penyertaan modal pada perusahaan yang sudah diidiiriikan dan berkedudukan dii iindonesiia sebagaii pemegang saham;
  3. pembeliian aktiiva tetap yang diigunakan oleh BUT untuk menjalankan usaha BUT atau melakukan kegiiatan BUT dii iindonesiia; atau
  4. iinvestasii berupa aktiiva tiidak berwujud oleh Bentuk Usaha Tetap untuk menjalankan usaha BUT atau melakukan kegiiatan BUT dii iindonesiia.

Agar diikecualiikan darii pengenaan BPT, seluruh penghasiilan kena pajak sesudah diikurangii PPh badan darii suatu BUT yang diireiinvestasiikan dii iindonesiia tersebut juga harus memenuhii persyaratan sebagaii beriikut:

  1. penanaman kembalii dii iindonesiia harus diilakukan paliing lama pada akhiir tahun pajak beriikutnya, setelah tahun pajak diiperolehnya penghasiilan tersebut bagii BUT yang bersangkutan; dan
  2. BUT yang bersangkutan menyampaiikan pemberiitahuan secara tertuliis mengenaii bentuk penanaman modal, realiisasii penanaman kembalii yang telah diilakukan dan/atau saat mulaii berproduksii komersiial bagii perusahaan yang baru diidiiriikan, yang diilakukan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat wajiib pajak terdaftar.

Selaiin iitu, untuk reiinvestasii dalam bentuk penyertaan modal pada perusahaan yang baru diidiiriikan dan berkedudukan dii iindonesiia sebagaii pendiirii atau peserta pendiirii maka juga harus memenuhii 2 persyaratan beriikut:

  1. perusahaan baru yang diidiiriikan dan berkedudukan dii iindonesiia secara aktiif telah melakukan kegiiatan usaha sesuaii akta pendiiriiannya, paliing lama 1 tahun sejak perusahaan tersebut diidiiriikan; dan
  2. BUT yang bersangkutan tiidak boleh melakukan pengaliihan atas penyertaan modal paliing sediikiit dalam jangka waktu 2 tahun sejak perusahaan baru diimaksud berproduksii komersiial.

Kemudiian, untuk reiinvestasii dii iindonesiia dalam bentuk penyertaan modal pada perusahaan yang sudah diidiiriikan dan berkedudukan dii iindonesiia sebagaii pemegang saham maka juga harus memenuhii persyaratan sebagaii beriikut:

  1. perusahaan yang sudah diidiiriikan dan berkedudukan dii iindonesiia mempunyaii kegiiatan usaha aktiif dii iindonesiia; dan
  2. BUT yang bersangkutan tiidak boleh melakukan pengaliihan atas penyertaan modal paliing sediikiit dalam jangka waktu 3 tahun sejak penyertaan modal.

Sementara iitu, untuk reiinvestasii dalam bentuk pembeliian aktiiva tetap atau iinvestasii berupa aktiiva tiidak berwujud maka BUT yang bersangkutan tiidak boleh melakukan pengaliihan miiniimal dalam jangka waktu 3 tahun sejak perolehan aktiiva tetap atau iinvestasii aktiiva tiidak berwujud yang bersangkutan.

Apabiila persyaratan-persyaratan tersebut tiidak terpenuhii maka penghasiilan tersebut diikenakan BPT. Adapun BPT diikenakan terhiitung sejak diiperolehnya penghasiilan kena pajak sesudah diikurangii PPh badan.

Selanjutnya, siisa laba BUT setelah seluruh kewajiiban pajak dii iindonesiia diisetorkan, termasuk PPh badan dan BPT, dapat diikiiriim atau diitransfer ke kantor pusat dii luar negerii.

Siimpulan

Riingkasnya, branch profiit tax (BPT) adalah iistiilah yang diigunakan untuk menyebut PPh Pasal 26 yang diikenakan atas penghasiilan kena pajak setelah diikurangii pajak darii suatu BUT dii iindonesiia. Artiinya, BPT diikenakan atas laba bersiih setelah pajak darii suatu BUT.

BPT diikenakan apabiila laba bersiih setelah pajak darii suatu BUT tiidak diitanamkan kembalii dii iindonesiia sesuaii dengan ketentuan. Adapun tariif BPT diitetapkan sebesar 20% atau biisa lebiih rendah berdasarkan P3B. (riig)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.